Risiko Bencana Vulkanik Jadi Perhatian Industri, Indonesia Re Dorong Integrasi Mitigasi dan Perlindungan Asuransi
Kredit Foto: Istimewa
Indonesia Re melalui Indonesia Re Institute mendorong integrasi mitigasi bencana vulkanik dengan perlindungan finansial melalui asuransi dan reasuransi. Hal itu dibahas dalam webinar iLearn bertajuk “From Ash to Action: Building Preparedness and Insurance Resilience against Volcanic Disasters” pada Selasa (20/10), yang diikuti 681 peserta dari kalangan perusahaan asuransi, regulator, akademisi, dan masyarakat umum.
Forum tersebut mempertemukan perspektif vulkanologi, meteorologi, penanggulangan bencana, serta industri asuransi dan reasuransi. Pembahasan menyoroti dampak erupsi yang dapat meluas ke berbagai wilayah dan sektor, mulai dari transportasi, pariwisata, kesehatan, rantai pasok, hingga kegiatan usaha.
Gangguan penerbangan akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, yang berdampak pada rute penerbangan Bali, menjadi salah satu contoh dampak erupsi yang menjangkau wilayah jauh dari pusat kejadian.
Head of Client Market & Non-Marine Underwriting Division Indonesia Re, Rachim Chan, mengatakan pengelolaan risiko bencana perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Menurutnya, peran industri asuransi tidak hanya membayar klaim setelah bencana, tetapi juga mendukung pemahaman risiko, mitigasi, kesiapsiagaan, dan perlindungan finansial.
Webinar menghadirkan tiga narasumber, yakni Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Siti Sumilah Rita Susilawati, Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani, serta Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Udrekh.
Siti menjelaskan, Indonesia memiliki 127 gunung api aktif sehingga membutuhkan pemantauan berkelanjutan, sistem peringatan dini, serta pemanfaatan peta Kawasan Rawan Bencana sebagai dasar pengambilan keputusan. Abu vulkanik, katanya, dapat bersifat abrasif dan korosif, serta berpotensi merusak mesin dan peralatan, mengganggu penerbangan, membebani atap bangunan, dan menghentikan kegiatan operasional.
Informasi aktivitas gunung api dan data geospasial, lanjutnya, dapat dimanfaatkan industri asuransi untuk memperkuat proses underwriting, mengelola akumulasi risiko, serta mengembangkan produk perlindungan, termasuk asuransi parametrik.
Ida Pramuwardani menekankan bahwa sebaran abu vulkanik dipengaruhi kondisi atmosfer, termasuk arah dan kecepatan angin di berbagai lapisan. BMKG memanfaatkan informasi PVMBG, produk Volcanic Ash Advisory Centre Darwin, citra satelit Himawari-9, data observasi, dan model prediksi cuaca untuk memantau sebaran abu serta mendukung penerbitan informasi meteorologi bagi keselamatan penerbangan.
Ia juga menilai koordinasi antarlembaga diperlukan agar informasi teknis dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang cepat dan tepat. Pertukaran informasi antara lembaga teknis, pemerintah daerah, otoritas penerbangan, dan instansi terkait diharapkan menghasilkan data operasional serta pesan publik yang konsisten.
Sementara itu, Udrekh menyoroti perlunya pembaruan peta risiko dengan mempertimbangkan data historis, kondisi wilayah, tata ruang, serta potensi bahaya ikutan seperti lahar dan banjir bandang. Ia juga menekankan pengembangan sistem peringatan dini multibahaya, rencana kontingensi, simulasi, dan pembagian peran yang jelas antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Rachim mengatakan data kebencanaan dapat membantu industri asuransi mengidentifikasi wilayah dan kelompok terdampak, merancang cakupan perlindungan, serta menyiapkan mekanisme klaim yang objektif dan terverifikasi. Bagi reasuransi, integrasi data juga dapat memperkuat pemodelan risiko, pengelolaan portofolio, dan perencanaan kapasitas.
Indonesia Re menyatakan webinar tersebut merupakan bagian dari iLearn Program untuk memperkuat literasi risiko, kapabilitas industri, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam mendukung ketahanan bencana dan ekonomi nasional.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: