Pengusaha Singapura Sindir Prabowo: Terima Kasih Sudah Menjadi Contoh Buruk Pemimpin Sebuah Negara
Kredit Foto: BPMI
Langkah Presiden Prabowo Subianto yang menggunakan komoditas gas sebagai instrumen tekanan geopolitik terhadap negara tetangganya menuai respons sinis dari kalangan elite bisnis di Singapura.
Pengusaha Singapura, Patrick Liew melayangkan surat terbuka yang menguliti kelemahan tata kelola pemerintahan dari Kabinet Merah Putih. Ia menyebut kepemimpinan politikus itu justru menjadi preseden dan "contoh buruk" yang sangat berguna bagi negaranya mengenai cara menghancurkan masa depan sebuah negara.
Baca Juga: BEM UI Hari Ini Turun Demo ke Bundaran HI: Ada Lima Tuntutan Krusial untuk Prabowo
Liew menegaskan bahwa jika pemerintahan negara bertindak emosional dan serampangan, hal itu hanya akan mengusir para investor dan menghancurkan stabilitas ekonomi nasional mereka.
"Jika Singapura bertindak dengan cara yang sama, hal itu akan mengusir mereka dan investasi mereka dari bangsa kami, dan itu akan memengaruhi kedamaian, kemajuan, dan kemakmuran kami," ungkapnya dikutip dari Linkedin, Rabu (28/10/2026).
Beruntung, negaranya tidak punya presiden seperti Prabowo. Ia menilai bahwa politikus itu telah menjadi contoh bagaimana seorang pemimpin untuk tidak memimpin sebuah negara.
"Terima kasih, Presiden Prabowo, karena telah memberikan contoh yang jelas tentang bagaimana tidak seharusnya menjalankan pemerintahan untuk menciptakan masa depan terbaik bagi rakyat dan negara kami," urai Liew.
Lebih jauh, ia membenturkan retorika keras rekam jejak persahabatan yang telah ditunjukkan oleh Singapura ke Indonesia. Ia mengingatkan bahwa di tengah krisis, tindakan nyata jauh lebih bernilai daripada sekadar pidato kebangsaan.
Liew mengungkit bantuan masif yang disalurkan negaranya ketika gelombang pandemi menghantam Indonesia. Bantuan tersebut mencakup pasokan bantuan medis, peralatan, vaksin, hingga koordinasi finansial untuk melindungi rakyat dari Indonesia.
"Presiden Prabowo, yakinlah bahwa kami adalah teman yang berprinsip, dapat dipercaya, dan dapat diandalkan. Kami akan kembali menawarkan bantuan karena kami menghargai kesejahteraan tetangga kami," kata Liew.
Hubungan Indonesia-Singapura sendiri memanas menyusul kebijakan yang diambil oleh Prabowo.Menko Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia diketahui menyatakan akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif. Kebijakan ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai tidak memberikan rasa hormat terhadap kedaulatan dari Indonesia.
“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.
Bahlil mengaitkan kebijakan proteksionisme energi tersebut dengan muruah sejarah kemerdekaan bangsa. Ia menyindir keras sikap geopolitik negara tetangga yang dinilai bersikap superior, sembari membandingkan proses pencapaian kemerdekaan antarnegara.
Baca Juga: Menterinya Prabowo Didesak Ikut Usut Polemik Ijazah Gibran: Jangan Segan dan Bilang Tak Etis
“Kemerdekaan bukan hasil pemberian. Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan yang diperjuangkan berabad-abad. Banyak yang dibunuh, banyak yang disuruh kerja paksa, banyak yang dilakukan pemerkosaan. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan darah, keringat, air mata, serta nyawa. Saya tidak ingin ada negara lain yang kemerdekaannya diberikan mau mencoba menganggap seolah-olah mereka yang paling hebat daripada negara yang lain,” tegas Bahlil.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: