Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Re Tekankan Pentingnya Penguatan Reasuransi Nasional untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Indonesia Re Tekankan Pentingnya Penguatan Reasuransi Nasional untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re menegaskan penguatan kapasitas industri reasuransi menjadi fondasi penting dalam membangun industri asuransi nasional yang lebih sehat, tangguh, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya kompleksitas risiko.

Direktur Teknik Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, mengatakan reasuransi memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas industri perasuransian sekaligus menopang berbagai aktivitas ekonomi nasional.

"Reasuransi tidak lagi hanya berfungsi sebagai insurance for insurers. Reasuransi merupakan fondasi yang menjaga stabilitas industri perasuransian sekaligus mendukung aktivitas ekonomi nasional. Karena itu, penguatan kapasitas reasuransi menjadi kebutuhan strategis agar industri mampu menjawab tantangan pembangunan dan risiko yang terus berkembang," ujar Delil.

Menurut Delil, kebutuhan penguatan reasuransi semakin mendesak seiring munculnya berbagai risiko baru, mulai dari perubahan iklim, transformasi digital, hingga ancaman siber.

Di balik setiap polis asuransi yang dimiliki masyarakat, reasuransi berfungsi menjaga kemampuan perusahaan asuransi dalam memenuhi kewajiban pembayaran klaim bernilai besar. Melalui mekanisme pengalihan sebagian risiko, industri asuransi tetap mampu memberikan perlindungan terhadap proyek infrastruktur, kawasan industri, pembangkit listrik, hingga aset bernilai tinggi.

Indonesia Re menilai industri asuransi nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Salah satu indikatornya adalah tingkat penetrasi asuransi yang belum menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Delil, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kontribusi industri perasuransian terhadap perekonomian nasional masih dapat ditingkatkan melalui penguatan fondasi industri, peningkatan literasi, inovasi produk, dan perluasan akses perlindungan bagi masyarakat.

Pandangan tersebut sejalan dengan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perasuransian Indonesia 2023–2027 yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam peta jalan tersebut, penguatan kapasitas industri menjadi salah satu prioritas utama melalui peningkatan permodalan, tata kelola, digitalisasi, dan daya saing perusahaan asuransi maupun reasuransi.

Di tengah peluang pertumbuhan tersebut, Indonesia Re menilai industri reasuransi nasional masih menghadapi sejumlah tantangan struktural, terutama dari sisi permodalan dan daya saing internasional.

Delil menjelaskan, perusahaan reasuransi membutuhkan kapasitas keuangan yang kuat karena harus menanggung risiko dengan nilai besar dan tingkat volatilitas tinggi.

"Perusahaan reasuransi bertugas mengambil alih risiko-risiko yang lebih besar dan lebih volatil. Karena itu, secara natural kekuatan finansial perusahaan reasuransi juga semestinya lebih besar dibandingkan perusahaan asuransi," kata Delil.

Selain permodalan, perusahaan reasuransi juga dituntut memiliki portofolio bisnis yang terdiversifikasi secara geografis agar risiko tidak terkonsentrasi pada satu wilayah tertentu.

Indonesia Re terus melakukan transformasi melalui peningkatan kompetensi teknis, penguatan fungsi aktuaria, manajemen risiko, underwriting, serta pengembangan portofolio bisnis.

Perusahaan juga memperluas kerja sama dengan perusahaan reasuransi dan broker internasional sebagai bagian dari transfer pengetahuan dan penerapan praktik terbaik global.

Menurut Delil, perusahaan reasuransi saat ini tidak hanya dituntut memiliki kapasitas besar, tetapi juga kapabilitas yang kuat.

"Capability berarti memiliki kemampuan teknis, mulai dari pengembangan produk, inovasi, sampai membantu perusahaan asuransi mengelola portofolio risikonya secara lebih efektif," ujarnya.

Indonesia Re juga memperkuat sistem teknologi informasi melalui modernisasi pusat data, pengembangan Security Operations Center (SOC), peningkatan sistem keamanan siber, perlindungan data pribadi, serta optimalisasi Disaster Recovery Center (DRC).

Selain itu, perusahaan melanjutkan implementasi RIU Connect 2.0 dan memperkuat kualitas data guna mendukung penerapan PSAK 117 atau IFRS 17.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Cipto Hartono, menilai tantangan terbesar industri asuransi saat ini bukan hanya meningkatkan literasi masyarakat, tetapi juga membangun kembali kepercayaan publik.

"PR terbesar industri saat ini adalah trust issue. Beberapa kasus besar yang pernah terjadi membuat sebagian masyarakat kemudian mengeneralisasi seluruh industri asuransi," kata Cipto.

Indonesia Re menilai penguatan tata kelola, transparansi, dan kolaborasi seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus memperluas penetrasi asuransi nasional.

Delil juga menilai implementasi program asuransi wajib dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: