Kredit Foto: Merlina Aryanti
PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) berhasil mencatatkan pertumbuhan bisnis pengelolaan kekayaan atau wealth management di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga Juni 2026, total dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) OCBC mencapai sekitar Rp374 triliun. Angka tersebut meningkat 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini menunjukkan semakin besarnya bisnis pengelolaan kekayaan OCBC, yang didukung oleh layanan konsultasi investasi secara personal, pengembangan layanan digital, serta pilihan produk keuangan yang semakin beragam bagi nasabah.
Dalam lembar fakta OCBC Outlook – ASEAN Opportunity: Business Growth & Wealth Expansion yang dirilis Selasa (3/11/2026), Wealth Management Advisory Head OCBC Indonesia, Diamond Stole menyebut Indonesia dan kawasan ASEAN masih memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang investasi jangka panjang.
Namun, menurutnya, peluang tersebut perlu diimbangi dengan perencanaan keuangan yang matang. Nasabah juga harus memiliki strategi investasi yang fleksibel agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi pasar dan kebutuhan finansial.
"Di OCBC, kami melihat potensi pertumbuhan Indonesia dan ASEAN sebagai peluang jangka panjang bagi nasabah untuk mengembangkan dan mengelola kekayaan (wealth management)," ujar Diamond di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Ia menambahkan, persiapan untuk memanfaatkan peluang investasi tersebut perlu dilakukan sejak dini melalui perencanaan yang tepat dan strategi yang bisa disesuaikan dengan perkembangan pasar.
Untuk memperluas layanan pengelolaan kekayaan, OCBC juga memanfaatkan platform digital melalui aplikasi OCBC Mobile. Nasabah dapat mengakses berbagai produk investasi, mulai dari reksa dana, obligasi, bancassurance, hingga tabungan emas.
Pada 2026, OCBC turut memperkenalkan fitur For Your Investment (FYI). Fitur ini dirancang untuk membantu nasabah menentukan pilihan investasi secara mandiri dengan mempertimbangkan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.
Meski peluang investasi di Indonesia dan ASEAN masih terbuka, investor tetap perlu mencermati berbagai risiko ekonomi global. Chief Economist & Head of OCBC Group Research, Selena Ling, mengingatkan bahwa sejumlah faktor dapat memengaruhi pergerakan pasar, mulai dari inflasi Amerika Serikat, kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed, hingga ketegangan geopolitik.
Perkembangan faktor-faktor tersebut berpotensi memengaruhi arus modal investasi dan biaya pendanaan di berbagai negara. Kendati demikian, OCBC masih memperkirakan ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar 5,2% sepanjang 2026.
Baca Juga: OCBC Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2% pada Akhir 2026
Baca Juga: OCBC Ramal The Fed Naikkan Bunga Desember, BI Menyusul?
Menghadapi kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, OCBC menyarankan investor untuk tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis instrumen investasi. Penyebaran investasi atau diversifikasi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kelas aset, sektor usaha, wilayah pasar, hingga mata uang.
Selain diversifikasi, investor juga perlu menjaga ketersediaan dana likuid dan melakukan evaluasi portofolio secara berkala. Langkah ini penting agar strategi investasi tetap sesuai dengan profil risiko, kebutuhan, serta target keuangan jangka panjang.
Dengan pertumbuhan AUM sebesar 13% dan total dana kelolaan yang mencapai Rp374 triliun, bisnis wealth management menjadi salah satu area yang terus dikembangkan OCBC. Perseroan berupaya menggabungkan layanan konsultasi investasi dengan kemudahan akses digital untuk menjawab kebutuhan nasabah dalam mengelola dan mengembangkan aset di tengah dinamika ekonomi global.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: