Singapura Ketar-Ketir? Media Internasional Kuliti Habis-Habisan Rencana PLTN Batam dan Setop Ekspor Gas!
Kredit Foto: ThorCon Power
Pemangkasan pasokan gas alam Indonesia ke Singapura memicu perbedaan sikap antara kedua negara. Pemerintah Singapura meminta komitmen kontrak dihormati, sementara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia tidak perlu diceramahi soal kewajiban tersebut.
Menurut laporan The Straits Times, Selasa (26/10/2026), Indonesia mulai mengurangi ekspor gas pada Sabtu (24/10/2026). Bahlil menyebut pengurangan ekspor gas melalui pipa mencapai 31 juta kaki kubik standar per hari, atau sekitar 8 persen dari total pasokan 409,55 juta yang berasal dari Laut Natuna dan daratan Sumatera.
“Jangan ceramahi Indonesia tentang komitmennya untuk menghormati dan menepati kontrak,” kata Bahlil.
Ia menegaskan, pengurangan tersebut masih berada dalam batas minimum yang diperbolehkan berdasarkan perjanjian. Menurutnya, pemangkasan hingga 10 persen justru berpotensi melanggar ketentuan kontrak yang berlaku.
Bahlil menjelaskan, kebijakan itu dipengaruhi pemeliharaan fasilitas dan meningkatnya kebutuhan gas untuk pembangkit listrik di Batam, Bintan, serta Sumatera. Namun, ia belum memastikan apakah pengurangan pasokan akan berlangsung permanen, bahkan menyinggung kemungkinan terjadinya keadaan kahar.
“Kami menghormati kontrak. Tetapi keadaan kahar (force majeure) bisa saja terjadi, bukan? Yah, kita lihat saja nanti,” ujarnya.
Di sisi lain, Singapura mencatat angka pengurangan pasokan yang berbeda. SKK Migas melaporkan pengurangan produksi sebesar 31 miliar British Thermal Units per hari (BBTUD), sedangkan Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA), berdasarkan laporan importir, menyebut pengurangan yang diterima Singapura mencapai 17 BBTUD selama 18 hari atau kurang dari 2 persen dari permintaan harian.
Meski persentasenya relatif kecil, persoalan tersebut mendapat perhatian dari Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong. Dalam konferensi Partai Aksi Rakyat (PAP), Minggu (25/10/2026), Wong menegaskan importir gas Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan mereka berdasarkan kontrak.
“Kami mengharapkan semua pihak untuk menghormati komitmen mereka, dan importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak-kontrak ini,” kata Wong.
Menteri Energi, Perdagangan dan Industri Singapura Tan See Leng berupaya meredakan kekhawatiran dengan menyatakan hubungan Prabowo Subianto dan Lawrence Wong tetap sangat baik. Namun, dalam pembukaan Singapore International Energy Week pada Senin (26/10/2026), ia mengingatkan bahwa nasionalisme sumber daya yang merusak kontrak dapat menghambat investasi energi.
Di tengah perbedaan pandangan tersebut, Indonesia juga mengkaji opsi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) untuk memperkuat ketahanan energi domestik. Bahlil menyebut Kepulauan Riau, termasuk kemungkinan Batam, sebagai salah satu lokasi yang sedang dikaji, selain Halmahera, Kalimantan, dan Sumatera.
Baca Juga: Viral Ancaman Singapura Putus Jalur Internet Indonesia, Menkomdigi Bilang Begini
“Kami sedang melakukan studi kelayakan,” kata Bahlil. Ia juga menyebut kemungkinan kerja sama dengan Rusia untuk pembangunan PLTN di Halmahera, sekaligus menegaskan Indonesia berhak menentukan lokasi selama memenuhi persyaratan kelayakan.
Saat ditanya apakah pemangkasan pasokan gas menimbulkan konflik dengan Singapura, Bahlil membantahnya. “Tidak ada masalah sama sekali. Tidak ada konflik. Apakah Anda pikir ada konflik? Apakah memang ada? Tidak, tidak ada,” pungkasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: