Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wajah Baru Rupiah di Tangan Gen Z

Wajah Baru Rupiah di Tangan Gen Z Kredit Foto: Unsplash/Yoel Peterson
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sore menuju senja, langkah kaki Yuningsih (21) berhenti di sebuah kedai kopi di wilayah Jakarta Timur. Ia memesan minuman, mengambil ponsel, lalu mengarahkan kamera ke sebuah kode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di meja kasir. Beberapa detik kemudian, transaksi selesai.

Tidak ada uang kertas yang berpindah tangan. Tidak ada suara koin jatuh ke meja. Tersisa hanya notifikasi di layar ponsel bahwa saldo rekening berkurang.

Bagi generasi yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital, apa dilakukan Yuningsih bukan sesuatu yang istimewa. Membayar makanan, membeli pakaian, memesan transportasi hingga berbelanja kebutuhan sehari-hari dapat dilakukan hanya dengan satu genggaman lewat layar ponsel.

Namun, ada satu hal yang tetap tidak berubah di balik seluruh kemudahan itu, yakni nilai yang berpindah tetap dihitung dalam rupiah. “Sekarang saya hampir jarang membawa uang tunai,” kata Yuningsih bercerita kepada Warta Ekonomi.

Kebiasaan sederhana tersebut menggambarkan perubahan besar dalam cara generasi muda berinteraksi dengan uang. Rupiah semakin jarang disentuh secara fisik, tetapi semakin sering hadir dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk digital.

Dulu, mengenal uang berarti mengenal lembaran Rp1.000, Rp5.000, Rp10.000 hingga Rp100.000. Anak-anak belajar menghitung uang dari pecahan yang ada di tangan. Kini, pengalaman itu sedikit berubah. Generasi Z dapat menyelesaikan transaksi tanpa sekalipun mengeluarkan selembar uang.

Bagi Yuningsih, uang bisa berupa saldo rekening, saldo dompet digital, atau angka yang muncul setelah memindai QRIS. Perubahan tersebut membawa satu konsekuensi menarik. Rupiah semakin mudah digunakan, tetapi bentuk fisiknya semakin jarang terlihat.

“Kalau ada QRIS, tinggal scan, lebih praktis,” imbuh perempuan asal Depok, Jawa Barat tersebut.

Fenomena itu bukan sekadar perubahan kebiasaan di kalangan anak muda. Data Bank Indonesia menunjukkan, transaksi pembayaran digital di Indonesia terus melesat seiring semakin luasnya masyarakat beralih ke kanal pembayaran digital.

Pada Juli 2026, volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi, atau tumbuh 28,69% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut terlihat di berbagai kanal. 

Volume transaksi melalui internet tumbuh 9,39% (yoy), sementara transaksi melalui aplikasi mobile meningkat 24,25% (yoy). Pertumbuhan paling mencolok terjadi pada transaksi QRIS yang mencapai 82,42% (yoy), seiring bertambahnya jumlah pengguna dan merchant.

Baca Juga: BI Catat Volume Transaksi BI-FAST Capai 546 Juta Transaksi Senilai Rp1.355 Triliun

Perubahan itu juga terlihat dari infrastruktur pembayaran ritel. Pada Juli 2026, volume transaksi melalui BI-FAST mencapai 546 juta transaksi, tumbuh 31,62% (yoy), dengan nilai transaksi mencapai Rp1.355 triliun.

Sementara itu, transaksi bernilai besar melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,99 juta transaksi, tumbuh 3,12% (yoy). Nilai transaksinya mencapai Rp20.097 triliun, atau tumbuh 1,54% (yoy).

Pertumbuhan transaksi digital tersebut rupanya tidak hanya terjadi di pusat-pusat ekonomi nasional, tetapi juga mulai terasa di berbagai daerah. 

Di Kalimantan Barat, misalnya, perkembangan ekosistem pembayaran digital menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Ini seiring semakin luasnya penggunaan QRIS oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, mengatakan perkembangan ekosistem QRIS di Kalimantan Barat menunjukkan tren positif. Hingga Juni 2026, jumlah merchant QRIS mencapai 552.673 atau tumbuh 28,94 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 74,17 persen diantaranya merupakan usaha mikro.

Dari sisi transaksi, nilai transaksi QRIS di Kalimantan Barat hingga Juni 2026 mencapai Rp6,5 triliun atau tumbuh 112,04 persen secara tahunan. Sementara volume transaksi mencapai 62,9 juta transaksi atau tumbuh 131,97 persen, dengan jumlah pengguna mencapai 875,4 ribu orang.

Baca Juga: Transaksi Digital Sumut Tumbuh, QRIS Dorong Efisiensi Ekonomi dan PAD

Data tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran semakin menembus aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat daerah. QRIS tidak lagi hanya menjadi instrumen pembayaran di pusat perbelanjaan atau bisnis modern, tetapi juga semakin banyak digunakan oleh usaha mikro dan masyarakat dalam transaksi sehari-hari..

"Kami berharap QRIS dapat menjadi gerakan bersama, bukan hanya inisiatif Bank Indonesia, tetapi juga kolaborasi pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, komunitas, perguruan tinggi, dan masyarakat," kata Doni dalam kegiatan Media Bekabar di Kantor BI, Kalbar, pertengahan Agustus 2026.

Pertumbuhan angka-angka di atas semakin menunjukkan bahwa perluasan penggunaan QRIS tidak hanya bergantung pada perkembangan teknologi, tetapi juga pada perubahan kebiasaan masyarakat dalam melakukan transaksi. Seiring semakin luasnya ekosistem pembayaran digital, QRIS perlahan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda.

Ketika QRIS Menjadi Bagian dari Kehidupan

Perubahan paling mudah terlihat di pusat-pusat aktivitas masyarakat, terutama kalangan anak muda. Kedai kopi, kantin kampus, restoran, toko pakaian hingga usaha rumahan kini semakin akrab dengan pembayaran digital. “Hampir seluruh transaksi (saya) menggunakan QRIS,” timpal Yuningsih kembali

Pengalaman Yuningsih tersebut sejalan dengan hasil survei IDN Research Institute yang menunjukkan bahwa QRIS semakin lekat dengan kebiasaan transaksi generasi muda. Survei yang melibatkan 1.500 responden, terdiri dari 750 Gen Z dan 750 Milenial dari sejumlah kota besar di Indonesia, mengungkap beberapa alasan utama yang mendorong kedua kelompok usia tersebut menggunakan QRIS dalam kesehariannya.

Kemudahan menjadi alasan utama. Sebanyak 63 persen responden mengatakan bahwa mereka menggunakan QRIS karena metode pembayaran ini mudah digunakan. Pengguna cukup memindai kode QR yang tersedia di merchant atau pedagang, tanpa harus menyiapkan uang tunai maupun menghitung uang kembalian. Kesederhanaan inilah yang membuat QRIS menjadi pilihan praktis untuk berbagai kebutuhan transaksi.

Selain kemudahan, pergeseran dari pembayaran tunai ke non-tunai juga menjadi faktor penting. Sebanyak 57 persen responden mengaku memilih QRIS karena ingin meninggalkan kebiasaan menggunakan uang tunai. Kehadiran berbagai dompet digital dan aplikasi perbankan yang telah mendukung QRIS turut membuat transaksi non-tunai semakin mudah dilakukan dalam berbagai situasi.

Baca Juga: Hadiah HUT RI, BI Perluas MDR QRIS 0% dan Luncurkan Kartu Kredit Indonesia

Faktor berikutnya adalah promo dan potongan harga. Sebanyak 37 persen responden menyebut promo eksklusif dan diskon sebagai salah satu alasan mereka menggunakan QRIS. Berbagai bentuk penawaran, mulai dari cashback, potongan harga di merchant, hingga promo khusus bagi pengguna baru, turut menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Sementara itu, ketersediaan QRIS di berbagai lokasi menjadi alasan bagi 23 persen responden. Penggunaannya kini tidak terbatas pada pusat perbelanjaan atau restoran besar. QRIS juga semakin mudah ditemukan di warung, pedagang kecil, usaha rumahan, hingga supermarket. Luasnya penerapan tersebut membuat masyarakat dapat bertransaksi dengan cara yang sama di berbagai tempat.

Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan QRIS bukan lagi sekadar mengikuti perkembangan teknologi pembayaran. Bagi Gen Z dan Milenial, menurut Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran, Arianto Muditomo, QRIS telah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari yang menawarkan kemudahan, fleksibilitas, sekaligus berbagai keuntungan dalam bertransaksi.

“QRIS sangat penting karena sesuai dengan karakter Gen Z yang mengutamakan kecepatan, kemudahan, dan pengalaman serba digital. Bagi mereka, ponsel mulai menggantikan dompet fisik,” kata Arianto kepada Warta Ekonomi.

Menurutnya, perubahan tersebut terlihat dari semakin terbiasanya Gen Z melakukan transaksi bernilai kecil secara lebih sering dan spontan. Di sisi lain, transaksi tersebut juga meninggalkan catatan secara digital.

“QRIS bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga membentuk kebiasaan baru: transaksi bernilai kecil dilakukan lebih sering, spontan, dan tercatat secara digital,” ujarnya.

Arianto menilai tingginya pertumbuhan transaksi QRIS menunjukkan bahwa pembayaran digital telah bergeser dari sekadar tren menjadi kebutuhan dalam aktivitas sehari-hari. QRIS kini semakin diterima untuk berbagai kebutuhan transaksi, mulai dari transportasi, makanan, belanja daring hingga transaksi dengan pedagang kaki lima.

Meski demikian, menurut Arianto, keberlanjutan pertumbuhan pembayaran digital tetap membutuhkan dukungan dari ekosistem yang sehat. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain keandalan jaringan, keamanan transaksi, perlindungan konsumen, serta struktur biaya yang sehat bagi industri pembayaran.

Dorong UMKM Beradaptasi

Di tengah semakin kuatnya kebiasaan transaksi non-tunai, UMKM menjadi salah satu sektor yang memiliki peluang besar untuk ikut mengambil manfaat dari perubahan tersebut. Menurut Arianto semakin terbiasanya konsumen menggunakan pembayaran non-tunai dapat memperluas pasar bagi pedagang yang sebelumnya mengandalkan transaksi tunai.

Arianto mengatakan, QRIS memungkinkan pelaku UMKM melayani konsumen yang semakin jarang membawa uang tunai. Selain itu, transaksi digital dapat membantu pencatatan keuangan usaha sekaligus mengurangi sejumlah risiko dalam transaksi tunai.

“QRIS juga membantu pencatatan transaksi, mengurangi risiko uang palsu dan kehilangan uang tunai, serta dapat membentuk rekam jejak usaha untuk akses pembiayaan,” jelasnya.

Namun, transformasi digital tersebut tetap perlu diikuti dengan penguatan kapasitas pelaku UMKM. Menurut Arianto, literasi digital menjadi salah satu faktor penting agar pelaku usaha dapat memanfaatkan sistem pembayaran digital secara optimal.

Selain literasi, kepastian penyelesaian dana, perlindungan dari penipuan, serta biaya layanan yang proporsional juga perlu menjadi perhatian. “Jangan sampai peningkatan kenyamanan konsumen justru memindahkan beban biaya dan risiko kepada pedagang kecil,” tegas Arianto.

Hal ini menegaskan bahwa digitalisasi pembayaran bukan semata soal menghadirkan transaksi yang lebih cepat dan praktis. Di balik perubahan cara masyarakat bertransaksi, ada kebutuhan untuk memastikan ekosistem pembayaran tetap aman, inklusif, dan mampu memberikan manfaat bagi seluruh pihak. 

Pada titik inilah, perubahan perilaku pembayaran juga membawa kita kembali pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana memaknai kecintaan terhadap rupiah di tengah kehidupan yang semakin digital?

Pada akhirnya, mencintai rupiah bukan berarti harus selalu menggunakan uang tunai. Bangga terhadap rupiah juga bukan berarti menutup diri dari teknologi dan perkembangan ekonomi global.

Justru sebaliknya. Di tengah dunia yang semakin digital, cinta terhadap rupiah dapat diwujudkan dengan memahami dan menggunakannya secara bijak dalam berbagai bentuk transaksi. Sebab, ketika cara masyarakat bertransaksi berubah, rupiah tetap menjadi satu hal yang sama: alat pembayaran yang menggerakkan aktivitas ekonomi sekaligus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: