Kredit Foto: REUTERS/Joa Souza
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyoroti perbedaan pandangan antara pelaku industri dan masyarakat terkait penyerapan tenaga kerja lokal. Menurut dia, industri bisa merasa telah memberikan kesempatan kerja, sementara masyarakat justru menilai manfaat tersebut belum dirasakan.
Perbedaan perspektif itu, menurut Sarmuji, perlu dipertemukan melalui komunikasi agar tidak terus menimbulkan persoalan.
"Kadang-kadang perspektif yang POV-nya beda. Point of view-nya kadang berbeda. Harus di industri merasa sudah. Sementara masyarakat merasa belum. Ini kan sesuatu yang harus dipertemukan," ujar Sarmuji di Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).
Dia menekankan pentingnya kesamaan pemahaman antara industri dan masyarakat. Dengan begitu, persoalan yang muncul dapat dibicarakan dan dicari jalan keluarnya.
"Penjelasan yang harus sama-sama satu frekuensi. Jangan sampai berbeda frekuensi. Kalau berbeda frekuensi, akan terus ada problem," katanya.
Pernyataan Sarmuji tersebut muncul di tengah persoalan penyerapan tenaga kerja lokal di pabrik mobil listrik BYD di Cipeundeuy, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Baca Juga: Pabrik BYD Berdiri di Subang, Warga Lokal Sulit Dapat Pekerjaan?
Baca Juga: BYD Pamer Teknologi Cas 5 Menit, Baterai Mobil Listrik Terisi hingga 70%
Baca Juga: Menanti Cukai 2027, Kemenperin Ungkap Strategi Industri Rokok
Sebelumnya, ratusan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Subang Bersatu (FMSB) menggelar demonstrasi dan memperkirakan penyerapan tenaga kerja asal Subang di pabrik tersebut masih di bawah 20%.
Warga meminta perusahaan memperluas kesempatan kerja bagi penduduk setempat. Mereka juga mendorong adanya dialog dengan pemerintah dan perusahaan untuk membahas kebutuhan tenaga kerja serta kompetensi yang diperlukan industri kendaraan listrik.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan