Wacana Duet dengan Anies Sangat Dahsyat, tapi Sayangnya Ahok Mungkin Masih Marah
Kredit Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Nama Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali diseret ke dalam satu panggung politik. Kali ini bukan untuk membahas rivalitas keduanya, melainkan munculnya gagasan agar dua figur tersebut justru bersatu demi kepentingan yang lebih besar.
Pakar pemikiran Islam Hasyim Muhammad menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan persatuan Anies-Ahok. Ia menilai keduanya memiliki kesamaan dari sisi karakter pendukung, meski hubungan personal maupun sejarah politik keduanya masih menyisakan persoalan yang tidak sederhana.
"Persatuan Anies-Ahok. Kalau dari sisi pendukung, keduanya sama saja. Pendukung Anies dan Ahok bencinya sundul langit ke lawannya," tulis Hasyim di akun X, dikutip Jumat (4/9/2026).
Baca Juga: Mahfud MD Yakin Prabowo Maju Lagi di Pilpres 2029: Kalau Dia Mencalonkan...
Menurut Hasyim, jika harus menebak siapa yang lebih mungkin membuka pintu rekonsiliasi, Anies dinilai memiliki kecenderungan lebih besar untuk menerima Ahok dibandingkan sebaliknya.
"Tapi kalau boleh menebak, Anies lebih bisa menerima Ahok daripada Ahok menerima Anies," sambung dia.
"Menurut saya, Anies mungkin mau saja dibuatin channel YouTube bareng Ahok. Anies orangnya cenderung santai dan lebih bisa kompromi," katanya.
Namun, persoalan justru dinilai berada di sisi Ahok. Hasyim menduga Ahok masih memiliki kemarahan terhadap Anies, terutama berkaitan dengan pidato Anies ketika pelantikan sebagai Gubernur DKI.
"Sedangkan Ahok, mungkin akan menolak karena masih marah sama Anies, terutama terkait pidato Anies saat pelantikan Gubernur DKI," ujarnya.
"Tapi andai saya bisa bertemu langsung Pak Ahok, saya akan sampaikan bahwa persatuan Ahok-Anies adalah sebuah kekuatan besar untuk persatuan bangsa ini," ungkapnya.
Baca Juga: Purbaya Ogah Lakukan Program Ini Selama Jadi Menkeu: Takut Kualat Nanti Gue Dipecat
Bagi Hasyim, persatuan tersebut akan semakin bermakna apabila Anies dan Ahok sama-sama bersedia melihat kembali kesalahan masing-masing. Rekonsiliasi, menurutnya, bukan berarti menghapus masa lalu, melainkan mengakui bagian yang dianggap keliru.
"Jika mereka berdua bisa bersatu dan mau mengakui apa yang salah dari diri mereka, maka itu akan sangat indah," lanjut Hasyim.
Hasyim kemudian membawa wacana tersebut ke persoalan politik yang lebih luas. Ia mempertanyakan apakah pemerintah saat ini memang perlu “dikalahkan” atau justru dibiarkan, sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan politik yang dilakukan secara terpisah dinilai akan sulit menghasilkan perubahan.
"Sekarang kembali ke mereka berdua, apakah pemerintah sekarang perlu "dikalahkan" atau dibiarkan? Kalau mereka merasa pemerintah sekarang perlu dikalahkan, tapi mereka berdua berjuang sendiri-sendiri, alias tak mau bersatu, ya sudah perjuangan mereka nggak akan berhasil," katanya.
Pertanyaan Hasyim kemudian diarahkan kembali kepada akar persoalan hubungan Anies dan Ahok. Ia mempertanyakan apakah konflik masa lalu memang cukup besar untuk membuat keduanya terus berada di kubu yang berseberangan.
"Kenapa Ahok tidak bisa memaafkan Anies? Apakah dosa Anies (menurut Ahok) lebih buruk dari pemerintahan sekarang? Kenapa Anies tidak bisa memaafkan Ahok? Apakah dosa Ahok (menurut Anies) lebih buruk dari pemerintahan sekarang?" imbuh Hasyim.
"Ahok dan Anies itu sama-sama punya niat baik kepada bangsa ini. Hanya cara mereka berbeda. Keduanya sama-sama orang baik. Kalau mereka (yang sama-sama orang baik) tak bisa bersatu, bagaimana mungkin kita berharap bangsa kita ini bersatu?" tutupnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: