Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Guru Besar Unair: Ikuti Gaya Trump, Prabowo Nampaknya Benci dengan Pakar

Guru Besar Unair: Ikuti Gaya Trump, Prabowo Nampaknya Benci dengan Pakar Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyentil sejumlah pakar pengkritik pemerintah mendapat respons dari Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Henri Subiakto. Henri menilai sikap tersebut menunjukkan kecenderungan yang disebutnya sebagai anti-intellectualism.

"Prabowo nampaknya tidak suka bahkan benci dengan Pakar, terutama pada mereka yang mengritiknya. Sikap seperti ini sering disebut anti-intellectualism, merujuk pada orang atau pemimpin yang bersikap skeptis, tidak percaya, bahkan bermusuhan terhadap intelektual, akademisi, kaum terdidik, serta kegiatan intelektual yang disebut pakar," tulisnya di akun X, dikutip Minggu (20/9/2026).

"Pakar atau kaum intelektual dianggap sebagai kelompok yang berbeda dari 'rakyat biasa', terlalu teoritis, tidak praktis, atau bahkan berbahaya," sambung dia.

Baca Juga: Prabowo: Saya Bersumpah Melihat Indonesia Sejahtera, Tidak Boleh Ada Orang Lapar

Henri kemudian membawa pembahasan tersebut ke konteks politik modern dan demokrasi. Menurutnya, istilah anti-intellectualism kerap digunakan untuk menggambarkan retorika populis yang menyerang kelompok intelektual.

"Istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan retorika populis dari pemimpin yang aslinya berkarakter otoriter, yang suka menyerang 'elit intelektual' 'profesor' atau 'pakar'. Baginya kaum intelektual itu dianggap 'mengganggu' karena cenderung mempertanyakan kebijakan kekuasaan dan menyebarkan pemikiran kritis," jelasnya.

Ia kemudian mengaitkan pandangan tersebut dengan cara pemerintah merespons kritik. 

"Tidak mengherankan jika selama ini Pemerintahan Prabowo terkesan tidak mendengarkan kritik dan masukan. Karena menganggap Pemerintahlah yg paling benar. Hanya institusinya yang mewakili kebaikan dan kepentingan negara. Sedang kaum intelektual kritis dicap negatif sebagai 'bodoh', melengkapi perbendaharaan kata sebelumnya seperti 'antek asing' dan 'londo ireng'," terang dia.

Baca Juga: Prabowo Tegas: Tak Ada yang Kasihan kepada Indonesia

"Makanya tidak heran, jika orang orang yg ada di sekitar kekuasaan, dipilih yang tidak bicara kritis. Yang penting nurut dan loyal sebagaimana dalam tradisi prajurit atau tentara. Mengabaikan nilai nilai demokratis yg menganggap kritik itu mencerdaskan, mendewasakan, dan membuat pemerintah lebih hati hati dan bijak," sambungnya.

Lebih lanjut, Henri juga mempertanyakan sikap Prabowo yang menurutnya berbeda dengan tradisi intelektual yang dikaitkannya dengan sang ayah, Prof Soemitro Djoyohadikoesoemo. Ia kemudian menghubungkannya dengan gaya komunikasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

"Aneh jika Prabowo tidak suka dengan tradisi intelektual yg kritis seperti bapaknya dulu. Atau inilah gaya retorika Prabowo yg mengikuti gaya komunikasi Donald Trump, pemimpin negara demokrasi tapi berkakter anti demokrasi," ungkapnya.

"Trump dikenal menerapkan gaya komunikasi “Discredit Strategy” yang hobinya suka menyerang dan mendiskreditkan kaum kritis di Amerika Serikat sebagai kelompok yang tidak patriotik," sebut Henri.

Ia kemudian menilai terdapat sejumlah kesamaan dalam gaya komunikasi Prabowo dan Trump, khususnya dalam narasi mengenai perjuangan membesarkan kejayaan negara masing-masing.

"Dia yang mewakili kepentingan negara, sedang pengritiknya dicap sebagai 'Traitor' pengkhianat, penyebar berita bohong dan the enemy of the american people” musuh rakyat AS. Prabowo melakukan hal yang tak banyak beda," pungkasnya.

Pernyataan Henri tersebut muncul setelah Prabowo dalam pidatonya di HUT ke-28 PAN, Jumat (18/9/2026), menyindir sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar. 

"Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pinternya, saking pinternya jadi goblok," sindir Prabowo.

"Ada beberapa, ada beberapa, pakar, saking pakarnya dia melontarkan fitnah saudara-saudara," lanjutnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri