Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Minyak Masih US$90, RATU Optimistis Kinerja 2026 Tetap Terangkat

Harga Minyak Masih US$90, RATU Optimistis Kinerja 2026 Tetap Terangkat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) melihat harga minyak yang masih berada di sekitar US$90 per barel menjadi sentimen positif bagi kinerja perseroan hingga akhir 2026.

Direktur Utama RATU Sumantri mengatakan harga minyak saat ini masih bertahan di level yang relatif tinggi meskipun terdapat proyeksi penurunan pada kuartal IV 2026.

“Yang terjadi hari ini terutama harga minyak masih menyentuh US$90 per barel, sehingga kami melihat sepertinya perusahaan akan menutup sepanjang tahun 2026 dengan menikmati harga minyak yang relatif lebih tinggi dibanding 2025,” kata Sumantri dalam Public Expose RATU, Kamis (10/9).

Menurut dia, kondisi geopolitik global sepanjang tahun ini turut menopang harga minyak. Situasi tersebut menjadi keuntungan bagi perusahaan hulu migas, termasuk RATU, karena perseroan memiliki eksposur terhadap aset yang menghasilkan minyak dan gas.

Dalam materi Public Expose, RATU mencatat harga Brent sempat mencapai US$105 per barel pada 23 Juli 2026 dan berada di kisaran US$95 per barel pada awal September 2026. Sementara itu, Energy Information Administration (EIA) memperkirakan harga Brent pada kuartal IV 2026 berada di sekitar US$78 per barel. 

Dia menilai perkembangan harga pada sisa tahun ini masih sangat bergantung pada situasi konflik dan kondisi pasokan minyak global.

Baca Juga: Emiten Happy Hapsoro (RATU) Percepat Private Placement, Target Dana Rp1,62 Triliun

Baca Juga: Keluarga Hartono Dikabarkan Investasi US$1,4 Miliar di Luar Negeri, Ini Kata Grup Djarum

Baca Juga: Gudang Garam Setop Capex Bandara Dhoho, Siapkan Rp2 Triliun untuk Jalan Tol

"Penutupan Selat Hormuz telah menekan arus minyak global dan menyebabkan defisit pasokan sekitar 1,8 juta barel per hari pada kuartal III-2026," jelas dia.

Dampak harga minyak tersebut juga terlihat dalam kinerja keuangan RATU. Pada semester I 2026, adjusted EBITDA perseroan mencapai US$21,28 juta, naik 38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Manajemen menyebut kenaikan harga crude oil menjadi salah satu faktor yang memperkuat margin perseroan.

Sementara itu, laba bersih RATU mencapai US$15,54 juta, melonjak 102% secara tahunan dari US$7,71 juta pada semester I 2025.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan