Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Gegara Presiden Sering Dihina, Rizal Ramli: Lebih Baik Jokowi Legowo Mundur

        Gegara Presiden Sering Dihina, Rizal Ramli: Lebih Baik Jokowi Legowo Mundur Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pakar Ekonomi Rizal Ramli blak-blakan meminta Joko Widodo (Jokowi) mundur dari presiden. Sebab, Jokowi sering dihina di media sosial dan sudah tidak dihormati sebagai presiden. Setelah pernyataan Rizal Ramli itu, Tagar Menteri Pecatan langsung beredar di Twitter. Bahkan, tagar tersebut sempat trending. Berdasarkan penelusuran, tagar tersebut ditunjukan kepada Rizal Ramli.

        Bahkan, menurutnya, Kepala Negara sering dilecehkan dijadikan bahan ledekan.

        "Jadi memang kita barangkali mesti mikir dan mungkin kasih nasihat baik-baik sama Pak Jokowi. Mungkin lebih baik kalau Pak Jokowi legowo mundurin diri," jelas Rizal Ramli.

        Baca Juga: Komunitas Jokpro 2024 Bikin Panas, Dengan Lantang Anggota DPR RI: Pak Jokowi Jangan Diam Saja!

        Ada rasa kasihan yang dirasakan Rizal Ramli ke rakyat Indonesia. Ada juga rasa kasihan ke Presiden Jokowi lantaran jadi bahan ledekan.

        "Sekarang media sosial enggak simpati lagi sama dia. Beda sama awal-awal dia jadi presiden," tambah dia.

        Tak hanya Presiden Jokowi yang dikritik Rizal Ramli, Ekonom senior ini juga mengkritik alasan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bergabung dengan pemerintahan Presiden Jokowi. Padahal, menurut Rizal Ramli, bahwa pengabdian kepada negara tetap bisa dilakukan, walaupun berada di kubu oposisi.

        Merespons hal tersebut, akademisi politik Philipus Ngorang mengatakan pernyataan yang dikatakan Rizal Ramli itu tidak terlalu benar. Pasalnya, pemilu adalah persaingan perorangan, bukan pertarungan ideologi.

        "Pemilu itu adalah persaingan capres, bukan persaingan ideologi. PDIP dan Partai Gerindra itu secara ideologi hampir sama," ujar Philipus Ngorang kepada GenPI.co, beberapa waktu lalu.

        Oleh karena itu, Ngorang menilai bahwa PDIP dan Partai Gerindra tak perlu berada dalam barisan yang berseberangan atau beroposisi. Sebab, apa yang dilakukan oleh PDIP kemungkinan sejalan dengan visi dan misi Partai Gerindra.

        "Apa yang dilakukan oleh Jokowi pun juga sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Partai Gerindra," ungkapnya.

        Pengajar di Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie itu mengatakan bahwa suatu pihak menjadi oposisi jika memiliki pandangan berbeda dengan pemerintah yang sedang berkuasa.

        "Apakah Rizal Ramli bisa melihat perbedaan pandangan antara PDIP dengan Partai Gerindra? Jadi, tidak perlu Prabowo berdiri sebagai oposisi," katanya.

        Walaupun begitu, Ngorang tak menampik jika ada sebagian kelompok dengan ideologi tertentu yang menunggangi Prabowo.

        "Mereka menjadi penunggang gelap dan menginginkan Prabowo menang demi kepentingan kelompok tersebut. Namun, Partai Gerindra sendiri memiliki visi misi yang tak jauh berbeda dengan PDIP," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Fajria Anindya Utami

        Bagikan Artikel: