Kredit Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia surplus US$7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Surplus tersebut terjadi karena nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampailan ekspor Indonesia pada periode yang sama mencapai US$193,64 miliar, tumbuh 4,74% secara tahunan dari US$184,89 miliar pada Januari-Agustus 2025.
Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$159,55 miliar. Berikutnya adalah sektor pertambangan dan lainnya sebesar US$22,39 miliar serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar US$3,09 miliar
Di sisi lain, impor Indonesia terus meningkat sepanjang Januari-Agustus 2026. Kenaikan tersebut terutama berasal dari bahan baku dan barang modal yang menjadi komponen terbesar dalam penggunaan impor.
Ateng mencatat nilai impor Indonesia mencapai US$186,39 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Angka ini meningkat 19,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun impor berdasarkan penggunaan masih didominasi bahan baku atau penolong dengan nilai US$133,38 miliar.
"Impor berdasarkan penggunaan didominasi oleh bahan baku atau penolong," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Baca Juga: Neraca Perdagangan Indonesia Masih Surplus, Ekspor Juli Tembus US$26,2 Miliar
Baca Juga: Gubernur BI: Setiap Kenaikan Suku Bunga 25 Bps, Ekonomi Akan Turun 0,1 Persen
Selain bahan baku, impor barang modal sepanjang delapan bulan pertama 2026 mencapai US$36,75 miliar. Sementara itu, impor barang konsumsi tercatat sebesar US$16,27 miliar.
Pada Agustus 2026 saja, impor mencapai US$23,06 miliar atau tumbuh 19,09% dibandingkan Agustus tahun lalu. Sementara ekspor tercatat US$26,61 miliar, naik 6,72% secara tahunan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: