Hadapi Penolakan Publik, OpenAI Siapkan Strategi Baru untuk Data Center
Kredit Foto: Istimewa
OpenAI mulai mengubah pendekatan komunikasinya untuk meredam penolakan masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Salah satu strategi yang disiapkan perusahaan adalah mengganti istilah pusat data atau data center menjadi AI compute campuses atau kampus komputasi AI.
Perubahan istilah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap dampak lingkungan dan penggunaan sumber daya untuk mendukung operasional pusat data AI.
Mengutip Business Insider, juru bicara OpenAI menjelaskan bahwa istilah kampus komputasi dinilai lebih mampu merepresentasikan skala pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan untuk pengembangan teknologi AI.
“Kampus komputasi lebih tepat menggambarkan skala dan peran infrastruktur yang sedang kami bangun untuk kecerdasan buatan (AI),” ujar juru bicara OpenAI, dikutip Selasa (3/11/2026).
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur tersebut merupakan investasi jangka panjang yang tidak hanya berkaitan dengan kapasitas komputasi, tetapi juga mencakup energi dan pengembangan tenaga kerja terampil.
Upaya mengubah persepsi publik ini muncul setelah berbagai proyek pusat data AI menghadapi penolakan dari masyarakat. Survei Pew Research terbaru menunjukkan sebanyak 54% warga Amerika Serikat (AS) menilai keberadaan pusat data AI memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan teknologi yang tengah berlomba memperluas kapasitas infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan pengembangan AI.
Baca Juga: Telkom, Danantara, dan PLN Kolaborasi Kembangkan National AI Data Center Hub
Di sisi lain, OpenAI juga tengah mempersiapkan strategi komunikasi yang lebih luas untuk memengaruhi arah perdebatan mengenai AI di AS. Perusahaan berencana meluncurkan kampanye komunikasi berskala besar setelah pelaksanaan pemilihan paruh waktu atau midterm elections.
Kepala Urusan Global OpenAI, Chris Lehane, memandang pemilu paruh waktu tersebut sebagai gambaran awal mengenai isu-isu yang akan mendominasi kontestasi pemilihan presiden AS pada 2028. Ia memperkirakan AI akan menjadi salah satu topik utama dalam perdebatan politik mendatang.
Untuk membentuk arah diskusi tersebut, OpenAI tengah mempertimbangkan sejumlah usulan kebijakan dan pendekatan komunikasi. Beberapa di antaranya mencakup penerapan batas kecepatan pengembangan AI atau AI speed limits, memperkenalkan AI sebagai teknologi yang dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, serta mendorong AS mengambil peran dalam penyusunan standar AI global.
Persoalan infrastruktur juga menjadi bagian dari agenda komunikasi tersebut. Selain mengganti istilah pusat data, OpenAI berupaya mendorong pemahaman bahwa pembangunan fasilitas komputasi AI merupakan investasi yang melibatkan infrastruktur energi dan penciptaan lapangan kerja.
Penolakan terhadap pembangunan pusat data bahkan mulai memengaruhi pendekatan perusahaan teknologi lain dalam berhubungan dengan pemerintah daerah. Amazon dan Microsoft, misalnya, menyatakan tidak akan lagi menggunakan perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA) dalam proses negosiasi proyek pusat data dengan pemerintah setempat.
Meski demikian, Lehane menilai keterlibatan masyarakat dalam mempertanyakan pembangunan pusat data bukanlah sesuatu yang perlu dihindari. Menurutnya, pengawasan publik justru dapat mendorong perusahaan lebih bertanggung jawab dalam menjalankan proyek infrastruktur teknologi.
“Komunitas harus meminta perusahaan bertanggung jawab dan akuntabel sehingga mereka benar-benar mendapatkan manfaat transformatif dari proyek-proyek ini,” kata Lehane.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Istihanah
Tag Terkait: