Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ekspor Nikel RI Ditargetkan US$45 Miliar pada 2026, Agustus Capai US$25,96 Miliar

Ekspor Nikel RI Ditargetkan US$45 Miliar pada 2026, Agustus Capai US$25,96 Miliar Kredit Foto: Freepik/VecMes
Warta Ekonomi, Sanur, Bali -

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat nilai ekspor nikel Indonesia mencapai US$25,96 miliar atau sekitar Rp472 triliun hingga Agustus 2026. Pemerintah menargetkan nilai ekspor komoditas tersebut mencapai US$45 miliar sepanjang 2026.

Koordinator Kerja Sama dan Investasi Mineral dan Batu Bara (Minerba) Ditjen Minerba Kementerian ESDM Yan Abrar menyampaikan capaian tersebut dalam Indonesia-Korea Energy Forum (IKEF) di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu (28/10/2026).

“Sampai dengan Agustus 2026, nilainya mencapai sekitar 25,96 miliar dolar AS, hampir 26 miliar dolar AS,” ucap Yan.

Yan mengatakan peningkatan nilai ekspor tersebut menunjukkan bertambahnya nilai tambah nikel melalui program hilirisasi. Nilai ekspor nikel meningkat dari US$3,3 miliar pada 2017 menjadi US$40 miliar pada 2025.

“Untuk 2026, pemerintah menargetkan setidaknya 45 miliar dolar AS,” ujar Yan.

Selain peningkatan nilai ekspor, Yan menyebut produk nikel kelas 1 (*class-1 nickel*) Indonesia telah mendapatkan pengakuan dari London Metal Exchange (LME). Pengakuan tersebut menunjukkan produk hasil hilirisasi nikel Indonesia mampu memenuhi standar pasar internasional.

Pemerintah juga mendorong pengembangan rantai pasok untuk meningkatkan nilai tambah produk nikel. Yan memaparkan, nilai nikel sulfat mencapai 11,4 kali lipat dibandingkan bijih nikel. Nilai tersebut meningkat menjadi 19,4 kali lipat pada produk prekursor nikel, 37,5 kali lipat pada katoda nikel, dan 67,7 kali lipat pada sel baterai.

“Potensi nilai tambah nikel Indonesia menjadi jauh lebih besar ketika kami mengembangkan rantai pasok,” ucap Yan.

Baca Juga: LPEI Perluas Pasar Ekspor ke 90 Negara Lewat Program PKE

Baca Juga: HMA Kobalt Anjlok 30% Sejak Agustus, Nikel Ikut Turun

Menurut Yan, pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan ekspor produk mineral, tetapi juga membangun ekosistem industri yang terintegrasi dari pertambangan hingga pengolahan.

“Oleh karena itu, tujuan Indonesia bukan sekadar mengekspor lebih banyak produk mineral, melainkan membangun ekosistem yang terintegrasi dan kompetitif, mulai dari pertambangan hingga pengolahan,” kata Yan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra