Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Di tengah pesatnya perkembangan industri nikel di Sulawesi, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) disebut menjadi perusahaan yang paling diminati masyarakat lokal sebagai tempat bekerja. Temuan tersebut diungkapkan Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia berdasarkan pengamatan dan interaksi dengan masyarakat di wilayah penghasil nikel.
Executive Director CORE, Mohammad Faisal, mengatakan preferensi masyarakat terhadap perusahaan tambang tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya investasi maupun aktivitas produksi, tetapi juga bagaimana perusahaan memperlakukan pekerjanya.
Faisal mengaku sempat menggali pandangan masyarakat lokal terkait pilihan pekerjaan di tengah berkembangnya industri nikel, khususnya di wilayah Morowali. Dari penelusuran tersebut, Vale disebut menjadi pilihan utama masyarakat dibandingkan alternatif pekerjaan lainnya.
"Jadi nomor satu Vale, Pak. Jadi memang Vale itu dianggap oleh masyarakat lokal memiliki standar dari sisi ketenagakerjaannya yang bagus ya," ujar Faisal dalam gelaran sosialisasi MediaMIND di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Menurut Faisal, penilaian tersebut berkaitan dengan aspek perlindungan dan perlakuan terhadap pekerja. Ia menyebut masyarakat melihat faktor seperti treatment dan perlindungan kerja sebagai pertimbangan dalam menentukan pilihan pekerjaan.
Bahkan, ketika dibandingkan dengan pilihan lain seperti menjadi aparatur sipil negara (PNS) maupun bekerja di perusahaan smelter lainnya, Vale tetap menjadi pilihan pertama masyarakat yang ditemui Faisal.
"Nomor satu tetap Vale, nomor dua PNS, baru yang nomor tiga yang smelter dari China. Jadi urutannya begitu kurang lebih," kata Faisal.
Faisal menilai preferensi masyarakat tersebut menjadi gambaran mengenai bagaimana kualitas pekerjaan menjadi salah satu faktor penting dalam penerimaan industri tambang di daerah operasi.
"Treatment-nya, perlindungan kerjanya. Jadi saya pikir kalau ini bisa direplikasi, bisa jadi best practice juga untuk investor-investor yang lain," lanjut Faisal.
Sementara itu, Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia Tbk (NCO), Mateus Sigit, menjelaskan perusahaan telah menjalankan operasi terintegrasi selama puluhan tahun di Sorowako, mulai dari aktivitas penambangan, pengolahan, hingga proses pascatambang termasuk reklamasi.
Saat ini, kata Sigit, Vale tengah memperluas operasinya dari sebelumnya hanya berbasis di satu wilayah menjadi platform pertumbuhan multiwilayah melalui pengembangan proyek di Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi.
Dalam pengembangan proyek hilirisasi tersebut, Sigit mengatakan perusahaan juga memperhatikan aspek keberlanjutan dan hubungan dengan para pemangku kepentingan sebagai bagian dari keberlangsungan operasional.
"Kita juga kerja sama dengan partner terkait sustainability, ESG, dan hal-hal yang memang berkaitan dengan social license to operate," ungkap Sigit.
Baca Juga: PT Vale Sambut Positif Revisi HPM Nikel, Komponen Ni Limonite 1,2% Turun 46%
Baca Juga: Vale Buka-bukaan Soal Hambatan Hilirisasi Nikel, Ada Klaim Lahan Sepihak
Sigit menambahkan, pengembangan industri nikel juga membutuhkan peningkatan kemampuan sumber daya manusia Indonesia. Menurut dia, kerja sama yang dilakukan Vale bersama mitra diharapkan dapat mendorong transfer teknologi dan peningkatan kapabilitas tenaga kerja Indonesia.
"Capability building itu juga penting untuk nanti kedepannya bisa transfer teknologi dari teknologi China ke Indonesia people," pungkas Sigit.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra