Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Letusan Krakatau 1883: Ketika Bencana dari Selat Sunda Menggetarkan Dunia

Oleh: Wahyu Muryadi - Ketua Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI)

Letusan Krakatau 1883: Ketika Bencana dari Selat Sunda Menggetarkan Dunia Kredit Foto: Rena Laila Wuri
Warta Ekonomi, Jakarta -

KRAKATAU, 1883. Nelayan pesisir Anyer dan Carita terkejut bukan kepalang. Mereka menyaksikan laut berubah warna. Air yang biasanya sewarna biduri pandan bergolak kelabu, memuntahkan bangkai ikan dan mengapungkan batu-batu magmatis yang rapuh. Angin membawa bau belerang yang menusuk hidung, serupa napas naga yang terbangun dari tidur seribu tahun.

Begitulah suasana mencekam ketika Gunung Krakatau meletus pada akhir Agustus 1883. Matahari seolah tak pernah benar-benar terbit di bentang perairan yang memisahkan Jawa dan Sumatra itu. Selat Sunda, selama berbulan-bulan, berubah seperti kuali raksasa yang mendidih di bawah kaki langit.

Gunung Krakatau—yang ketika itu terdiri atas tiga kerucut utama, Perboewatan, Danan, dan Rakata—seolah lama menyimpan gejolak di rahim bumi. Ia bukan lagi sekadar gugusan batu hitam yang ditumbuhi vegetasi tropis, tetapi menjelma menjadi pusat bencana yang siap mengubah wajah kawasan.

Di Batavia, delapan dekade setelah VOC dibubarkan, jarum-jarum telegraf gemetar tanpa henti. Alat deteksi itu merekam denyut bumi yang kian cepat dan tak beraturan. Ada kecemasan yang merayap di dinding-dinding rumah kolonial, firasat buruk yang belum mampu diterjemahkan sepenuhnya oleh nalar manusia zaman itu.

Bumi sedang bersiap untuk sebuah simfoni penghancuran.

Bayangkan sebuah siang yang tiba-tiba direnggut oleh malam pekat. Sekitar pukul 10 pagi pada Senin, 27 Agustus 1883, dentuman yang belum pernah didengar telinga manusia mengguncang angkasa. Itu bukan sekadar suara, melainkan ledakan yang meruntuhkan sebagian besar tubuh Krakatau ke dalam kaldera dan laut di sekitarnya.

Laporan saksi mata, catatan kapal, dan dokumen resmi melukiskan suasana yang melampaui batas imajinasi. Langit seketika menjadi kanvas hitam, tertutup abu, pasir, dan batu apung yang dimuntahkan hingga mencapai lapisan atmosfer yang sangat tinggi.

Angin berkecamuk, membawa hawa panas dan hujan material vulkanik.

Di tengah kekacauan itu, Kapten Johan Lindeman dari kapal Charles Bal mencatat dalam log kapalnya. Ia melukiskan betapa kegelapan total menelan mereka sejak siang hari, disertai hujan batu apung yang menghantam geladak.

Catatan harian bahari yang mencekam ini kemudian diabadikan oleh jurnalis Simon Winchester dalam bukunya yang terkenal, Krakatoa: The Day the World Exploded. Di atas kapal-kapal yang terjebak di Selat Sunda, para pelaut berhadapan dengan suasana yang mereka sendiri sulit pahami.

Runtuhnya sebagian tubuh gunung dan material vulkanik ke laut memicu gelombang tsunami besar. Gelombang tersebut menerjang wilayah pesisir Banten dan Lampung, termasuk Anyer, Merak, Caringin, dan Teluk Betung.

Dari atas kapal Norham Castle, Kapten Sampson menuliskan kesaksian tentang debu dan kegelapan yang begitu pekat hingga mereka kesulitan melihat. Kilatan petir vulkanik terus mencabik langit di atas Krakatau.

Jerit pekik ribuan manusia tenggelam dalam gemuruh air yang bercampur material vulkanik.

Ketika air surut, yang tersisa adalah kehancuran. Tanah dipenuhi puing-puing, sementara jasad korban terbawa dan tertinggal di berbagai tempat.

Dokumen resmi pemerintah Hindia Belanda yang disusun ahli geologi Rogier Diederik Marius Verbeek mencatat angka korban sebanyak 36.417 jiwa. Angka tersebut menjadi angka resmi yang paling sering dikutip dalam catatan sejarah letusan Krakatau 1883.

Kesaksian dari daratan juga terekam melalui penuturan Raden Aria Taia Sukapura, seorang pejabat pribumi yang selamat. Catatannya menggambarkan kepanikan ketika siang berganti gulita. Hujan abu turun seperti salju hitam, menimbun atap rumah, mematahkan dahan pohon, dan memadamkan cahaya.

Ketika Krakatau Menggetarkan Dunia

Drama Krakatau tidak berhenti di pesisir Nusantara. Letusannya meninggalkan jejak di berbagai belahan dunia.

Gelombang tekanan atmosfer dari ledakan terbesar tercatat mengelilingi bumi beberapa kali. Perubahan tekanan udara juga terekam oleh barograf di berbagai stasiun meteorologi, termasuk di Eropa dan Amerika.

Di Pulau Rodrigues, sekitar 4.800 kilometer dari Krakatau, penduduk mendengar suara ledakan dan mengiranya sebagai tembakan meriam dari kapal yang meminta pertolongan.

Peristiwa itu menjadi salah satu contoh paling dramatis tentang bagaimana sebuah letusan vulkanik di satu bagian dunia dapat menghasilkan efek atmosferik yang terdeteksi ribuan kilometer jauhnya.

Namun, dampak Krakatau yang paling panjang mungkin justru hadir di langit.

Debu halus dan gas sulfur dioksida yang terlontar ke atmosfer membentuk aerosol yang memengaruhi penyebaran cahaya matahari. Dunia kemudian mengalami perubahan warna langit yang tidak biasa selama berbulan-bulan setelah letusan.

Suhu global juga mengalami penurunan. Sejumlah kajian memperkirakan pendinginan global setelah letusan berada di kisaran lebih dari satu derajat Celsius dalam periode tertentu.

Di berbagai belahan dunia, matahari terbit dan terbenam menampilkan warna yang tidak biasa. Langit merah, jingga, dan warna-warna tembaga menjadi pemandangan yang banyak dicatat dalam laporan dan karya seni pada masa itu.

Tragedi bahkan melahirkan keindahan visual yang kemudian dikenang dalam sejarah seni.

Guratan warna merah menyala di langit sering dikaitkan dengan latar dalam The Scream, karya pelukis Norwegia Edvard Munch. Astronom Donald Olson dan timnya pernah menganalisis kemungkinan hubungan antara warna langit dalam lukisan tersebut dan fenomena atmosfer akibat letusan Krakatau.

Namun, hubungan itu tetap merupakan interpretasi, bukan fakta yang dapat dipastikan sebagai sumber langsung inspirasi Munch.

Anak yang Lahir dari Kaldera

Lebih dari seabad telah berlalu sejak hari-hari kelam pada 1883.

Di bekas tempat bersemayamnya sang raksasa purba, kini tumbuh sebuah gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau. Gunung ini mulai muncul dari laut pada 1927, di kawasan kaldera yang terbentuk setelah letusan 1883.

Ia terus tumbuh, meletus, dan mengeluarkan aktivitas vulkanik, mengingatkan bahwa rahim bumi tidak pernah benar-benar diam.

Merenungkan letusan Krakatau 1883 adalah sebuah latihan spiritual tentang kepasrahan dan ketidakberdayaan manusia. Di hadapan kekuatan alam, seluruh pencapaian peradaban, kemajuan teknologi telegraf abad ke-19, dan keangkuhan manusia modern dapat runtuh dalam sekejap.

Kita hanyalah pengembara sesaat di atas kulit bumi yang rapuh ini.

Krakatau juga mengajarkan tentang keterhubungan dunia. Sebuah letusan di sebuah selat di Hindia Belanda mampu menghasilkan gelombang tekanan atmosfer yang terdeteksi ribuan kilometer jauhnya, mengubah warna langit di berbagai belahan dunia, dan memengaruhi suhu global.

Kita tidak pernah benar-benar terisolasi. Sebuah perubahan di satu belahan bumi dapat meninggalkan jejak di belahan lainnya.

Tragedi dan keindahan sering kali berjalan beriringan dalam dialektika alam.

Kini, ketika malam turun, air laut berkilauan memantulkan cahaya bintang. Kita seolah masih bisa mendengar bisikan dari masa lalu di Selat Sunda.

Bisikan tentang hari ketika langit runtuh, laut naik ke daratan, dan manusia dipaksa menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kekuatan alam.


Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: