Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Pabrik baterai milik PT Tynergy Technology Group di Wiraraja Industrial Park I, Batam, Kepulauan Riau, diklaim telah memasuki tahap penyelesaian akhir atau finishing. Proyek yang menyasar industri kendaraan listrik hingga penyimpanan energi tersebut menargetkan investasi tahap awal sebesar US$500 juta atau setara Rp9 triliun (kurs Rp18.000 per dolar AS).
Presiden Direktur PT Wiraraja Bintang Persada Akhmad Ma'ruf Maulana mengatakan pembangunan fasilitas tersebut hampir selesai. Pabrik itu diharapkan dapat dikunjungi pada April 2027.
"Pabriknya sebenarnya sudah selesai dan saat ini masih dalam tahap finishing. Insya Allah sekitar April tahun depan fasilitas tersebut sudah dapat dikunjungi. Kami juga akan mengundang Bapak Menteri untuk melihat langsung industri yang telah kami bangun," ujar Ma'ruf seusai penandatanganan kerja sama PT Tynergy Technology Group dan Wiraraja Group di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Kerja sama tersebut menargetkan investasi awal US$500 juta untuk pengembangan industri baterai dan teknologi energi terbarukan. Namun, nilai tersebut merupakan target investasi tahap awal, bukan angka realisasi dana yang telah dikonfirmasi.
Produk yang akan dikembangkan memiliki beragam aplikasi, mulai dari baterai kendaraan listrik, kebutuhan pusat data (data center), hingga sistem penyimpanan energi untuk pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.
Presiden Direktur PT Tynergy Technology Group Yan Purba mengatakan kerja sama ini menjadi tahap awal pengembangan industri teknologi energi di Indonesia. Pengembangan tersebut melibatkan Tynergy bersama mitra, termasuk Essence Global Indonesia dan Energy Tech Indonesia.
"Ini merupakan tahap awal untuk mengembangkan produk-produk energi terbarukan, baterai, serta teknologi yang mendukung kebutuhan data center. Mudah-mudahan kerja sama ini dapat berlanjut ke tahap kedua dan ketiga, termasuk untuk pengembangan industri semikonduktor," kata Yan.
Rencana pengembangan semikonduktor tersebut masih menjadi peluang untuk tahap lanjutan. Belum ada rincian mengenai nilai investasi, jadwal pembangunan, maupun kapasitas produksi untuk pengembangan tersebut.
Perkuat Industri Baterai Nasional
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut kesepakatan investasi Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada 18 Februari 2026 di Washington, D.C., dan disaksikan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, investasi ini dapat memperdalam struktur industri nasional, terutama pada sektor baterai dan teknologi penyimpanan energi.
"Selama ini kita sudah fokus mengembangkan industri baterai. Namun, pemanfaatannya sangat beragam, mulai dari mobil listrik, data center, hingga energi baru terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya. Kehadiran investasi ini akan semakin memperkuat kedalaman industri kita," ujar Sarmuji.
Dia mengatakan pemerintah akan mendukung kelancaran investasi, termasuk membantu menyelesaikan kendala yang berpotensi menghambat pelaksanaan proyek.
Baca Juga: Utilisasi Kawasan Industri RI Baru 57,2%, Kemenperin Cari Biang Keroknya
Baca Juga: Menperin Sentil Pembangunan Data Center, Jangan Sampai Serobot Air Warga!
"Kementerian Perindustrian akan mendukung setiap langkah pengusaha dan pelaku industri dalam mengembangkan kerja sama di Indonesia. Apabila terdapat kendala dalam proses investasi, kami siap membantu mengurai hambatan tersebut agar investasi dapat berjalan lancar," katanya.
Sarmuji juga menilai kerja sama tersebut menunjukkan minat investor terhadap pengembangan industri manufaktur Indonesia. Pemerintah berharap investasi di sektor baterai dapat memperkuat ekosistem industri nasional dan memperluas pemanfaatan teknologi penyimpanan energi.
Meski pembangunan pabrik disebut mendekati penyelesaian, sejumlah informasi penting terkait proyek tersebut belum diungkapkan, termasuk kapasitas produksi, target operasional komersial, jumlah tenaga kerja yang akan diserap, serta nilai investasi yang telah direalisasikan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan