Kredit Foto: Cahyo Prayogo
Produksi industri manufaktur besar dan sedang Sumatera Utara pada 2016 turun 6,32 persen dibandingkan dengan periode sama pada 2015.
"Penurunan produksi terutama dialami industri minuman sebesar 21,19 persen,* kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Syech Suhaimi di Medan, Rabu (1/2/2017).
Pertumbuhan produksi pada kwartal IV 2016 itu juga turun 13,45 persen dibandingkan dengan kuartal III.
Selain industri minuman, beberapa jenis industri lainnya juga turun mulai industri kertas dan barang dari kertas sebesar 12,9 persen.
Selain itu, industri makanan turun 12,54 persen dan logam dasar 1,42 persen. "Syukur produksi industri manufaktur mikro dan kecil masih tumbuh," katanya.
Pada kuartal IV/2016 secara YoY produksinya meningkat 8,47 persen terutama di industri percetakan dan reproduksi media rekaman 34,53 persen.
Pengolahan tembakau naik 30,5 persen, karet dan barang dari karet 26,09 persen dan makanan 9,2 persen.
Sekretaris Asosisi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut Laksamana Adiyaksa, menyebutkan pertumbuhan industri manufaktur bergantung pada ketersediaan energi.
Di Sumut, pasokan energi masih terbatas sehingga tidak heran kalau industri manufaktur masih melambat bahkan mengalami penurunan.
"Kalau sampai saat ini, listrik masih 'byar pet' dan gas masih juga susah dan mahal tentunya masih akan mengancam perlambatan pertumbuhan," kata Laksamana.
Padahal, katanya, industri manufaktur berperan besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. (Ant)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Vicky Fadil
Tag Terkait: