Kredit Foto: Ist
Dinamika penegakan hukum dan isu keamanan nasional pada masa lalu menjadi sorotan aktivis 98 sekaligus politisi senior Fahri Hamzah. Ia menilai terdapat pola pemanfaatan isu terorisme dan ketakutan publik untuk kepentingan kekuasaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Fahri Hamzah dalam podcast di channel YouTube Sinkos Indonesia bersama Faizal Assegaf yang tayang pada 28 Agustus 2026.
Dalam percakapan itu, Fahri menyoroti fenomena maraknya isu terorisme pada periode sebelumnya. Ia kemudian membandingkannya dengan kondisi setelah Prabowo Subianto menjadi Presiden.
"Mereka-mereka yang jualan isu terorisme itu berkembang sekali dan tiba-tiba setelah Bapak Prabowo jadi presiden, terorisme hilang di Indonesia. Itu kan artinya memang ada apa istilahnya itu terror factory. Jadi seorang penulis... mengatakan ini terror factory. Jadi negara menciptakan teror kepada rakyatnya dengan menciptakan tema-tema yang akan dijadikan untuk meneror dan itu terjadi. Itu mengerikan sekali," tegas Fahri.
Menurut Fahri, pola tersebut berkaitan dengan persekusi dan pengondisian isu keamanan. Ia menyebut kelompok kritis, termasuk aktivis dan tokoh agama, dapat menjadi pihak yang terdampak dari penggunaan isu tersebut.
Fahri juga menilai praktik jual-beli isu terorisme merupakan bentuk penyalahgunaan instrumen kekuasaan yang dapat merugikan masyarakat sipil.
Lebih lanjut, Fahri membandingkan kondisi tersebut dengan situasi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. DIa menilai ketegasan pimpinan nasional yang independen dapat memutus mata rantai pemanfaatan isu keamanan oleh oknum di lingkungan eksekutif.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: