Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bahas Fenomena Outrage Economy di Indonesia, Renaldy Pujiansyah Ingatkan Pentingnya Literasi Digital

Bahas Fenomena Outrage Economy di Indonesia, Renaldy Pujiansyah Ingatkan Pentingnya Literasi Digital Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengusaha dan praktisi komunikasi digital Renaldy Pujiansyah menyoroti fenomena Outrage Economy atau ekonomi kemarahan yang semakin relevan dengan perkembangan media sosial di Indonesia. Fenomena ini menggambarkan bagaimana kontroversi dan reaksi emosional masyarakat dapat menghasilkan perhatian yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Menurut Renaldy, perkembangan industri konten digital membuka peluang ekonomi baru. Namun, sistem monetisasi platform juga dapat menciptakan insentif bagi sebagian kreator untuk terus mengangkat isu kontroversial demi mendapatkan perhatian dan interaksi.

“Sekarang perhatian publik punya nilai ekonomi. Satu masalah bisa menjadi banyak konten, mengundang perdebatan, bahkan berpotensi menjadi sumber penghasilan. Kita perlu memahami bagaimana sistem ini bekerja agar tidak mudah terbawa emosi,” demikian pernyataan yang disiapkan untuk Renaldy.

Outrage Economy bukanlah pembahasan baru. Pada 2017, kolumnis Rafael Behr melalui media Inggris The Guardian mengulas bagaimana siklus provokasi dan kemarahan menjadi bagian dari dinamika bisnis media digital, termasuk dalam konteks politik Amerika Serikat.

Penelitian Yale University pada 2021 juga menunjukkan bahwa respons sosial terhadap ekspresi kemarahan dapat mendorong pengguna mengulangi perilaku serupa di media sosial.

Di Indonesia, dinamika ekonomi perhatian turut terlihat melalui fenomena akun centang biru atau cenblu di platform X serta konten affiliate clickbait yang memanfaatkan isu populer untuk menarik interaksi sebelum mengarahkan pengguna menuju tautan produk.

Renaldy menilai praktik monetisasi bukanlah sesuatu yang keliru. Namun, persoalan muncul ketika informasi sengaja dipelintir, dilebih-lebihkan, atau dikemas secara provokatif demi meningkatkan keuntungan.

“Yang perlu kita kritisi bukan orang yang mencari penghasilan dari media sosial, tetapi ketika informasi dan emosi masyarakat dimanfaatkan hanya untuk mendapatkan perhatian dan keuntungan,” demikian pandangan yang diusulkan.

Selain aspek ekonomi, Renaldy mengingatkan pentingnya literasi digital, terutama dalam menghadapi hoaks, potongan video tanpa konteks, dan judul berita provokatif.

“Kadang kita sudah bereaksi sebelum mengetahui kejadian sebenarnya. Bisa saja videonya lama, informasinya belum lengkap, atau bahkan tidak benar. Viral itu ukuran perhatian, bukan ukuran kebenaran,” ungkapnya dalam rancangan pernyataan.

Menurutnya, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber berita, tanggal kejadian, serta membandingkan informasi melalui sejumlah media kredibel sebelum ikut menyebarkannya.

Renaldy berharap masyarakat Indonesia tidak hanya memberikan perhatian pada kontroversi, tetapi juga pada prestasi, inovasi, dan karya anak bangsa.

“Indonesia punya banyak orang hebat dan prestasi yang membanggakan. Jangan sampai perhatian kita hanya habis untuk kontroversi, sementara berbagai pencapaian positif justru terlewatkan,” demikian pandangan yang diusulkan.

Ia menegaskan bahwa kritik publik tetap penting, khususnya terhadap ketidakadilan dan berbagai persoalan sosial. Namun, kritik akan lebih bermanfaat apabila didasarkan pada informasi yang benar.

“Kita boleh marah terhadap ketidakadilan, tetapi jangan sampai kemarahan kita justru menjadi keuntungan bagi mereka yang menyebarkan kebohongan.”

Melalui sorotannya terhadap Outrage Economy, Renaldy mengajak masyarakat lebih kritis dalam mengonsumsi informasi sekaligus memahami bagaimana perhatian dan emosi bekerja dalam ekosistem digital.

Sebab, sesuatu yang paling ramai belum tentu paling penting, dan sesuatu yang paling banyak dibicarakan belum tentu paling benar.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: