- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Anjlok 1,33%! BBCA-BBRI Tertekan, Asing Beralih ke Saham Komoditas
Kredit Foto: Uswah Hasanah
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai investor perlu lebih selektif menghadapi tekanan pasar keuangan domestik yang masih dipengaruhi sentimen global. Strategi tersebut diarahkan pada saham berfundamental kuat dan memiliki arus kas solid, di tengah pelemahan IHSG dan aksi jual investor asing.
IHSG tercatat turun 1,33% ke level 6.589, sementara investor asing mencatatkan jual bersih Rp748 miliar di pasar reguler. Tekanan terutama terlihat pada saham perbankan seperti BBCA dan BBRI yang sebelumnya menjadi salah satu penopang pasar.
Di sisi lain, investor asing masih melakukan akumulasi pada sejumlah saham komoditas, antara lain ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya rotasi parsial menuju saham komoditas dan sektor tertentu.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan sentimen global masih menjadi tantangan bagi pasar domestik.
“Sentimen global masih menantang seiring US10YT mendekati 5%, kenaikan drastis ECB menjadi 2,5%, serta harga minyak yang bertahan tinggi. Namun, transmisi ke pasar domestik sejauh ini relatif terbatas,” ujar Rully.
Dari sisi makroekonomi, rupiah berada di sekitar Rp17.547 per dolar AS, sedangkan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mencapai 7,11%.
Tidak adanya lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang September turut mendorong realokasi likuiditas perbankan ke SBN. Penguatan rupiah memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mengurangi stance defensif dan melonggarkan kondisi likuiditas dalam jangka pendek.
Namun, tekanan harga minyak dan global yields masih membatasi ruang pelonggaran melalui BI-Rate.
Konsumsi Mulai Pulih, tapi Belum Merata
Selain pasar saham, Mirae Asset menyoroti perkembangan konsumsi domestik. Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri mengatakan keyakinan konsumen mulai membaik, meski pemulihannya belum merata.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 naik menjadi 118,5 dari 116,8 pada Juli. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini meningkat menjadi 109,4, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen naik menjadi 127,6.
Namun, terdapat selisih 18,2 poin antara persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ke depan. Hal tersebut menunjukkan konsumen masih lebih berhati-hati dalam melihat kondisi ekonomi saat ini.
“Perbaikan belum terjadi secara menyeluruh. Kelompok pengeluaran Rp4,1–5 juta justru menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan keyakinan, sementara persepsi pasar tenaga kerja melemah pada responden berpendidikan universitas dan pascasarjana,” jelas Novani.
Perubahan juga terlihat pada pola pengelolaan keuangan rumah tangga. Porsi tabungan turun paling besar pada rumah tangga dengan pengeluaran Rp1–4 juta, sementara konsumsi meningkat di hampir seluruh kelompok.
Kondisi tersebut berpotensi menopang permintaan dalam jangka pendek, tetapi penurunan tabungan juga menunjukkan semakin tipisnya buffer keuangan rumah tangga pada segmen tertentu.
Baca Juga: IHSG Anjlok 0,73% ke 6.541,37, 453 Saham Berakhir di Zona Merah
Baca Juga: IHSG Anjlok Lebih dari 1% ke Level 6.506 di Akhir Pekan
Baca Juga: IHSG Ambruk 1,33% ke 6.589, 516 Saham Berguguran
Dengan inflasi sebesar 3,19% secara tahunan, keberlanjutan pemulihan konsumsi akan bergantung pada kemampuan pendapatan masyarakat mengimbangi kenaikan harga.
Menurut Novani, penguatan pendapatan riil, prospek ketenagakerjaan, dan stabilitas inflasi masih diperlukan agar pemulihan konsumsi berlangsung berkelanjutan.
“Karena itu, kami mempertahankan strategi portofolio yang selektif dengan preferensi pada saham berfundamental kuat dan arus kas solid. RDPU tetap menjadi pilihan likuiditas anchor, sementara RDPT tetap favorable untuk akumulasi bertahap seiring membaiknya peluang di pasar obligasi,” tutup Novani.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: