Rencana Energi Nuklir 7 GW Indonesia jadi Percakapan di Los Angeles, Akademisi AS Ingatkan Tantangan Keselamatan
Kredit Foto: Istimewa
Rencana Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berkapasitas 7 gigawatt (GW) menarik perhatian akademisi Amerika Serikat. Dalam kunjungan delegasi Indonesia-US DigiTech Forum ke University of Southern California (USC), Los Angeles, pada 8 Oktober 2026, pembahasan mengenai rencana tersebut turut diwarnai pengingat tentang pentingnya keselamatan nuklir.
Prof. Najmedin Meshkati, akademisi yang lama meneliti keselamatan pembangkit nuklir dan sistem teknologi berisiko tinggi, mengingatkan Indonesia agar belajar dari pengalaman negara yang pernah mengalami kecelakaan nuklir, termasuk Jepang dan Ukraina.
“Saya pernah ke Tiongkok. Saya juga pernah ke Fukushima; saya sudah berada di sana dan melihatnya sendiri. Saya berharap Indonesia dapat mengelola tenaga nuklir dengan lebih baik daripada Ukraina dan Jepang,” ujar Meshkati.
Percakapan itu berlangsung dua hari setelah Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan target pengembangan PLTN sebesar 7 GW dalam Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, 6 Oktober 2026.
Hashim menyebut target tersebut telah masuk dalam rencana induk energi nasional, berdasarkan informasi yang diterimanya dari Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo. Pengembangan tenaga nuklir dipandang sebagai salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan energi dan memenuhi kebutuhan listrik jangka panjang.
Peringatan Meshkati didasarkan pada pengalamannya mengkaji kecelakaan nuklir Fukushima di Jepang dan Chernobyl di Ukraina. Ia pernah menjadi anggota komite National Academy of Sciences/National Research Council Amerika Serikat yang mempelajari kecelakaan Fukushima untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan pembangkit nuklir di AS.
Dalam tulisan yang diterbitkan USC Viterbi pada 2015, Meshkati mengulas bahwa kecelakaan Fukushima tidak hanya berkaitan dengan gempa bumi dan tsunami. Kegagalan mengantisipasi risiko, faktor manusia, budaya organisasi, dan pengambilan keputusan juga menjadi aspek penting dalam keselamatan nuklir.
Mohamad Amin Ahlun Nazar, Direktur Utama PT Pola Raya Studio yang mengikuti kunjungan DigiTech, berharap pengalaman Meshkati dalam mempelajari Fukushima dan Chernobyl dapat dibahas lebih lanjut bersama akademisi serta pemangku kepentingan di Indonesia.
Menurut Amin, pengalaman langsung dari kedua lokasi kecelakaan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran ketika Indonesia mempersiapkan pengembangan energi nuklir dalam skala besar.
Perkembangan program nuklir Indonesia juga mendapat perhatian World Nuclear News. Dalam laporan pada 13 Mei 2026 berjudul Indonesia and Russia Discuss Nuclear Energy Cooperation, media tersebut mengulas pembahasan Presiden Prabowo Subianto dengan Direktur Jenderal Rosatom Alexei Likhachev mengenai potensi kerja sama energi nuklir untuk tujuan damai.
Pembahasan itu mencakup pengembangan PLTN berskala besar, reaktor modular kecil (small modular reactors/SMR), dan pembangkit nuklir terapung. Kerja sama juga menyentuh pelatihan tenaga nasional, pengembangan kompetensi, serta penguatan kemandirian teknologi.
Sebelumnya, pada Agustus 2025, World Nuclear News memberitakan persetujuan BAPETEN terhadap program evaluasi tapak dan sistem manajemen evaluasi tapak yang diajukan Thorcon untuk rencana PLTN di Pulau Kelasa, Bangka Belitung.
Baca Juga: Menanti Perpres, Program Pembangkit Listrik Nuklir RI Tunggu Kepastian
Meski sejumlah persiapan telah berjalan, pembangunan PLTN membutuhkan tahapan panjang, termasuk kesiapan teknologi, kelembagaan, regulasi, dan tenaga kerja. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengidentifikasi 19 aspek infrastruktur yang perlu dipersiapkan negara sebelum menjalankan program nuklir, mulai dari keselamatan dan pengawasan hingga pengelolaan limbah radioaktif.
Dengan target kapasitas 7 GW, tantangan Indonesia bukan hanya menentukan teknologi dan kapasitas pembangkit, tetapi juga memastikan seluruh sistem keselamatan berjalan konsisten. Pengalaman Fukushima dan Chernobyl menjadi pengingat bahwa keberhasilan program nuklir turut bergantung pada kesiapan manusia dan institusi dalam membangun budaya keselamatan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: