Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Wuling Motors pernah menjadi salah satu pionir kendaraan listrik di Indonesia. Namun, ketika pasar EV tumbuh semakin cepat dan pilihan konsumen makin beragam, status sebagai pemain awal tak lagi cukup untuk menjamin pertumbuhan penjualan.
Pasar yang dulu didominasi mobil listrik berukuran ringkas dan relatif terjangkau kini bergerak ke segmen yang lebih luas. Konsumen mulai mencari EV yang bukan hanya praktis untuk mobilitas perkotaan, tetapi juga mampu menjadi kendaraan utama keluarga dengan kabin lebih lega, jarak tempuh, performa, teknologi, dan fitur yang lebih lengkap.
Perubahan tersebut menjadi tantangan bagi Wuling. Merek asal China ini masih mampu meraih respons kuat ketika menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Salah satunya terlihat dari Wuling Aira EV yang mencatat wholesales 721 unit pada Juli 2026 dan masuk empat besar EV terlaris, di bawah BYD Atto 1, Jaecoo J5, dan Geely EX2.
Kinerja Aira EV juga menonjol di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Dari 3.290 SPK Wuling sepanjang pameran, sebanyak 2.238 unit atau sekitar 68% berasal dari Aira EV. Rinciannya terdiri atas 165 unit Aira EV Standard Range dan 2.073 unit Aira EV Long Range.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa minat konsumen terhadap Wuling belum hilang. Tantangannya adalah bagaimana keberhasilan satu model dapat diperluas menjadi pertumbuhan yang lebih konsisten di tengah persaingan dari BYD, Jaecoo, Chery, Geely, dan merek China lainnya.
Pasar Berubah, Wuling Harus Beradaptasi
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai perubahan kebutuhan konsumen menjadi salah satu tantangan utama Wuling.
"Ketika Air ev masuk pada 2022, Wuling sangat tepat membaca pasar," ujar Yannes kepada media, Jakarta, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, Air ev berhasil mengisi ceruk konsumen yang membutuhkan mobil listrik praktis, kompak, dan terjangkau. Namun, seiring berkembangnya pasar, EV mulai dipandang sebagai kendaraan utama keluarga.
Baca Juga: Mobil Sudah Dibayar Lunas dan Tak Kunjung Diterima, Ini Kata Wuling
Baca Juga: Penjualan Wuling Mulai Tumbuh Sesuai Ekspektasi, Kolaborasi Jadi Kunci
Baca Juga: Geely Salip Wuling, Ini Daftar Merek China Terlaris hingga Juli 2026
Kondisi itu membuat Wuling menghadapi pioneer's dilemma. Sebagai pionir, perusahaan memiliki keunggulan berupa pengalaman, basis pengguna, fasilitas produksi lokal, jaringan distribusi, dan layanan purnajual. Namun, keberhasilan formula lama juga dapat membuat perusahaan terlalu lama bertumpu pada segmen yang sama.
“Keunggulan sebagai pembuka pasar memberi Wuling pengenalan merek, basis pengguna, pabrik, dan jaringan distribusi lebih awal. Namun, keberhasilan tersebut juga mengunci persepsi dan strategi produknya pada formula yang dulu berhasil,” kata Yannes.
Penjualan Wuling Masih Tumbuh
Meski persaingan semakin ketat, penjualan Wuling secara keseluruhan masih mencatat pertumbuhan. Berdasarkan data GAIKINDO, wholesales Wuling mencapai 9.705 unit sepanjang Januari-Juli 2026, naik sekitar 2% dibandingkan 9.519 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut memang masih tipis, tetapi menunjukkan Wuling tetap mampu mempertahankan basis pasarnya.
Marketing Operation Director Wuling Motors Ricky Christian mengatakan pertumbuhan penjualan perusahaan dalam beberapa bulan terakhir sudah sesuai ekspektasi.
“Growth-nya sudah sesuai ekspektasi,” ujar Ricky saat ditemui di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Pekerjaan rumah Wuling kini adalah memperluas pasar di luar kendaraan listrik perkotaan. Menurut Yannes, perusahaan perlu memperkuat posisi sebagai produsen EV yang mampu memenuhi kebutuhan keluarga Indonesia.
Aira EV tetap penting untuk mempertahankan pasar di segmen kendaraan listrik perkotaan. Namun, pertumbuhan berikutnya berpeluang datang dari kendaraan berkapasitas lebih besar, termasuk MPV dan SUV listrik.
Produk seperti Darion EV dan Eksion EV menjadi bagian dari upaya tersebut. Pada Juli 2026, Darion EV mencatat wholesales 219 unit, sementara Eksion EV sebanyak 144 unit.
Di sisi lain, Wuling juga memperkuat kolaborasi dengan mitra pembayaran serta membuka peluang kerja sama dengan perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan pengalaman konsumen.
Dengan pengalaman membangun bisnis di Indonesia sejak 2015, produksi lokal, jaringan dealer sekitar 150 titik, serta basis pengguna yang telah terbentuk, Wuling masih memiliki modal kuat untuk bersaing.
Namun, pertarungan berikutnya bukan lagi soal siapa yang menjadi pionir. Wuling harus membuktikan mampu mengikuti perubahan pasar dan mengubah keberhasilan Aira EV menjadi pertumbuhan yang lebih luas.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: