Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

HUT RI, Ubedilah Badrun Soroti Angka Bunuh Diri karena Faktor Ekonomi Meningkat dan 67 Persen Gen Z Berstatus Pengangguran

HUT RI, Ubedilah Badrun Soroti Angka Bunuh Diri karena Faktor Ekonomi Meningkat dan 67 Persen Gen Z Berstatus Pengangguran Kredit Foto: Instagram/Ubedilah Badrun
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dosen Sosiologi Poitik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan aktivis 1998 Ubedilah Badrun menilai kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya terwujud dalam perspektif substantif.

Menurutnya, saat ini di usia RI ke-81, masalah rakyat masih berkutat di pusaran tekanan ekonomi, tingginya pengangguran anak muda, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok.

Ubedilah menyoroti kondisi ekonomi masyarakat, khususnya pekerja yang dinilai masih menghadapi tekanan pendapatan di tengah kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

"Merdeka dalam perspektif substantif belum merdeka, seperti masalah penghasilan buruh, kenaikan harga lebih tinggi dan cepat dari pendapatan rakyat, rata-rata pendapatan rakyat seperti nelayan, buruh Rp3 juta, tapi kebutuhan pokok mereka seperti pendidikan, kesehatan semakin cepat naik dan melambung tinggi," kata Ubedilah dalam sebuah diskusi di Forum Keadilan TV.

Ia juga menyoroti tingginya angka pengangguran di kalangan Generasi Z (Gen Z). Ubedilah menyebut Gen Z mendominasi kelompok pengangguran di Indonesia.

"Sekarang Gen Z dari 67 persen, jumlah pengangguran yang nganggur itu Gen Z. Generasi yang jumlahnya terbesar ternyata berstatus pengangguran, padahal ini adalah generasi masa depan bangsa," ujarnya.

Menurut Ubedilah, persoalan ekonomi tidak hanya berdampak pada kesejahteraan masyarakat, tetapi juga dapat memunculkan persoalan sosial dan politik. Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah.

Ubedilah juga mengaitkan tekanan ekonomi dan sosial dengan meningkatnya kasus bunuh diri. Ia menyebut angka kasus bunuh diri yang diklaim meningkat dari sekitar 700 menjadi 1.400 kasus per tahun, serta menilai faktor ekonomi dan tekanan sosial perlu mendapat perhatian.

"Karena faktor utamanya adalah bunuh diri," katanya.

Di sisi lain, Ubedilah menilai pertumbuhan ekonomi yang menjadi salah satu indikator kinerja pemerintah tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menyatakan kondisi ekonomi nasional dalam keadaan baik.

Ia menyinggung klaim pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, angka pertumbuhan tersebut tetap perlu dilihat bersama indikator ekonomi lainnya dan terbuka untuk dikaji berdasarkan akurasi serta metodologi data yang digunakan.

"Prabowo boleh klaim pertumbuhan ekonomi 5,4 persen meski didebat tentang akurasi data dari para ekonom, itu enggak bisa diklaim satu-satunya indikator ekonomi kita baik," ujar Ubedilah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: