Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Moody’s Turunkan Outlook Bayan Resources (BYAN) Jadi Negatif, Ini Penyebabnya

Moody’s Turunkan Outlook Bayan Resources (BYAN) Jadi Negatif, Ini Penyebabnya Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Moody's Ratings mempertahankan peringkat Ba1 untuk PT Bayan Resources Tbk (BYAN), tetapi menurunkan prospeknya menjadi negatif dari stabil. Perubahan ini terutama dipicu ketidakpastian persetujuan kuota produksi batu bara.

Assistant Vice President Moody's Ratings Anthony Prayugo mengatakan ketidakpastian tersebut telah mendorong Bayan menyatakan force majeure atas kewajiban pasokan batu bara dari perusahaan milik Low Tuck Kwong.

"Jika tidak segera diselesaikan, ketidakpastian ini dapat membatasi produksi dan menekan laba," kata Prayugo dalam keterangan Moody's, Jumat (18/9/2026).

Manajemen Bayan Resources menyatakan force majeure pada 14 September 2026 setelah persetujuan pemerintah untuk menaikkan kuota produksi belum diperoleh. Moody's menilai persoalan ini dapat mengganggu kemampuan perseroan meningkatkan produksi, sekaligus menekan laba dan arus kas.

Tanpa tambahan kuota, produksi Bayan diperkirakan hanya sekitar 39 juta MT pada 2026, turun tajam dari 68 juta MT pada 2025. Ketidakpastian kuota juga membuat target peningkatan produksi menuju kapasitas sekitar 80 juta MT dalam beberapa tahun ke depan menjadi lebih sulit dipastikan.

Dampaknya berpotensi terasa pada kinerja keuangan. Moody's memperkirakan EBITDA Bayan turun menjadi US$700 juta pada 2026 dari US$1,1 miliar pada 2025. Jika produksi masih 39 juta MT pada 2027, EBITDA bisa kembali turun ke US$400 juta-US$500 juta, dengan asumsi harga jual rata-rata US$48 per MT.

Proyeksi tersebut jauh di bawah ekspektasi sebelumnya, ketika Moody's memperkirakan laba sekitar US$1 miliar per tahun dengan asumsi produksi terus naik menuju 80 juta MT.

Keuangan Masih Jadi Penopang

Meski menghadapi risiko operasional, kondisi keuangan Bayan masih dinilai kuat. Moody's memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA tetap di bawah 0,5 kali dalam dua tahun ke depan karena belanja modal terutama akan dibiayai dari arus kas internal.

Likuiditas juga diperkirakan tetap sangat baik selama 18 bulan ke depan. Per akhir Juni 2026, Bayan memiliki sekitar US$650 juta fasilitas modal kerja berkomitmen yang belum ditarik.

Peringkat Ba1 ditopang posisi Bayan sebagai salah satu produsen batu bara termal terbesar di Indonesia, cadangan tambang panjang, biaya produksi rendah, profitabilitas kuat, serta kebijakan keuangan konservatif.

Namun, dengan outlook negatif, kenaikan rating dinilai tidak mungkin dalam 12-18 bulan ke depan. Outlook dapat kembali stabil jika Bayan mampu memperoleh kuota yang memadai secara konsisten dan menjaga produksi, laba, arus kas, likuiditas, serta kebijakan keuangan konservatif.

Sebaliknya, rating dapat diturunkan jika persoalan kuota atau force majeure berkepanjangan menekan kinerja secara material. Risiko downgrade juga muncul jika kebijakan keuangan menjadi lebih agresif, termasuk akibat leverage atau pembagian kepada pemegang saham yang meningkat maupun eksposur lebih besar kepada pihak berelasi.

Indikator yang dapat memicu downgrade antara lain rasio utang terhadap EBITDA di atas 2,5 kali atau rasio (EBITDA - capex) terhadap beban bunga di bawah 4,5 kali.

3 Anak Usaha Bayan Resources Hadapi Force Majeure

Sebelumnya, sebanyak tiga anak usaha PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik konglomerat Low Tuck Kwong sedang menghadapi keadaan memaksa (force majeure) terkait kewajiban pemenuhan pasokan batu bara berdasarkan perjanjian penyediaan batu bara (Coal Supply Agreement) kepada para pelanggan.

Ketiga anak usaha tersebut yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima.

Baca Juga: Saham Bayan Resources (BYAN) Anjlok Tajam akibat Force Majeure 3 Anak Usaha

Baca Juga: Haji Isam Siap Akuisisi 10 Miliar Saham BYAN Milik Low Tuck Kwong dan Elaine Low

Baca Juga: Saham Bayan Resources (BYAN) Anjlok Tajam akibat Force Majeure 3 Anak Usaha

Direktur Bayan Resources, Low Yi Ngo mengatakan kondisi tersebut terjadi karena persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk ketiga anak usaha perseroan belum diterbitkan. 

Padahal, permohonan persetujuan perubahan RKAB telah diajukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Mengingat ketetapan persetujuan RKAB diperlukan agar anak-anak perseroan dapat menjalankan kegiatan produksi batu baranya secara sah, kondisi saat ini memengaruhi kemampuan perseroan dan anak usaha untuk memenuhi kewajibannya kepada para pelanggannya," ujar Low dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/9/2026).

Sehubungan dengan kondisi tersebut, perseroan bersama ketiga anak usahanya menyampaikan pemberitahuan kepada para pelanggan bahwa keadaan tersebut merupakan peristiwa force majeure.

"Pemberitahuan tersebut telah disampaikan kepada para pelanggan pada 11 September 2026," ungkapnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan