Situasi Makin Panas! Putin Deklarasikan Siap Perang Lawan Eropa
Kredit Foto: Reuters/Sputnik/Sergey Guneev
Putin Ancam Eropa: Rusia Siap Perang, Tak Akan Ada Pemenang!
Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan negara-negara Eropa bahwa Moskow siap menghadapi kemungkinan perang jika ketegangan dengan kawasan tersebut semakin meningkat. Meski mengaku tidak menginginkan konflik, Putin menegaskan Rusia akan merespons setiap ancaman yang muncul.
Pernyataan tersebut disampaikan Putin pada Kamis (29/10/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Rusia dan negara-negara Eropa akibat perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.
"Pertama-tama, kami siap, tetapi kami tidak menginginkan perang dengan Eropa. Jika ada yang menginginkannya, biarkan mereka bersiap. Namun, saat ini mereka belum mencapai tujuan untuk memberikan kekalahan strategis kepada Rusia," kata Putin, mengutip Independent, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Ia juga memperingatkan bahwa eskalasi konflik lebih jauh tidak akan memberikan keuntungan bagi pihak mana pun.
"Jika situasi berkembang terlalu jauh, tidak akan ada pemenang sama sekali. Jangan sampai ada yang melupakan hal itu," ujarnya.
Putin menyampaikan pernyataan tersebut setelah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre pada Selasa (27/10/2026).
Kedua pemimpin tersebut sebelumnya menggelar pembicaraan langsung dengan Putin untuk memengaruhi posisi Kremlin di tengah berlanjutnya konflik Ukraina. Perdana Menteri Norwegia menyebut diskusi tersebut berlangsung terbuka dan substantif, sekaligus menekankan pentingnya deeskalasi serta dukungan terhadap Ukraina.
Namun, komunikasi langsung tersebut menuai kritik dari sejumlah pemimpin Eropa. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan sejumlah pemimpin Nordik lainnya mengingatkan pentingnya menjaga kesatuan sikap Eropa dalam menghadapi Rusia.
Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson juga menyatakan sejumlah pemimpin Eropa lainnya tidak mendapatkan informasi mengenai pembicaraan tersebut.
Selain konflik Ukraina, Putin turut menyinggung situasi keamanan di Laut Baltik. Ia mengatakan Rusia tidak menginginkan adanya hambatan terhadap aktivitas pelayaran maupun komunikasi di kawasan tersebut.
Putin memperingatkan bahwa pembatasan jalur komunikasi dan pelayaran dapat memicu situasi serupa dengan kondisi di Selat Hormuz setelah konflik Amerika Serikat dan Iran pecah pada Februari 2026.
"Kami tidak menginginkan hal itu, tetapi kami akan merespons setiap tantangan," kata Putin.
Ketegangan Rusia dan Eropa juga berlangsung di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesiapan pertahanan negara-negara Barat. Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting sebelumnya memperingatkan bahwa Inggris harus bersiap menghadapi kemungkinan perang dalam 1.000 hari mendatang.
Dalam pernyataan yang dimuat The Telegraph, Streeting menyebut negara-negara yang menjadi lawan Inggris berpotensi siap melancarkan serangan terhadap negaranya pada 2030.
Di sisi lain, mantan Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves mendesak Uni Eropa mengambil alih aset Rusia senilai £175 miliar yang dibekukan untuk membantu pembiayaan pertahanan Ukraina.
Reeves menilai Uni Eropa perlu segera bertindak di tengah kebutuhan pendanaan Kyiv yang semakin besar dan tekanan diplomatik terhadap Ukraina untuk mencapai kesepakatan dengan Moskow.
Sementara itu, konflik di lapangan masih menimbulkan korban jiwa. Serangan pesawat nirawak bermesin jet Rusia menghantam dua kereta yang sedang berhenti di sebuah stasiun di wilayah Dnipro, Ukraina tengah, pada Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: 5 Negara Imbau Warganya untuk Siap-siap Perang! Logistik Darurat Jadi Sorotan
Baca Juga: Wanti-wanti Menhan Inggris: Bersiap untuk Perang Eropa dalam 1.000 Hari Lagi!
Otoritas Ukraina melaporkan sedikitnya 13 orang tewas dan 10 lainnya mengalami luka-luka. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam serangan tersebut sebagai tindakan mengerikan yang menyasar kereta penumpang.
Di tengah pertempuran yang masih berlangsung, Rusia dan Ukraina dilaporkan tetap mematuhi gencatan senjata di sekitar Kota Oleshky, wilayah selatan Ukraina yang diduduki Rusia, sejak Selasa.
Upaya gencatan senjata sebelumnya beberapa kali gagal atau hanya bertahan dalam waktu singkat. Hingga kini, perang yang dimulai melalui invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022 masih belum menunjukkan penyelesaian permanen.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: