Tingginya Anak Muda Terkena Tekanan Quarter-Life Crisis, Depresi Paling Banyak Dialami Perempuan
Kredit Foto: Unsplash/Hugh Han
Fenomena depresi di kalangan anak muda rentang usia 15 hingga 24 tahun, khususnya perempuan, menjadi sorotan serius di tengah tekanan fase quarter-life crisis.
Sayangnya, tingginya angka gangguan emosional ini berbenturan dengan minim dan belum meratanya akses layanan bantuan profesional psikologi di berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan rilis data Kementerian Kesehatan, dari survei terhadap 54 juta penduduk, tercatat sebanyak 20 persen di antaranya terindikasi mengalami gangguan emosional.
Ironisnya, dari persentase tersebut, hanya 8 persen yang berhasil mendapatkan pendampingan dan penanganan dari tenaga profesional.
Pakar Psikologi, Dr. Moordiningsih, M.Si., mengungkapkan bahwa ketimpangan ini berakar dari keterbatasan dan distribusi Sumber Daya Manusia (SDM) psikolog klinis yang terpusat.
"Banyak individu menimba ilmu di pusat kota, tetapi enggan untuk kembali ke daerahnya, mengakibatkan kurang meratanya layanan tersebut," ungkap psikolog yang akrab disapa Nining tersebut.
Secara klinis, gangguan kesehatan mental dipicu saat stimulus eksternal masuk melalui pancaindra dan dipersepsikan secara negatif oleh individu.
Nining mendefinisikan bahwa seseorang baru dapat dikatakan sehat secara mental apabila hatinya bahagia, mampu mengatasi tekanan, kinerjanya produktif, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: