Kredit Foto: KITB
Bencana banjir di sejumlah wilayah Sumatera menahan penciptaan nilai tambah manufaktur nasional pada kisaran Rp11–15 triliun, terutama akibat gangguan rantai pasok dan distribusi antardaerah. Dampak tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat memimpin rapat perdana Kementerian Perindustrian tahun 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2025).
Agus menjelaskan, tekanan terhadap kinerja manufaktur tidak semata-mata berasal dari kerusakan fasilitas produksi di wilayah terdampak, melainkan lebih besar dipicu oleh terhambatnya arus bahan baku, input antara, dan logistik industri. Dengan menggunakan pendekatan kebijakan berbasis pangsa nilai tambah, banjir dinilai menunda kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional dalam jangka pendek.
“Nilai tersebut merupakan nilai tambah yang hilang atau tertunda sementara, bukan kerusakan permanen terhadap kapasitas industri nasional,” ujar Agus.
Baca Juga: Kemenperin Perkuat Pengawasan Dukung Implementasi SBIN
Menurutnya, dampak paling cepat dirasakan oleh subsektor yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi regional. Industri agro, makanan dan minuman, kimia dasar, serta industri berbasis komoditas menjadi kelompok yang paling rentan terhadap gangguan logistik akibat terputusnya jalur transportasi dan keterlambatan pasokan.
Agus menekankan, besaran nilai tambah yang tertahan tidak sepenuhnya sebanding dengan skala industri di wilayah terdampak. Sumatera memiliki posisi strategis sebagai simpul logistik nasional dan pemasok input antara bagi kawasan industri di wilayah lain, termasuk Pulau Jawa. Ketika distribusi dari satu wilayah terganggu, tekanan tersebut menyebar ke pusat-pusat produksi lain dan menekan output manufaktur secara agregat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan industri nasional tidak hanya ditentukan oleh lokasi pabrik, tetapi juga oleh kekuatan infrastruktur pendukung dan konektivitas antardaerah.
“Bencana harus dipahami sebagai supply-side shock yang dampaknya cepat menyebar dan berpotensi menahan pemulihan ekonomi jika tidak ditangani secara terkoordinasi,” kata Agus.
Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), struktur industri di wilayah Sumatera tergolong besar dan beragam. Di Sumatera Utara, tercatat 3.520 industri kecil, 115 industri menengah, dan 490 industri besar. Sementara itu, Sumatera Barat memiliki 3.464 industri kecil, 17 industri menengah, dan 78 industri besar. Adapun di Aceh, terdapat 1.954 industri kecil, 7 industri menengah, dan 46 industri besar.
Baca Juga: Menperin Paparkan Arah Pengembangan Industri ke Depan
Dari laporan yang dihimpun hingga 30 Desember 2025, dampak banjir paling signifikan pada sektor industri kecil dan menengah (IKM) terjadi di Aceh, dengan 1.647 industri terdampak. Di Sumatera Barat, tercatat 367 industri terdampak, sedangkan di Sumatera Utara sebanyak 52 industri.
“Selain itu, terdapat pula dampak pada sektor industri agro, ILMATE, serta industri kimia, farmasi, dan tekstil,” ujar Agus.
Kementerian Perindustrian mencatat, penahanan nilai tambah ini bersifat sementara dan sangat bergantung pada kecepatan pemulihan infrastruktur, distribusi logistik, serta koordinasi lintas sektor untuk memulihkan kelancaran arus barang antarwilayah industri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Fajar Sulaiman
Advertisement