Dedi Mulyadi Bantah Ada Pelecehan dalam Kasus Wabup Sumedang, Akui Konflik Memang Terjadi
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan tidak menemukan adanya pelecehan seksual dalam persoalan yang menyeret Wakil Bupati Sumedang M Fajar Aldila dan sekretaris pribadinya berinisial R. Namun, Dedi mengakui konflik dan perselisihan di antara pihak-pihak yang terlibat memang terjadi sebelum akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan.
"Kalau isi pelecehan seksual tidak pernah ada," kata Dedi Mulyadi kepada wartawan, Senin (14/9/2026).
Kesimpulan tersebut disampaikan Dedi setelah meminta penjelasan langsung dari pihak-pihak terkait. Ia mengundang Wakil Bupati Sumedang beserta istrinya, Bupati Sumedang, serta sekretaris pribadi Wabup untuk mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.
"Sesuai janji saya, saya sudah mengundang Wakil Bupati Sumedang beserta istri, Bupati Sumedang dan sekpri Wabup. Saya sudah ngobrol lama menanyakan peristiwa apa sih yang sebenarnya," ujar Dedi.
Menurut Dedi, persoalan tersebut tidak berujung pada peristiwa pelecehan seksual seperti narasi yang sebelumnya berkembang. Ia justru menyebut persoalan bermula dari konflik dan perselisihan di antara pihak-pihak yang terlibat.
"Konfliknya ada, perselisihan ada, tapi semuanya sudah diselesaikan secara kekeluargaan," ujar Dedi.
Dengan penyelesaian tersebut, Dedi menilai persoalan yang sempat menjadi perhatian publik kini tidak lagi menjadi masalah. Ia menyebut kasus tersebut sudah dianggap selesai setelah dirinya mendengar penjelasan dari pihak-pihak yang terkait.
"Ini sudah dianggap clear, tidak ada masalah," katanya.
Dedi kemudian menjelaskan salah satu persoalan yang muncul dalam konflik tersebut berkaitan dengan kecemburuan istri Wakil Bupati Sumedang. Saat kejadian, menurut Dedi, istri Fajar Aldila sedang dalam kondisi hamil.
"Jadi setelah saya tanya, pertama memang ada rasa cemburu. Namanya istri Wabup yang lagi hamil ya cemburu sama suaminya," ujar Dedi.
Kecemburuan tersebut, kata Dedi, muncul setelah terdapat interaksi antara Wakil Bupati Sumedang dan R. Ia menyebut interaksi itu berupa bercanda hingga menggoda dan merayu yang kemudian memicu rasa cemburu.
"Yang mendekati sekpri, bercanda, terus kemudian ngegoda, ngerayu. Akhirnya ada rasa cemburu," katanya.
Dedi tidak menguraikan lebih jauh bentuk interaksi tersebut di luar penjelasan yang disampaikannya kepada wartawan. Ia menegaskan bahwa persoalan yang ditemukan dari hasil klarifikasi adalah konflik dan perselisihan, bukan pelecehan seksual.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi juga menyoroti pentingnya menjaga perasaan pasangan dalam sebuah hubungan. Ia menilai persoalan tersebut seharusnya menjadi pelajaran agar setiap pihak lebih memperhatikan dampak dari sikap dan interaksi yang dilakukan.
"Bersalah dari istrinya tidak menjaga perasaan istri," ujar Dedi.
Pernyataan Dedi disampaikan setelah sebelumnya ia berjanji akan mempertemukan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan penjelasan secara langsung. Langkah tersebut dilakukan setelah nama Wakil Bupati Sumedang terseret dalam narasi dugaan penganiayaan dan pelecehan yang melibatkan sekretaris pribadinya.
Baca Juga: Gibran Terancam Tak Dipakai Lagi, Jokowi Diklaim Siapkan Dedi Mulyadi Hadapi Prabowo
Isu tersebut kemudian berkembang di tengah masyarakat dan ikut menjadi perhatian sejumlah pihak. DPRD Sumedang juga disebut turut menyoroti persoalan yang menyeret nama pejabat daerah tersebut.
Di sisi lain, pertemuan antara Achmad dan Jokowi yang menjadi bagian dari konteks persoalan tersebut sebelumnya juga memunculkan berbagai narasi di ruang publik. Namun, berdasarkan klarifikasi Dedi, persoalan yang ia dengar langsung dari pihak-pihak terkait telah diselesaikan secara kekeluargaan.
Dedi kini memastikan persoalan tersebut telah clear dan tidak perlu terus diperpanjang. Ia menegaskan kembali bahwa berdasarkan keterangan yang diterimanya, tidak ada peristiwa pelecehan seksual dalam persoalan tersebut, sementara konflik yang memang terjadi telah diselesaikan oleh pihak-pihak terkait.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: