Kredit Foto: Istimewa
Salat istisqa merupakan salat sunah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan. Ibadah ini dapat dilakukan secara berjamaah maupun sendiri, meski pelaksanaannya secara berjamaah di tanah lapang lebih utama.
Mengutip penjelasan Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, M. Ishom El Saha, di laman resmi Kementerian Agama, salat istisqa telah dipraktikkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Dalam hadis riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah keluar untuk memohon hujan, kemudian mengerjakan salat dua rakaat tanpa azan dan iqamah. Setelah itu, beliau menyampaikan khutbah dan berdoa kepada Allah SWT dengan menghadap kiblat serta mengangkat kedua tangan.
Salat istisqa dilaksanakan pada siang hari setelah matahari terbit. Waktunya serupa dengan pelaksanaan salat Idul Fitri atau Idul Adha. Salat ini dapat dikerjakan hingga sore hari, tetapi perlu menghindari waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan salat sesuai ketentuan fikih.
Salat istisqa umumnya dilaksanakan sebanyak dua rakaat tanpa didahului azan dan iqamah. Berikut tata cara pelaksanaannya.
- Berkumpul di tanah lapang. Imam dan makmum berkumpul untuk melaksanakan salat secara berjamaah.
- Membaca niat. Imam dan makmum berniat melaksanakan salat sunah istisqa karena Allah SWT.
- Takbir pada rakaat pertama. Setelah takbiratul ihram, dilakukan tujuh kali takbir sebagaimana tuntunan yang dijelaskan dalam uraian.
- Membaca Al-Fatihah dan surat pendek. Imam membaca kedua bacaan tersebut dengan suara yang dapat didengar makmum.
- Melanjutkan gerakan salat. Salat diteruskan dengan rukuk, sujud, dan gerakan lainnya seperti salat pada umumnya.
- Takbir pada rakaat kedua. Pada rakaat kedua, dilakukan lima kali takbir sebelum membaca Al-Fatihah dan surat pendek.
- Menyelesaikan salat. Setelah menyelesaikan gerakan rakaat kedua, jamaah duduk untuk membaca tahiyat akhir dan salawat, lalu mengakhiri salat dengan salam.
- Mendengarkan khutbah. Setelah salat, khatib menyampaikan khutbah yang berisi ajakan untuk bertobat, memohon ampun, memperbanyak istigfar, dan berdoa meminta hujan.
- Dalam khutbahnya, khatib juga dianjurkan memanjatkan doa kepada Allah SWT. Salah satu doa yang disebutkan dalam uraian adalah:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”.
Baca Juga: Pemerintah Akui Kesulitan Padamkan Api Karhutla, 'Hujan Ada Dua: Alami dan Buatan...'
Bolehkah salat istisqa dilakukan sendiri?
Salat istisqa dapat dilakukan secara sendiri atau munfarid. Namun, salat ini lebih utama dilaksanakan secara berjemaah, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Dikutip dari laman Tarjih Muhammadiyah, Putusan Tarjih dalam Muktamar Tarjih di Garut pada 1976 menjelaskan bahwa salat memohon hujan dapat dilakukan secara perorangan maupun berkelompok.
Jika dilakukan berjamaah, permohonan hujan dapat disampaikan melalui doa bersama atau salat istisqa yang dilanjutkan dengan khutbah. Khutbah juga diperbolehkan disampaikan sebelum salat.
Bagi yang ingin melaksanakan salat istisqa sendiri, tuntunan fikih sesuai mazhab yang diikuti dapat menjadi acuan.
Salat istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual umat Islam untuk memohon turunnya hujan. Dalam pelaksanaannya, umat Islam juga dianjurkan bertobat, memperbanyak istigfar, dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat