Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ubedilah Badrun: Rocky Gerung Sedang Sembunyikan Identitas Bahwa Dirinya Sebenarnya 'Antek-Antek Prabowo'

Ubedilah Badrun: Rocky Gerung Sedang Sembunyikan Identitas Bahwa Dirinya Sebenarnya 'Antek-Antek Prabowo' Kredit Foto: Dok: YouTube Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dosen Ilmu Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai perdebatan antara pakar hukum tata negara Feri Amsari dan filsuf Rocky Gerung mengenai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah membuka perbedaan pandangan politik keduanya.

Ubedilah secara khusus menyoroti pandangan Rocky Gerung yang menyebut pemerintahan Prabowo sedang menjalankan sosialisme. Menurut Ubedilah, narasi tersebut tidak cukup untuk menggambarkan praktik kekuasaan dan ekonomi yang berjalan saat ini.

Ubedilah bahkan menilai narasi mengenai "sosialisme Prabowo" dapat menjadi cara Rocky Gerung menjelaskan sekaligus melindungi posisi politiknya di tengah tudingan bahwa dirinya mendukung pemerintahan Prabowo.

"Tadi saya katakan bahwa itu adalah narasi sebagai tempat persembunyian seorang Rocky Gerung karena Rocky Gerung mau membantah bahwa dia adalah "antek-antek Prabowo". Enggak mungkin dong dia akan menjelaskan posisi politik aslinya itu. Bagaimana kita bisa meyakini atau membenarkan Prabowo sedang menjalankan sosialisme," kata Ubedilah dalam diskusi yang membahas perdebatan tersebut.

Menurut Ubedilah, klaim bahwa Prabowo sedang menjalankan sosialisme perlu dilihat lebih jauh, termasuk sosialisme dalam pengertian dan tradisi pemikiran yang mana.

"Kalau diurai narasi bahwa Prabowo sedang menjalankan sosialisme, itu menurut saya jika diurai tidak benar. Sosialisme yang mana dulu?, Prabowo tidak pernah menemukan pemikiran otentik Prabowo tentang menafsirkan, menganalisis sosisalisme, yang ada narasi heroik, nasionalisme, kedaulatan negara, dan antek-antek asing. Sosialisme itu tidak musuh dengan pihak asing, tapi sosialisme itu dia bermusuhan dengan kapitalisme. Nah Prabowo ketika masuk ke ranah bisnis, itu praktik kapitalisme," ujarnya.

Ubedilah Soroti Praktik Ekonomi Pemerintahan Prabowo

Ubedilah mempertanyakan dasar yang digunakan untuk menyebut pemerintahan Prabowo menjalankan sosialisme. Menurut dia, keberadaan sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) belum cukup menjadi dasar untuk mengategorikan sebuah pemerintahan sebagai sosialis.

Dia justru menilai praktik kekuasaan dan ekonomi yang berjalan di Indonesia saat ini lebih menunjukkan karakter kapitalisme.

"Bagaimana kita bisa meyakini atau membenarkan Prabowo sedang menjalankan sosialisme. Sementara praktik kekuasaan dan praktik ekonomi yang berjalan di republik ini sesungguhnya adalah kapitalisme," kata Ubedilah.

Karena itu, dia menilai penyebutan MBG dan Koperasi Merah Putih sebagai wajah sosialisme perlu diperdebatkan lebih lanjut.

"Jadi aneh kalau kemudian hanya gara-gara membuat MBG dan membuat Koperasi Merah Putih itu dianggap sebagai wajah sosialisme. Saya kira tidak," ujarnya.

Pandangan Ubedilah tersebut muncul setelah perdebatan Feri Amsari dan Rocky Gerung mengenai konsep Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih serta keterlibatan anggota TNI dalam kegiatan pertanian.

Feri Amsari Sebut Bukan Sosialisme, tetapi Fasisme

Sebelumnya, Feri Amsari menolak anggapan bahwa Presiden Prabowo menjalankan sosialisme. Dalam diskusi yang beredar pada September 2026, Feri justru menyebut adanya kecenderungan fasisme dalam praktik pemerintahan.

"Cuma memang gagasan punya kecenderungan sekarang menganggap pak presiden itu betul-betul sosialisme. Saya tidak percaya itu. Yang ada adalah fasisme," kata Feri dalam diskusi tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Feri ketika membahas perdebatan mengenai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Ia menegaskan bahwa kritiknya bukan ditujukan kepada koperasi sebagai konsep ekonomi

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat