Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sempat Tertekan, IHSG Berbalik Menguat ke 5.282 di Akhir Perdagangan

Sempat Tertekan, IHSG Berbalik Menguat ke 5.282 di Akhir Perdagangan Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,31% atau naik 16,18 poin ke level 5.282,31 pada perdagangan Selasa (27/10/2026).

Sepanjang perdagangan, IHSG sempat bergerak di zona merah dan menyentuh level terendah 5.167,33. Namun, menjelang penutupan, indeks berbalik arah hingga akhirnya mencapai level tertinggi sekaligus level penutupan di 5.282,31.

Meski IHSG berakhir di zona hijau, tekanan di pasar saham masih terlihat. Sebanyak 406 saham ditutup melemah, lebih banyak dibandingkan 272 saham yang menguat. Sementara itu, 112 saham bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 32,04 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp15,80 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1,552 juta kali.

IHSG Dipengaruhi The Fed dan Reformasi Pasar Modal

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan jual investor asing di tengah ketidakpastian global dan sejumlah agenda penting pasar modal domestik. Meski demikian, peluang koreksi terbatas tetap terbuka seiring munculnya sinyal teknikal positif.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menilai IHSG berpotensi mengalami penurunan terbatas setelah koreksi signifikan. Secara teknikal, indeks terindikasi memasuki fase wave (b).

"Secara teknikal, pergerakan IHSG berpotensi mengalami penurunan yang terbatas seiring terdeteksinya wave (b) setelah terjadinya koreksi yang signifikan," ujar Nafan dalam risetnya, Rabu (28/10/2026).

Indikator Stochastic K_D menunjukkan arah positif. Namun, indikator Relative Strength Index (RSI) masih memberikan sinyal negatif, sementara volume transaksi mengalami penurunan.

Dari sisi aliran dana, investor asing mencatatkan jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp708,88 miliar. Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, nilai jual bersih asing mencapai Rp124,22 triliun. Adapun kinerja IHSG sejak awal tahun tercatat turun 39,10%.

"Level support IHSG pada 5.192 dan 5.065, sedangkan resistance berada di 5.398 dan 5.524," kata Nafan.

Dari sisi global, investor mencermati keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober 2026. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4,00%. 

Namun, inflasi AS sebesar 3,7% pada September, di atas target 2%, membuat arah kebijakan moneter berikutnya tetap menjadi perhatian.

Investor juga menanti laporan keuangan perusahaan teknologi besar AS, seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon, untuk melihat prospek bisnis kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan (cloud computing). Di dalam negeri, kinerja emiten perbankan, termasuk BRIS, BBRI, BBTN, dan BDMN, turut menjadi katalis yang dicermati.

Baca Juga: IHSG Ambruk 1,42% di Awal Perdagangan, Tekanan Jual Langsung Menghantam!

Baca Juga: IHSG Dibayangi Tekanan Asing, Analis Prediksi Alami Koreksi Terbatas

Sementara itu, harga minyak dunia melemah di tengah perkembangan diplomasi terkait konflik AS-Iran. Minyak mentah WTI turun 1,83% menjadi USD99,90 per barel, sedangkan Brent terkoreksi 1,67% ke USD113,88 per barel.

Di pasar domestik, investor juga mencermati rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026. 

Proses komunikasi dengan MSCI serta RUPSLB BEI terkait demutualisasi juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kepercayaan investor dan tata kelola pasar modal dalam jangka panjang.

Menghadapi kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor lebih selektif dalam memilih saham, terutama emiten dengan fundamental solid, valuasi yang dinilai murah (undervalued), serta indikasi pembalikan arah (reversal).

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan