Portal Berita Ekonomi Jum'at, 21 Juli 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • 13:01 WIB. BBRI - Bank Rakyat Indonesia mengatakan prospek kredit tambang masih positif.
  • 12:58 WIB. RALS - Ramayana Lestari Sentosa berencana membuka gerai baru di Jatinegara pada September mendatang.
  • 12:56 WIB. AISA - Harga saham Tiga Pilar Sejahtera anjlok setelah ada kabar penjualan beras medium bersubsidi dengan harga premium.
  • 12:53 WIB. Sriwijaya Air - Sriwijaya Air resmi mengoperasikan pesawat ATR72-600 guna melayani dua rute penerbangan di Papua.
  • 12:52 WIB. Yellow Pages - Yellow Pages resmi meluncurkan otomasi digital marketing untuk UMKM.
  • 12:51 WIB. BMRI - Bank Mandiri mendukung pengembangan BUMDesa di wilayah Karawang, Jawa Barat.
  • 11:39 WIB. DIM - Danareksa Investment Management bakal merilis RDPT senilai Rp1 triliun untuk proyek Bandara Kertajati.
  • 11:38 WIB. UNTR - United Tractors menggelontorkan pinjaman kepada anak usaha sekitar Rp1,29 triliun per Juni 2017.
  • 11:20 WIB. HMD Global - Chief Executive Officer (CEO) HMD Global, Arto Nummela mengundurkan diri secara mendadak.
  • 11:05 WIB. MotoGP - Pembalap Ducati, Andrea Dovizioso ajukan keberatan soal aturan kualifikasi MotoGP.
  • 10:57 WIB. Liverpool - Barcelona ajukan penawaran US$80 juta untuk bintang Liverpool, Philipe Coutinho.
  • 10:53 WIB. Atrans - Arynto: Atrans betul-betul produk lokal, karya anak bangsa. Tidak ada investasi asing.
  • 10:51 WIB. Atrans - Arynto: Atrans punya fasilitas sewa berdasarkan waktu yang disebut Trans Hour Rent.

Analisis Dampak Kenaikan BBM

Foto Berita Analisis Dampak Kenaikan BBM

WE.CO.ID 

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tahun ini diperkirakan akan berkontribusi pada melonjaknya angka inflasi sehingga mengoreksi pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya akan mempengaruhi kinerja industri perbankan.

Asisten Deputi Gubernur BI Mulya Effendi Siregar menjelaskan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi akan menaikkan inflasi sehingga menaikkan biaya produksi sektor usaha (risiko kredit meningkat).

"Kenaikan harga BBM membuat risiko kredit meningkat, bank akan lebih berhati-hati melepas kredit," kata Mulya Effendi Siregar.

Mulya menjelaskan secara umum kenaikan harga BBM bersubsidi akan menambah beban biaya para debitur (peminjam kredit) bank.

Dengan bertambahnya beban biaya tersebut, menurut Mulya, kemampuan debitur dalam melunasi utang kepada bank akan semakin mengecil.

"Seumpamanya debitur itu pengusaha tempe, dengan kenaikan BBM ongkos-ongkos dia untuk beli ini itu, pergi ke mana, akan naik. Sehingga keuntungan dia jadi mengecil, dan kemampuan untuk melunasi utang menjadi lebih kecil, bank harus berhati-hati melepas kredit," kata dia.

Menurut Mulya, dengan kondisi ekonomi global yang masih bergejolak saja, pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK) dan kredit bermasalah ("non performing loan"/NPL) pada 2013 telah mengalami revisi.

Dengan gejolak krisis global yang belum pulih pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan berada di kisaran 21,7-23,6 persen pada akhir tahun ini, dari proyeksi sebelumnya di kisaran 22,5-24,3 persen.

Di sisi lain DPK diproyeksikan sebesar 17-17,9 persen dari sebelumnya 17,5-18,5 persen, dan NPL diperkirakan meningkat pada kisaran 1,6-2,1 persen dari proyeksi sebelumnya 1,5-2 persen.

Biaya perbankan meningkat Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengatakan rencana kenaikan harga BBM bersubsidi otomatis juga akan menaikkan inflasi, sehingga berdampak pada meningkatnya biaya perbankan.

"Secara jangka pendek pasti akan meningkatkan inflasi. Dan dampaknya pada meningkatnya biaya perbankan," kata Sigit.

Dia mengatakan belum menghitung secara pasti berapa kenaikan biaya perbankan yang akan disebabkan dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Termasuk terkait kemungkinan adanya koreksi terhadap penyaluran kredit dan rasio kredit bermasalah perbankan.

"Kami tidak memiliki kemampuan menghitung berapa tingkat inflasi yang disebabkan kenaikan harga BBM. Sehingga kami juga belum sampai ke tahap perhitungan adanya koreksi terhadap penyaluran kredit maupun NPL perbankan," ujar dia.

Meskipun kenaikan harga BBM bersubsidi akan berkontribusi pada inflasi, namun Sigit mengaku optimistis dampaknya secara jangka panjang akan baik bagi perekonomian nasional termasuk sektor keuangan.

"Kebijakan kenaikan harga BBM ini dampaknya secara jangka panjang akan baik. Ini dapat mengurangi beban subsidi pemerintah di sektor energi," ucapnya.

Menurut kepala ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto, kenaikan harga BBM Rp500 per liter akan meningkatkan inflasi 0,7 persen. Kenaikan inflasi akan diikuti dengan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) yang pada gilirannya akan direspon perbankan dengan kenaikan suku bunga dana (kenaikkan biaya bank).

"Kalau inflasi naik, maka BI Rate kemungkinan akan naik. Kalau sudah begitu nasabah perbankan akan meminta suku bunga simpanan naik juga, dan bank harus menaikkan suku bunga simpanan untuk mencegah nasabah menarik dananya," ujar Ryan.

Dia mengatakan dengan menaikkan suku bunga simpanan, bank harus berpikir ulang melakukan stabilisasi pengeluaran dan pendapatan. Sehingga bank akan ikut menaikkan suku bunga kredit untuk menjawab kenaikan suku bunga simpanan.

"Kalau suku bunga simpanan naik, maka otomatis suku bunga kredit harus naik juga agar stabil," kata dia.

Ryan mengatakan jika harga BBM naik dari Rp4.500 menjadi Rp6.000-Rp6.500, maka kontribusinya terhadap inflasi diperkirakan sebesar dua persen. Sehingga target inflasi 2013 yang ditargetkan sebesar 4,5 persen plus minus satu persen diperkirakan akan melonjak menjadi 5,5 persen hingga 6,5 persen.

"Dengan tingkat inflasi sedemikian lebih tinggi dari target, membuat daya beli masyarakat merosot tajam, daya beli buruh mungkin dapat terpangkas hingga 30 persen," ujar dia.

Meskipun kenaikan harga BBM diprediksikan menambah inflasi dua persen, namun dia menekankan bahwa kenaikan suku bunga kredit perbankan tidak akan serta merta mengikuti besaran kenaikan inflasi.

"Kenaikan suku bunga kredit tidak mesti mengikuti kenaikan inflasi sebesar dua persen. Perbankan itu menaikkan kredit hanya untuk stabilisasi atas biaya bunga simpanan yang meningkat," kata dia.

Lebih jauh Ryan mengatakan berdasarkan data yang dihimpun, meskipun kenaikan harga BBM bersubsidi naik, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan tetap berada di atas enam persen.

Menurut dia pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 6,3-6,8 persen, Bank Dunia 6,2 persen, Bank Pembangunan Asia (ADB) 6,4 persen, dan konsensus ekonom diperkirakan 6,0-6,4 persen.

"BNI sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 6,1-6,4 persen, namun analisis ini belum final, baru perkiraan awal," kata dia.

APBN harus sehat Pemerintah menyatakan kenaikan harga BBM bersubsidi diperlukan untuk menyehatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta meminimalkan jebolnya anggaran subsidi.

Pemerintah dalam APBN 2013 memberikan pagu belanja subsidi energi sebesar Rp274,7 triliun dengan perincian subsidi listrik Rp80,9 triliun dan subsidi BBM Rp193,8 triliun dengan volume sebesar 46 juta kiloliter.

Kuota volume BBM bersubsidi diprediksi dapat mencapai 53 juta kiloliter dan mengganggu fiskal, apabila tidak ada kebijakan yang memadai untuk mengendalikan konsumsi BBM, yang jumlahnya semakin meningkat setiap tahun.

Sempat bergulir sejumlah opsi pengendalian BBM dari pemerintah antara lain membatasi konsumsi BBM bersubsidi bagi mobil pribadi, kenaikan harga BBM bersubsidi sekaligus penyediaan BBM jenis baru seharga Rp7.000 per liter, kenaikan BBM Rp6.500-Rp7.000 per liter hanya bagi mobil pribadi, dan kenaikan BBM secara merata dengan kisaran harga di bawah Rp6.500 per liter.

Pemerintah sempat mengisyaratkan kecenderungannya mengambil kebijakan kenaikan BBM dengan harga di bawah Rp6.500 per liter yang berlaku bagi seluruh kendaraan sekaligus memberikan kompensasi kepada masyarakat miskin atas kenaikan harga tersebut.

Menurut Anggota Komisi XI DPR RI Maruarar Sirait, upaya menyehatkan APBN tidak harus dengan menaikkan harga BBM. Menurut dia masih ada opsi lain seperti meningkatkan efisiensi perjalanan dinas kementerian/lembaga (K/L) dan meningkatkan bea masuk sektor pertambangan.

"Sebaiknya harga BBM tidak naik. Masih ada cara lain untuk menghemat anggaran negara misalnya dengan meningkatkan efisiensi perjalanan dinas kementerian/lembaga dan bea masuk sektor pertambangan seperti batu bara," kata Maruarar.

Politisi PDIP itu mengatakan apabila pemerintah memperkitakan anggaran negara akan jebol sebesar Rp30 triliun tanpa kebijakan pengendalian BBM bersubsidi. Maka dengan melakukan peningkatan bea masuk sektor pertambangan batu bara, menurut dia potensi pendapatan negara bisa mencapai Rp48 triliun.

"Harus ada langkah instrumen fiskal untuk meningkatkan penerimaan negara. Peningkatan bea masuk dan efisiensi perjalanan dinas kementerian/lembaga itu bisa menutupi jebolnya anggaran akibat BBM, apalagi menurut audit Badan Pemeriksa Keuangan memang ada pemborosan di sektor itu," kata dia.

Kepala Ekonom Bni Ryan Kiryanto menambahkan, apabila upaya penyehatan APBN ditempuh dengan menaikkan harga BBM bersubsidi, maka pemerintah harus mewaspadai beberapa hal, antara lain, waktu kenaikan harga BBM yang harus tepat, mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi infrastruktur dan memperhatikan kepentingan masyarakat ekonomi bawah.

"Suka atau tidak suka, cepat atau lambat pemerintah harus berusaha semaksimal mungkin menyehatkan APBN. Tidak ada satu pun kebijakan yang bisa memuaskan banyak pihak," ujar dia.

Ryan mengatakan di sisi waktu, pemerintah harus menaikkan harga BBM bersubsidi pada bulan Mei di mana pada bulan ini tingkat inflasi masih tergolong rendah.

"Jika kenaikan setelah Mei, dampak kepada inflasi akan lebih berat serta penghematan akan kurang maksimal," kata dia.

Sementara itu pemerintah juga diminta mempercepat penyerapan anggaran belanja. Tujuannya agar ketika harga BBM naik pemerintah bisa membangun infrastruktur untuk mempermudah pelaku usaha menjalankan bisnis yang pada gilirannya akan mendorong perekonomian.

Pemerintah menurut dia, juga perlu memberikan perhatian kepada masyarakat ekonomi bawah. Salah satunya bisa dengan mengkomunikasikan kenaikan BBM bersubsidi dari sudut pandang masyarakat ekonomi bawah, sehingga masyarakat bisa mengerti pentingnya kenaikan harga BBM bersubsidi bagi APBN dan fiskal. (Antara)


Foto: SY

Penulis: ***

Editor: Muhamad Ihsan

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,571.05 3,534.37
British Pound GBP 1.00 17,368.17 17,186.40
China Yuan CNY 1.00 1,986.20 1,966.33
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,390.00 13,256.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,627.64 10,514.66
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,715.13 1,697.64
Dolar Singapura SGD 1.00 9,799.47 9,697.86
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,579.27 15,420.70
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,124.13 3,090.70
Yen Jepang JPY 100.00 11,971.39 11,848.41

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5825.208 18.518 558
2 Agriculture 1788.737 13.505 18
3 Mining 1476.890 7.291 44
4 Basic Industry and Chemicals 622.547 -0.749 67
5 Miscellanous Industry 1448.236 10.992 41
6 Consumer Goods 2518.016 15.644 45
7 Cons., Property & Real Estate 484.901 2.296 65
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1187.750 3.619 60
9 Finance 956.887 1.979 89
10 Trade & Service 916.105 -1.985 129
No Code Prev Close Change %
1 MABA 975 1,215 240 24.62
2 PALM 352 420 68 19.32
3 SIMA 580 690 110 18.97
4 TBMS 1,070 1,250 180 16.82
5 SQMI 510 585 75 14.71
6 BINA 1,100 1,250 150 13.64
7 AGRS 334 378 44 13.17
8 WICO 386 436 50 12.95
9 ARII 545 615 70 12.84
10 BBHI 222 250 28 12.61
No Code Prev Close Change %
1 HOME 298 224 -74 -24.83
2 IBST 2,600 2,000 -600 -23.08
3 MFMI 900 770 -130 -14.44
4 CNTX 700 600 -100 -14.29
5 MLPT 795 695 -100 -12.58
6 MREI 3,500 3,130 -370 -10.57
7 OKAS 83 75 -8 -9.64
8 SAFE 388 352 -36 -9.28
9 BMSR 130 119 -11 -8.46
10 GPRA 166 154 -12 -7.23
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 352 356 4 1.14
2 ADHI 1,955 2,180 225 11.51
3 INDY 885 945 60 6.78
4 WSBP 440 430 -10 -2.27
5 LEAD 65 64 -1 -1.54
6 PBRX 535 540 5 0.93
7 TLKM 4,600 4,630 30 0.65
8 ADRO 1,765 1,820 55 3.12
9 WIKA 1,975 2,010 35 1.77
10 BUMI 350 344 -6 -1.71

Recommended Reading