Kredit Foto: Istimewa
Pakar komunikasi politik Effendi Gazali menyoroti pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang memunculkan wacana kemungkinan Pemilu digelar lebih cepat dari 2029.
Menurut Effendi, video Budi Arie yang viral menimbulkan tanda tanya besar mengenai posisi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
"Budi Arie videonya tadi (viral). Kalau itu dianggap bersama-sama dengan Pak Jokowi, dalam komunikasi, bola liarnya itu di mana? Bola liarnya adalah kita tidak melihat pidato Pak Jokowi sesudah itu. Atau tanggapan Pak Jokowi sesudah Budi Arie mengatakan, ‘Perasaan saya ini atau analisis saya.’," kata Effendi, dikutip dari tayangan di kanal YouTube Kompas TV, Senin (14/9).
Effendi menegaskan, sebagai warga negara, Budi Arie berhak menyampaikan analisis politiknya. Namun, publik tetap perlu mengetahui apakah Jokowi sejalan dengan pandangan tersebut atau justru berbeda.
"Tapi kan kita enggak pernah melihat Pak Jokowi. Saya belum lihat Pak Jokowi habis itu menanggapi, misalnya ada enggak videonya gitu," tambahnya.
Effendi menilai, klarifikasi dari Jokowi sangat penting agar wacana percepatan pemilu tidak berkembang menjadi spekulasi liar.
"Jadi opini liar seperti itu janganlah dikembangkan," tegasnya.
Dalam forum Bulan Kemerdekaan RI di Jakarta, Budi Arie menyampaikan insting politiknya di hadapan Jokowi. Ia menyinggung kemungkinan pemilu lebih cepat dari 2029, yang langsung disambut sorakan “Siap!” dari para relawan.
"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" ucap Budi Arie.
Baca Juga: PSI Disebut ‘Bayi Politik’ Jokowi, Hersu Prediksi Dampak Fatal Kasus Batu Bara
Lebih jauh, mantan Menteri Koperasi itu menggambarkan kondisi masyarakat saat ini sebagai anomali, lalu membandingkannya dengan masa transisi Orde Baru ke Reformasi 1997–1999, ketika pemilu digelar lebih cepat pada 1999.
"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun 97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya 99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy," tandasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: