- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Ambruk 1,42% di Awal Perdagangan, Tekanan Jual Langsung Menghantam!
Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung melemah pada awal perdagangan sesi I. Baru dua menit setelah pembukaan, IHSG merosot 74,58 poin atau 1,42% ke level 5.191,55.
Padahal, IHSG dibuka di level 5.249,07 dan sempat naik menyentuh posisi tertinggi 5.255,67. Namun, penguatan tersebut tak bertahan lama. Tekanan jual membuat indeks berbalik arah hingga merosot ke level terendah 5.190,31.
Di tengah pelemahan tersebut, aktivitas transaksi tercatat mencapai 18,41 juta lot dengan nilai sebesar Rp779,84 miliar.
IHSG Dipengaruhi The Fed dan Reformasi Pasar Modal
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan jual investor asing di tengah ketidakpastian global dan sejumlah agenda penting pasar modal domestik. Meski demikian, peluang koreksi terbatas tetap terbuka seiring munculnya sinyal teknikal positif.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menilai IHSG berpotensi mengalami penurunan terbatas setelah koreksi signifikan. Secara teknikal, indeks terindikasi memasuki fase wave (b).
"Secara teknikal, pergerakan IHSG berpotensi mengalami penurunan yang terbatas seiring terdeteksinya wave (b) setelah terjadinya koreksi yang signifikan," ujar Nafan dalam risetnya, Rabu (28/10/2026).
Indikator Stochastic K_D menunjukkan arah positif. Namun, indikator Relative Strength Index (RSI) masih memberikan sinyal negatif, sementara volume transaksi mengalami penurunan.
Dari sisi aliran dana, investor asing mencatatkan jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp708,88 miliar. Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, nilai jual bersih asing mencapai Rp124,22 triliun. Adapun kinerja IHSG sejak awal tahun tercatat turun 39,10%.
"Level support IHSG pada 5.192 dan 5.065, sedangkan resistance berada di 5.398 dan 5.524," kata Nafan.
Dari sisi global, investor mencermati keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober 2026. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4,00%.
Namun, inflasi AS sebesar 3,7% pada September, di atas target 2%, membuat arah kebijakan moneter berikutnya tetap menjadi perhatian.
Investor juga menanti laporan keuangan perusahaan teknologi besar AS, seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon, untuk melihat prospek bisnis kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan (cloud computing). Di dalam negeri, kinerja emiten perbankan, termasuk BRIS, BBRI, BBTN, dan BDMN, turut menjadi katalis yang dicermati.
Baca Juga: IHSG Dibayangi Tekanan Asing, Analis Prediksi Alami Koreksi Terbatas
Baca Juga: IHSG Anjlok Hampir 30%, MSIG Life Akui Dana Investasi Ikut Tertekan
Sementara itu, harga minyak dunia melemah di tengah perkembangan diplomasi terkait konflik AS-Iran. Minyak mentah WTI turun 1,83% menjadi USD99,90 per barel, sedangkan Brent terkoreksi 1,67% ke USD113,88 per barel.
Di pasar domestik, investor juga mencermati rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Proses komunikasi dengan MSCI serta RUPSLB BEI terkait demutualisasi juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kepercayaan investor dan tata kelola pasar modal dalam jangka panjang.
Menghadapi kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor lebih selektif dalam memilih saham, terutama emiten dengan fundamental solid, valuasi yang dinilai murah (undervalued), serta indikasi pembalikan arah (reversal).
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: