Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Antam Sukses Jual Emas 18,1 Ton, Sumbang Pendapatan Rp50,39 Triliun

Antam Sukses Jual Emas 18,1 Ton, Sumbang Pendapatan Rp50,39 Triliun Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) atau Antam membukukan penjualan emas sekitar 18,1 ton sepanjang semester I-2026. Penjualan komoditas logam mulia tersebut menghasilkan pendapatan sekitar Rp50,39 triliun dan menjadi salah satu penopang utama kinerja perseroan pada paruh pertama tahun ini.

Secara keseluruhan, Antam mencatat pendapatan Rp62,71 triliun dan laba bersih Rp6,91 triliun pada semester I-2026. Kinerja tersebut didukung oleh optimalisasi operasional serta pengelolaan portofolio komoditas, terutama emas, nikel, dan bauksit.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira mengatakan, bisnis emas memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perseroan di tengah dinamika pasar komoditas.

“Kinerja bisnis emas memberikan kontribusi positif bagi ANTAM pada semester I-2026. Ke depan, kami akan terus mencermati dinamika pasar dan menjaga fleksibilitas strategi bisnis, termasuk melalui penguatan rantai pasok, kapabilitas pengolahan dan manufaktur, serta pengembangan pasar,” ujar Arini dalam Public Expose Live 2026, Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Untuk memperkuat bisnis emas, Antam terus mengoptimalkan rantai nilai mulai dari pasokan bahan baku, pengolahan dan manufaktur hingga akses pasar. Perseroan juga menyiapkan pengembangan fasilitas manufaktur Logam Mulia di Gresik dengan proyeksi kapasitas sekitar 30 ton per tahun.

Fasilitas tersebut saat ini masih berada pada tahap prakonstruksi. Pengembangan ini diharapkan memperkuat kapasitas manufaktur sekaligus mendukung Antam dalam memenuhi kebutuhan pasar emas.

Emas Jadi Penopang Utama

Besarnya kontribusi bisnis emas tercermin dari perbandingan antara penjualan emas dan total pendapatan perseroan. Dari pendapatan Antam sebesar Rp62,71 triliun pada semester I-2026, sekitar Rp50,39 triliun berasal dari bisnis emas.

Dengan demikian, emas menjadi salah satu motor utama kinerja Antam sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Perseroan tetap mencermati perkembangan pasar untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan volume penjualan dan keberlanjutan rantai pasok.

Di sisi lain, Antam terus mengoptimalkan portofolio nikel dan bauksit sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis.

Pada komoditas nikel, perseroan membukukan produksi bijih sekitar 7,78 juta wet metric ton (wmt) dan penjualan sekitar 6,77 juta wmt sepanjang semester I 2026. Seluruh penjualan bijih nikel tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Antam juga melanjutkan pengembangan hilirisasi nikel yang mencakup rantai bisnis dari pertambangan, RKEF dan HPAL, hingga material serta sel baterai untuk mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Sementara pada komoditas bauksit, perseroan memperkuat integrasi rantai nilai dari pertambangan hingga produk alumina. Antam memiliki tambang bauksit di Tayan serta fasilitas Chemical Grade Alumina (CGA) melalui PT Indonesia Chemical Alumina dengan kapasitas terpasang 300 ribu ton per tahun.

Baca Juga: Investor Asing Cabut Rp1,31 Triliun dari BEI, ANTM dan CUAN Justru Diborong

Baca Juga: Beban Keuangan ANTAM Melonjak 757% pada Semester I 2026

Baca Juga: Vale Optimistis Capai Target Produksi Nikel Minimal 67.645 Ton di 2026

Perseroan juga memiliki 40% kepemilikan pada fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) Mempawah dengan kapasitas terpasang 1 juta ton per tahun.

Di tengah ekspansi bisnis dan pengembangan hilirisasi, Antam tetap menjaga kondisi keuangan. Hingga semester I-2026, perseroan memiliki total aset Rp61,27 triliun, ekuitas Rp38,53 triliun, serta kas dan setara kas Rp9,23 triliun.

Arini mengatakan perseroan akan menjaga keseimbangan antara ekspansi, disiplin investasi, dan pengelolaan risiko.

"Antam akan terus mengoptimalkan portofolio emas, nikel, dan bauksit serta mengembangkan hilirisasi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang. Dengan fundamental yang solid dan pengelolaan bisnis yang prudent, kami optimistis dapat terus menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham, masyarakat, dan negara,” tutup Arini.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan