Kredit Foto: Istimewa
Industri alat berat dinilai memiliki ruang kolaborasi yang semakin besar dengan pelaku usaha lokal seiring berkembangnya proyek hilirisasi, industrialisasi, dan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Ketua BPP HIPMI Bidang Sinergitas BUMN, Danantara, dan BUMD, Anthony Leong mengatakan peluang tersebut tidak hanya berada pada penjualan mesin, tetapi juga mencakup pengembangan pemasok, teknologi, pembiayaan, sumber daya manusia, hingga perluasan pasar.
“Mesin penjualan mungkin adalah satu transaksi, tapi ekosistem kuat dapat memberikan nilai selama 10 atau 20 tahun,” kata Anthony dalam T50 Summit of World Construction and Mining Machinery Industry Indonesia Forum, Senin (21/9/2026).
Menurut Anthony, sedikitnya ada lima area yang dapat menjadi ruang kolaborasi antara perusahaan alat berat global dengan pengusaha Indonesia.
Pertama, pengembangan pemasok lokal. Perusahaan global dinilai dapat membantu mengidentifikasi dan meningkatkan kapasitas perusahaan Indonesia agar mampu memenuhi standar yang dibutuhkan industri alat berat.
Kedua, teknologi dan transfer pengetahuan. Kolaborasi tidak hanya diarahkan pada penggunaan mesin, tetapi juga pengembangan teknologi seperti otomasi dan sistem digital yang semakin dibutuhkan dalam operasi pertambangan dan industri.
Ketiga, pendanaan dan leasing. Anthony menilai akses pembiayaan masih menjadi tantangan karena alat berat membutuhkan modal besar. Di sisi lain, banyak perusahaan Indonesia memiliki proyek dan peluang bisnis yang membutuhkan dukungan permodalan.
Keempat, pengembangan kemampuan dan sertifikasi. Menurut Anthony, investasi di sektor alat berat juga perlu dibarengi peningkatan kompetensi teknisi, operator, dan tenaga pengajar agar memenuhi standar internasional.
Kelima, pengembangan pasar. Anthony melihat Indonesia bukan hanya dapat menjadi pasar bagi perusahaan alat berat global, tetapi juga basis bagi perusahaan lokal untuk berkembang ke pasar Asia Tenggara.
Peluang tersebut semakin terbuka seiring agenda hilirisasi dan industrialisasi. Anthony mengatakan pembangunan fasilitas pengolahan baru akan menciptakan kebutuhan yang lebih luas terhadap konstruksi, alat berat, konektivitas, data, hingga tenaga kerja terampil.
Baca Juga: Kemenperin Siapkan Reimbursement hingga Rp1 Miliar untuk Modernisasi Mesin Industri Agro
Baca Juga: Menperin Agus Gumiwang Bidik Indonesia Jadi Pusat Industri Halal Dunia
“Ketika kita bicara tentang downstreaming, kita tidak hanya harus memikirkan komoditas, kita harus memikirkan nilai industri yang lebih tinggi untuk OEM, untuk kontraktor, untuk perusahaan teknologi, dan yang penting untuk Indonesia dan perusahaan,” ujarnya.
Anthony juga mendorong perusahaan global yang masuk ke Indonesia untuk melihat kemitraan dengan pelaku usaha lokal dalam jangka panjang. Menurutnya, pengusaha Indonesia perlu dibantu memahami standar industri agar dapat berkembang menjadi pemasok yang mampu bersaing.
Ia menilai pola kerja sama semacam itu akan membuat investasi tidak hanya menghasilkan aktivitas bisnis, tetapi juga membangun kapasitas industri di dalam negeri.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan