Kredit Foto: Aryo Hadi Wibowo
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkap sejumlah tekanan yang masih membayangi perekonomian Indonesia. Salah satunya berasal dari kebijakan moneter Amerika Serikat setelah The Fed menaikkan suku bunga acuannya, ke rentan 3,75 – 4,00% pada (16/9/2026).
Destry mengatakan, prospek ekonomi global masih belum kuat, sementara ketidakpastian di pasar keuangan tetap tinggi. Kondisi tersebut diperkuat oleh kebijakan moneter global yang cenderung lebih ketat.
“Pertumbuhan ekonomi global 2026 diperkirakan masih lemah sekitar 3 persen dan diikuti tekanan inflasi yang meningkat menjadi sekitar 4 persen. Kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, termasuk kenaikan suku bunga kebijakan moneter AS atau Fed Fund Rate menjadi 3,75 persen hingga 4 persen pada September 2026,” ujar Destry dalam Rapat Dewan Gubernur, Rabu, (23/9/2026).
Menurut dia, kenaikan Fed Fund Rate turut mendorong peningkatan imbal hasil atau yield US Treasury. Pada saat yang sama, defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat yang besar ikut menjadi perhatian investor global.
Kondisi tersebut berdampak terhadap arus modal ke negara berkembang, salah satunya Indonesia. Destry menyebut preferensi investor global terhadap investasi portofolio di emerging market masih tertahan, sementara dolar AS tetap kuat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.
“Yield US Treasury juga meningkat seiring ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate dan defisit anggaran pemerintah AS yang besar. Preferensi investor global terhadap investasi portofolio ke negara emerging market tertahan dan berdampak pada tetap kuatnya indeks mata uang kuat dolar AS terhadap negara maju dan negara berkembang,” jelasnya.
Tekanan eksternal tersebut turut tercermin dari pergerakan rupiah. Destry mencatat rupiah berada di sekitar Rp17.855 per dolar AS pada periode tersebut, melemah 0,78% dibandingkan level akhir Agustus 2026. Tekanan meningkat terutama pada pertengahan September seiring memburuknya ketidakpastian global.
Meski demikian, Destry mengatakan ketahanan eksternal Indonesia masih terjaga. Cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 tercatat US$146,5 miliar atau setara 5,49 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% dalam RDG 22-23 September 2026. Suku bunga Deposit Facility juga tetap 4,75%, sedangkan Lending Facility dipertahankan di level 6,5%.
Destry mengatakan, keputusan tersebut konsisten dengan strategi BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% plus-minus 1% pada 2026 dan 2027. BI juga akan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter dan intervensi pasar valuta asing untuk meredam tekanan eksternal.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: