Kredit Foto: Istimewa
Peta persaingan merek mobil asal China di Indonesia mulai berubah. Geely yang relatif lebih baru membangun bisnisnya di pasar otomotif nasional berhasil menyalip Wuling dalam penjualan sepanjang Januari-Agustus 2026.
Mengacu pada data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer sepanjang delapan bulan pertama 2026 mencapai 599.491 unit. Angka tersebut tumbuh 20,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 499.315 unit.
Di tengah pertumbuhan pasar tersebut, persaingan antar-merek asal China semakin menarik. Geely mencatatkan wholesales sebanyak 12.510 unit sepanjang JanuariāAgustus 2026.
Capaian tersebut menempatkan Geely di atas Wuling yang membukukan penjualan sebanyak 11.375 unit pada periode yang sama. Dengan demikian, Geely unggul sekitar 1.135 unit dari Wuling.
Posisi tersebut menjadi perkembangan penting mengingat Wuling merupakan salah satu merek China yang lebih dahulu membangun bisnis sekaligus basis produksi di Indonesia.
Wuling telah memiliki fasilitas manufaktur di Cikarang, Jawa Barat. Sementara itu, Geely masih memanfaatkan fasilitas perakitan milik PT Handal Indonesia Motor (HIM) untuk memproduksi kendaraan yang dipasarkan di Indonesia.
Persaingan keduanya juga berlangsung di tengah semakin banyaknya merek China yang masuk ke pasar Indonesia dengan menawarkan kendaraan listrik maupun kendaraan bermesin konvensional.
Geely sendiri membawa sejumlah model ke pasar Indonesia, termasuk Geely EX5 dan sejumlah produk baru yang menyasar segmen kendaraan elektrifikasi.
Di atas Geely dan Wuling, persaingan merek China masih dipimpin BYD. Merek tersebut mencatatkan wholesales sebanyak 37.696 unit sepanjang JanuariāAgustus 2026.
BYD juga mulai memasuki tahap baru dalam pengembangan bisnisnya di Indonesia setelah mengoperasikan fasilitas produksi di Subang, Jawa Barat. Pabrik tersebut berdiri di atas lahan sekitar 126 hektare dengan kapasitas produksi yang dirancang mencapai 150.000 kendaraan per tahun.
Investasi pembangunan pabrik BYD di Subang mencapai sekitar Rp11,2 triliun. Jika ditambah pengembangan fasilitas distribusi, logistik, dan infrastruktur pendukung manufaktur, total investasi BYD di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp16 triliun.
Sementara itu, Jaecoo menjadi merek China dengan penjualan terbesar kedua setelah BYD. Sepanjang Januari-Agustus 2026, Jaecoo mencatatkan wholesales sebanyak 23.834 unit.
Dengan demikian, peta persaingan merek China di Indonesia kini tidak hanya memperlihatkan dominasi pemain besar seperti BYD, tetapi juga munculnya penantang baru yang mulai menggeser posisi merek yang lebih dahulu hadir.
Baca Juga: Geely EX2 Raih Bintang Lima Euro NCAP dan ANCAP
Baca Juga: Ini 10 Mobil Listrik Terlaris Agustus 2026! BYD Atto 1 Ngacir, China Kuasai RI
Baca Juga: Wuling Hadapi Tantangan Baru, Pasar Mobil Listrik Kian Ramai
Perubahan posisi Geely dan Wuling menjadi salah satu indikasinya. Selisih 1.135 unit memang belum terlalu besar, tetapi menunjukkan semakin ketatnya perebutan pasar di antara merek China.
Adapun merek China lainnya masih membukukan penjualan lebih rendah. Chery mencatatkan wholesales sebanyak 7.867 unit, Aion 5.034 unit, Morris Garages (MG) 3.075 unit, Denza 3.001 unit, Xpeng 2.291 unit, dan Jetour 2.198 unit.
Dengan semakin banyaknya merek China yang masuk dan memperluas portofolio kendaraan di Indonesia, persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang lebih dahulu hadir. Kapasitas produksi, investasi, pilihan model, hingga strategi elektrifikasi menjadi faktor yang semakin menentukan posisi masing-masing merek di pasar otomotif nasional.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: