Pemerintahan Prabowo Disindir Dijalankan Cuma Atas Dasar Firasat, Kerja Menteri Dianggap 'Seni Menebak Keinginan Presiden
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Dinamika perombakan kabinet yang berujung pada pencopotan sejumlah nama besar, termasuk eks Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa, memantik kritik tajam dari pengamat politik Yudi Latif.
Ia melontarkan sindiran keras dengan menyebut pemerintahan saat ini bak "Kabinet Konoha" yang merombak jajaran menterinya bukan berdasarkan kompetisi atau kinerja, melainkan murni urusan loyalitas.
Dalam catatan terbarunya, Yudi menyoroti betapa rapuhnya sistem pengambilan keputusan di lingkaran pusat kekuasaan.
"Presiden mengganti menteri seperti mengganti bidak catur yang dianggap salah langkah. Satu dipecat, satu dipanggil; yang kemarin dipuji, hari ini disingkirkan. Bahkan Purbaya—yang sebelumnya digemakan seolah jawaban atas krisis fiskal—ikut terseret dalam arus pergantian," tulis Yudi Latif.
Lebih jauh, Yudi membedah akar permasalahan dari kebijakan bongkar pasang menteri ini. Ia menilai pemerintahan tidak berjalan dengan peta atau kompas yang mantap, melainkan hanya mengandalkan "firasat" dan metode tambal sulam.
Ia menggarisbawahi bahaya dari lingkaran dalam kekuasaan yang kini terjangkit kultur Asal Bapak Senang (ABS). Dalam kultur ini, informasi yang masuk ke pimpinan pusat sudah mengalami distorsi:
- Kabar buruk disaring dan disembunyikan.
- Kritik diperlunak agar tidak menyinggung.
- Keberhasilan dibesar-besarkan secara berlebihan.
- Kegagalan dicarikan pembenaran yang tidak masuk akal.
"Pemimpin akhirnya bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan kebenaran yang sampai," tegas Yudi.
Bagi Yudi, mengganti wajah menteri tidak akan menyelesaikan kekacauan jika sistem dan arah kebijakan tidak dibenahi. Ia melihat pemerintahan saat ini memiliki agenda dan mimpi yang besar, namun berbanding terbalik dengan integritas, konsistensi, dan kapasitas eksekusinya yang rendah.
Kebijakan negara kini direduksi menjadi sekadar "seni menebak kehendak" pimpinan. Kesalahan yang terjadi hari ini dikoreksi esok hari tanpa pernah dijadikan pelajaran strategis.
"Pemerintahan pun menyerupai kapal dengan terlalu banyak tangan di kemudi. Semua ingin menentukan arah, tetapi tak jelas siapa memastikan tujuan," pungkasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: