- Home
- /
- New Economy
- /
- CSR
Spirit of Challenge 2026 BPK PENABUR Jakarta: Belajar Disiplin Lewat Kue Kucur
Kredit Foto: Istimewa
Aroma gula aren yang manis menguar dari wajan. Di atas minyak panas, adonan kue kucur perlahan mengembang, membentuk tekstur empuk di bagian tengah dan renyah di pinggir. Bagi masyarakat Banyuwangi, jajanan tradisional ini bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari kekayaan kuliner yang kerap dinikmati bersama secangkir kopi Osing.
Bagi Filbert Harrison Wijaya, siswa SMAK 6 PENABUR Jakarta, kue kucur menjadi bagian dari pengalaman baru yang ia dapatkan saat mengikuti program Spirit of Challenge 2026. Untuk pertama kalinya, ia belajar membuat sekaligus mencicipi kue tradisional khas Banyuwangi tersebut bersama masyarakat Desa Taman Sari, Banyuwangi, Jawa Timur.
“Ini pengalaman pertama saya memasak kue kucur, seru banget. Saya menggoreng sekitar 30 kue,” ujar Filbert.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Spirit of Challenge BPK PENABUR Jakarta yang berlangsung pada 18-23 September 2026. Sebanyak 205 siswa dari 16 SLTAK PENABUR Jakarta berkesempatan untuk belajar mengenal budaya dan kearifan lokal Banyuwangi melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
Tidak hanya membuat kue kucur, para peserta juga mempelajari cara memasak kue klemben, menganyam bambu, menari Gandrung, hingga memainkan gamelan tradisional Banyuwangi. Beragam kegiatan tersebut harus dipelajari dalam waktu yang relatif singkat, sehingga menuntut fokus, kerja sama, dan kemauan untuk terus mencoba.
Salah satu pengalaman tersebut dirasakan oleh Mochamad Pungki Hartono, Ketua Komunitas Musik Nada Using, yang menjadi pelatih gamelan bagi para peserta. Ia mengaku senang dapat terlibat dalam kegiatan yang mempertemukan generasi muda dengan kesenian tradisional Banyuwangi.
“Ini pengalaman pertama saya melatih siswa-siswi BPK PENABUR Jakarta. Saya senang sekali karena anak-anaknya sangat berpotensi sehingga dalam waktu dua jam saja, mereka bisa berlatih satu lagu penuh untuk mengiringi teman-teman mereka yang menari Gandrung,” ujar Mochamad.
Baca Juga: Gandeng Pemprov DKI Jakarta, BPK PENABUR Gelar PICF 2026
Spirit of Challenge 2026: Belajar Budaya dan Nilai Kehidupan
Program Spirit of Challenge BPK PENABUR Jakarta secara rutin dilaksanakan dengan tujuan mengembangkan kepedulian, kemandirian, tanggung jawab, ketekunan, serta kemampuan menghargai perbedaan. Selain itu, kegiatan ini dirancang untuk melatih keterampilan komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas siswa, sekaligus memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Indonesia, khususnya Banyuwangi.
Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya melalui pertunjukan Tari Gandrung yang diiringi langsung oleh para peserta dengan gamelan di Taman Gandrung Terakota. Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga menyajikan kue kucur dan kue klemben, serta memamerkan hasil anyaman bambu yang mereka buat selama kegiatan.
Pengurus BPK PENABUR Jakarta, Thompson Heriyanto, mengapresiasi semangat dan kemauan belajar yang ditunjukkan para peserta. Menurutnya, pengenalan budaya melalui pengalaman langsung dapat menjadi ruang bagi siswa untuk memahami nilai-nilai kehidupan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Indonesia.
“Melalui kesenian kita belajar menjadi rukun, melalui makanan kita belajar saling mengenal,” tuturnya.
Selain kegiatan kebudayaan, para peserta juga diajak menikmati keindahan Taman Nasional Baluran, mempelajari pengolahan biji kopi di Desa Wisata Gombengsari, serta menanam terumbu karang di Bangsring Underwater. Rangkaian aktivitas tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal keberagaman alam, tradisi, dan kehidupan masyarakat Banyuwangi.
Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2023, kegiatan Spirit of Challenge juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Mochamad berharap keterlibatan generasi muda dalam mempelajari kesenian dan tradisi lokal dapat membantu memperkenalkan budaya Banyuwangi kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kami senang karena adik-adik ini mau belajar budaya Banyuwangi. Semoga budaya Banyuwangi semakin dikenal oleh generasi muda di seluruh Indonesia,” ujar Mochamad.
Bagi Filbert, pengalaman membuat kue kucur tidak berhenti pada kegiatan memasak. Proses menggoreng adonan satu demi satu, sembari terus mengarahkan minyak panas ke bagian adonan, mengajarkannya pentingnya ketelitian, kedisiplinan, dan kesabaran.
Ia menyadari bahwa membuat kue tradisional membutuhkan proses dan ketekunan. Dari kegiatan sederhana tersebut, Filbert berharap kue kucur dan makanan tradisional lainnya tetap dikenal dan dilestarikan oleh generasi muda.
“Supaya menarik generasi muda, mungkin bisa dikembangkan dengan inovasi baru,” tutupnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah
Tag Terkait: