Kredit Foto: PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali berada di bawah tekanan. Hingga penutupan perdagangan sesi I Kamis (8/10/2026), saham GOTO turun ke level Rp28 per saham, setelah sehari sebelumnya sempat menguat tipis.
Pergerakan GOTO menjadi sorotan setelah PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah aturan batas minimum harga saham. Sejak 28 September 2026, BEI menetapkan batas bawah harga saham menjadi Rp1 per lembar, sekaligus menghapus batas minimum sebelumnya sebesar Rp50 per saham atau yang dikenal sebagai level gocap.
Perubahan aturan tersebut membuat saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 kini memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah. GOTO menjadi salah satu saham yang kemudian diperdagangkan di bawah level gocap.
Pada perdagangan sesi I Kamis (8/10/2026), harga GOTO telah berada di Rp28 per saham. Dengan demikian, secara nominal saham tersebut hanya berjarak Rp27 dari batas minimum baru BEI, yakni Rp1 per saham.
Lantas, akankah saham GOTO terus tertekan hingga menyentuh Rp1?
Secara aturan, level Rp1 kini memang memungkinkan menjadi harga perdagangan saham di BEI. Namun, apakah GOTO akan mencapai level tersebut tetap bergantung pada dinamika permintaan dan penawaran di pasar, sentimen investor, serta perkembangan kinerja dan prospek perseroan.
Penghapusan batas gocap juga mengubah ruang pergerakan saham berharga rendah di BEI. Bagi investor, harga saham kini dapat bergerak jauh di bawah Rp50 apabila tekanan jual lebih besar dibandingkan permintaan.
Gerak Saham GOTO Setelah Tembus Level Rp50
Berdasarkan data perdagangan BEI, saham GOTO sebelumnya bertahan di level Rp50 selama berbulan-bulan. Kondisi tersebut berubah setelah aturan baru mengenai batas minimum harga saham mulai berlaku pada 28 September 2026.
Pada hari pertama penerapan aturan baru, saham GOTO langsung merosot 14% ke level Rp43 per saham. Penurunan tersebut membuat GOTO untuk pertama kalinya diperdagangkan di bawah level gocap.
Tekanan terhadap saham GOTO kemudian berlanjut. Hingga perdagangan sesi I Kamis (8/10/2026), saham tersebut kembali merosot dan menyentuh Rp28 per saham.
Dengan demikian, sejak turun dari level Rp50 pada 28 September hingga Rp28 pada 8 Oktober 2026, saham GOTO telah terkoreksi Rp22 per saham.
Pergerakan GOTO selanjutnya pun menjadi perhatian pasar. Pasalnya, dengan batas bawah baru BEI di level Rp1, ruang penurunan saham tersebut kini tidak lagi terbatas pada level gocap.
Pertanyaannya, apakah tekanan jual akan terus membawa GOTO mendekati level Rp1, atau saham tersebut mampu menemukan titik penahan baru di tengah perubahan aturan perdagangan BEI?
Baca Juga: Nilai Investasi Telkomsel di GOTO Sudah Tergerus Rp5,53 Triliun
Baca Juga: Gembok Saham Rp50 Resmi Dibuka Hari ini, Begini Tanggapan GoTo
Baca Juga: GOTO Ambruk dari Gocap, Saham Terjun Bebas ke Rp43
Penjelasan Penurunan Saham dari Manajemen GOTO
Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny, mengatakan fundamental dan kinerja operasional GOTO masih menunjukkan penguatan.
“Harga saham GoTo saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat. Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp50,” kata Audrey dalam keterangan resminya, Senin (28/9/2026).
Dari sisi keuangan, GOTO membukukan laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II-2026. Dengan capaian tersebut, perseroan mencatatkan laba selama dua kuartal berturut-turut.
Pada periode yang sama, pendapatan bersih GOTO mencapai Rp5,7 triliun, sementara adjusted EBITDA menembus lebih dari Rp1 triliun. Kinerja tersebut membuat perseroan tetap berada dalam jalur untuk mencapai target adjusted EBITDA 2026 sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Audrey mengatakan GOTO akan terus memperkuat fundamental dan kinerja bisnis untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham dalam jangka panjang.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: