Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Anjlok, Ini yang Harus Dicermati

Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Anjlok, Ini yang Harus Dicermati Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga emas atau XAUUSD berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan pekan depan. Dupoin Futures menilai tekanan bearish semakin kuat setelah muncul pola Head & Shoulder pada grafik harian.

Pola tersebut menjadi sinyal teknikal yang menunjukkan meningkatnya tekanan jual setelah harga emas sebelumnya mengalami penguatan. Selama tekanan jual masih mendominasi, XAUUSD berpeluang bergerak menuju area supportterdekat di level 4.237.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan level 4.237 menjadi area penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Jika tekanan bearishberlanjut, harga emas berpotensi menguji level tersebut pada pekan depan.

"Reaksi harga di sekitar level 4.237 akan menentukan arah pergerakan selanjutnya. Jika support mampu menahan tekanan jual, XAUUSD berpeluang mengalami rebound. Sebaliknya, penembusan kuat terhadap level tersebut dapat membuka ruang pelemahan lebih lanjut," jelasnya. 

Di sisi lain, level 4.409 menjadi resistance penting dalam skenario tersebut. Selama XAUUSD belum mampu mencatatkan penutupan di atas 4.409, tren bearish dinilai masih berpotensi menjadi arah dominan.

Dengan demikian, area 4.237-4.409 menjadi rentang penting yang perlu dicermati pelaku pasar dalam menentukan arah harga emas pekan depan.

Selain faktor teknikal, pergerakan emas juga akan dipengaruhi sejumlah katalis fundamental. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berpotensi menopang permintaan emas sebagai aset safe haven. Meningkatnya ketidakpastian global dapat mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih defensif.

Namun, eskalasi geopolitik juga berpotensi menekan harga emas melalui kenaikan harga energi. Harga minyak yang menembus US$100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.

Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi sehingga berpotensi membuat inflasi bertahan tinggi. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.

Jika tekanan inflasi semakin kuat, pasar dapat memperkirakan suku bunga The Fed bertahan tinggi dalam waktu lebih lama. Ekspektasi tersebut berpotensi menopang dolar AS dan imbal hasil Treasury Amerika Serikat, sekaligus membatasi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Baca Juga: Antam Sukses Jual Emas 18,1 Ton, Sumbang Pendapatan Rp50,39 Triliun

Baca Juga: Prediksi Harga Emas Naik ke Rp 3 Juta Lagi, Kapan Terjadi?

Baca Juga: Harga Emas Antam Melesat Rp31.000, Jadi Rp2.670.000 per Gram

Data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. PPI tercatat naik 0,4% secara bulanan, menunjukkan adanya tekanan pada tingkat harga produsen yang dapat menjadi salah satu pertimbangan pasar dalam membaca arah inflasi berikutnya.

Pergerakan dolar AS, Treasury yield, harga minyak, perkembangan konflik Timur Tengah, serta data inflasi AS selanjutnya akan menjadi faktor yang dapat meningkatkan volatilitas XAUUSD.

Dengan kombinasi teknikal dan fundamental tersebut, Geraldo menilai risiko pelemahan harga emas masih terbuka pada pekan depan. Selama XAUUSD belum ditutup di atas resistance 4.409, tekanan bearish berpotensi tetap dominan dengan target pengujian level 4.237.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: