Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

JK Dorong Perubahan Pendidikan Indonesia: Bukan Banyak Bicara, tapi Banyak Tindakan

JK Dorong Perubahan Pendidikan Indonesia: Bukan Banyak Bicara, tapi Banyak Tindakan Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI Jusuf Kalla menilai perubahan menjadi kebutuhan penting dalam dunia pendidikan Indonesia. Menurut JK, perubahan tersebut tidak cukup dibicarakan melalui berbagai gagasan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

JK menyampaikan pandangan itu saat menghadiri Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026) malam. Ia menilai pendidikan harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan zaman dan tantangan yang dihadapi masyarakat.

"Yang dibutuhkan ialah perubahan. Butuh suatu tindakan, bukan banyak pembicaraan, tetapi banyak tindakan di antara kita semua," ujar JK.

Bagi JK, perubahan dalam pendidikan berkaitan dengan cara membentuk manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Karena itu, proses belajar tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian akademis.

Ia menilai kemampuan seseorang tidak cukup diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang mampu dikuasai. Pendidikan juga harus memastikan pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Pandangan itu kemudian ia kaitkan dengan konsep pendidikan holistik. JK memperkenalkan tiga unsur yang menurutnya harus berjalan beriringan, yakni head, heart, and hand.

"Seutuhnya itu dalam pendidikan mulai dari kepala. Jadi tiga H: head, heart, and hand. Otak, kepala, hati untuk akhlak dan juga kecerdasan, dan tangan untuk kemampuan bekerja. Itu lah (pendidikan) holistik, seutuhnya," kata JK.

Unsur head menggambarkan kemampuan berpikir dan memahami pengetahuan, sedangkan heart berkaitan dengan akhlak serta pembentukan karakter. Sementara itu, hand mencerminkan kemampuan praktis yang membuat seseorang mampu bekerja dan menerapkan apa yang telah dipelajari.

Menurut JK, keseimbangan ketiga unsur tersebut penting agar pendidikan tidak menghasilkan lulusan yang hanya kuat secara akademis. Ia menilai kemampuan bekerja harus mulai dibangun melalui proses pendidikan, bukan baru dipelajari setelah seseorang masuk ke dunia kerja.

JK juga menyoroti cara masyarakat memahami kecerdasan. Menurutnya, kemampuan menghafal materi tidak otomatis menunjukkan seseorang memiliki kecerdasan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan.

"Kita harus berbicara tentang logika, harus berbicara tentang inovasi. Jadi mungkin yang tepat kecerdasan, bukan kepintaran. Kalau kepintaran cenderung kepada otak saja, tapi cerdas itu lebih dari itu," ujar JK.

Logika dibutuhkan agar seseorang mampu memahami hubungan sebab akibat ketika menghadapi persoalan. Sementara inovasi diperlukan agar seseorang tidak hanya mengulang pengetahuan yang sudah ada, tetapi mampu menemukan cara baru dalam menyelesaikan masalah.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan kondisi lulusan perguruan tinggi. JK menyebut Indonesia menghasilkan sekitar satu juta lulusan setiap tahun dari sekitar 4.500 institusi pendidikan tinggi.

Baca Juga: Jusuf Kalla Turun Tangan, PMI Siapkan Operasi 3 Bulan Tangani Gempa NTT

Ia mengatakan rata-rata sarjana membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ijazahnya. Dari kondisi tersebut, JK menyebut sekitar tiga juta sarjana menganggur, meski angka itu merupakan perhitungan yang ia sampaikan dan bukan statistik resmi BPS yang disebutkan dalam pernyataannya.

JK juga menilai persoalan lulusan tidak sepenuhnya disebabkan terbatasnya lapangan pekerjaan. Kemampuan lulusan dalam mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan juga menjadi bagian dari tantangan yang harus diperhatikan.

"Mungkin, masih ingat rumus-rumus, tapi tidak bisa melaksanakannya. Karena tangannya tidak kontak dengan otaknya dan tangannya. Tidak seimbang," tutur JK.

Karena itu, perubahan pendidikan menurut JK harus menyentuh proses pembelajaran secara nyata. Pengetahuan, karakter, logika, inovasi, dan keterampilan perlu dibangun secara bersamaan agar lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kesiapan menghadapi kebutuhan kehidupan dan dunia kerja.

Pada akhirnya, JK menekankan bahwa perubahan tidak akan terjadi hanya melalui wacana. Pendidikan membutuhkan langkah konkret dari berbagai pihak agar gagasan mengenai pembentukan manusia yang utuh benar-benar terlihat dalam kemampuan lulusan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama