Iran Ogah Damai 'Cuma-Cuma', AS dan Dunia Tertekan Harga Minyak
Kredit Foto: Reuters/Lisi Niesner
Ketidakpastian penyelesaian perang Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menekan pasar energi. Penolakan Teheran untuk membuka kembali pembicaraan dengan Washington membuat risiko gangguan pasokan minyak semakin menjadi perhatian.
Iran menegaskan tidak akan melakukan negosiasi dengan AS sebelum seluruh persyaratan yang diajukan dipenuhi. Sikap tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, pada Selasa (15/9/2026), sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan terbuka untuk kembali melakukan pembicaraan.
Penolakan tersebut terjadi ketika aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal. Sebelum perang, rata-rata sekitar 125 kapal melintasi jalur tersebut setiap hari.
Penurunan aktivitas pelayaran meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak dan gas global. Risiko tersebut bertambah setelah sebuah kapal tanker dilaporkan meledak usai menabrak ranjau.
Upaya negara-negara Teluk untuk mencari solusi terkait pengelolaan lalu lintas di Hormuz juga menghadapi hambatan. Pertemuan yang direncanakan antara negara-negara Arab Teluk dan Iran ditunda karena belum tercapai kesepakatan mengenai sejumlah persoalan utama.
Ketidakpastian diplomasi dan gangguan pelayaran langsung tercermin di pasar energi. Harga minyak Brent sempat menembus sekitar US$108 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$103 per barel setelah Iran kembali menegaskan sikapnya terhadap negosiasi dengan AS.
Pasar mencermati kemungkinan konflik berlangsung lebih lama dan mengganggu pasokan minyak dunia. Risiko tersebut terutama berkaitan dengan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang belum kembali ke kondisi normal.
Baca Juga: Lebih Lunak ke Xi Jinping, Trump Izinkan Produsen China Bangun Pabrik Mobil di AS
Trump sebelumnya menyatakan harga bahan bakar dapat turun secara signifikan apabila perang berakhir. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan belum terdapat terobosan diplomatik yang nyata antara Washington dan Teheran.
Iran sebelumnya mengajukan sejumlah persyaratan untuk mengakhiri konflik. Tuntutan tersebut mencakup penghentian perang dan blokade, pencabutan sanksi ekonomi AS, pembukaan akses terhadap aset keuangan Iran yang dibekukan, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: