Kredit Foto: Air Asia
Pendiri AirAsia, Tony Fernandes, menyatakan maskapai berbiaya rendah tersebut masih memiliki likuiditas yang kuat untuk menghadapi lonjakan harga avtur. Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran investor terhadap kondisi keuangan AirAsia yang membuat harga sahamnya mendekati level terendah dalam hampir empat tahun.
Dikutip dari Reuters, Jumat (18/9/2026), Fernandes mengatakan AirAsia tengah menyiapkan pendanaan lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp17,5 triliun (kurs Rp17.758 per dolar AS). Sebagian besar dana tersebut akan digunakan untuk membiayai kembali utang yang ada, dengan target penyelesaian pada Desember 2026 atau Januari 2027.
“Kami memiliki likuiditas yang kuat,” kata Fernandes dalam media briefing di Bangkok, Thailand.
Dia menilai kondisi AirAsia saat ini masih jauh lebih baik dibandingkan saat pandemi Covid-19. Saat pandemi, maskapai tidak dapat beroperasi secara normal, sedangkan saat ini penerbangan tetap berjalan dengan permintaan yang tinggi.
Meski demikian, kondisi keuangan AirAsia tetap menjadi perhatian investor dan pemerintah Malaysia. Sebelumnya, Reuters melaporkan pemerintah Malaysia telah meminta Malaysia Airlines dan Batik Air menyiapkan skenario untuk menyerap pangsa pasar domestik AirAsia jika kondisi maskapai memburuk. Saat ini, AirAsia menguasai sekitar 60% pasar domestik Malaysia.
Tekanan terhadap AirAsia terutama berasal dari kenaikan harga avtur akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat. Kenaikan harga bahan bakar tersebut turut meningkatkan biaya operasional maskapai di berbagai negara.
Di AirAsia, biaya bahan bakar melonjak 66% pada kuartal II-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Rata-rata harga bahan bakar yang ditanggung maskapai mencapai US$183 per barel atau sekitar Rp3,24 juta per barel. AirAsia juga tidak melakukan lindung nilai (hedging) atas biaya bahan bakarnya.
Baca Juga: AirAsia Terbelit Utang Rp79,7 Triliun di Tengah Lonjakan Harga Avtur
Baca Juga: AirAsia Goyang usai Rugi Rp3,39 T, Malaysia Bakal Gaet Batik Air dan Malaysia Airlines
Fernandes menyebut kuartal II-2026 sebagai periode tersulit bagi AirAsia. Namun, dia memperkirakan kondisi akan membaik setelah maskapai menyesuaikan tarif penerbangan dengan kenaikan biaya bahan bakar.
Tekanan tersebut tercermin dalam kinerja keuangan AirAsia. Pada kuartal II-2026, maskapai mencatat rugi bersih 830,5 juta ringgit atau sekitar Rp3,59 triliun.
Per 30 Juni 2026, kewajiban lancarnya mencapai 18,4 miliar ringgit atau sekitar Rp79,71 triliun, sementara kas yang tersedia hanya 954 juta ringgit.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: