Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukit Asam Targetkan Produksi DME 1,4 Juta Ton

Bukit Asam Targetkan Produksi DME 1,4 Juta Ton Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memacu realisasi proyek strategis hilirisasi dengan target kapasitas produksi Dimethyl Ether (DME) sebesar 1,4 juta ton per tahun. Proyek raksasa yang dijadwalkan memasuki fase kepastian konstruksi pada 2027 ini diproyeksikan bakal menyerap sedikitnya 6,9 juta ton batubara kalori rendah per tahun sebagai bahan baku utama.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan proyek coal-to-DME ini merupakan pilar utama dalam peta jalan (roadmap) transformasi perseroan menuju perusahaan energi kelas dunia pada 2030. Langkah ini dirancang untuk menciptakan nilai tambah (value added) yang signifikan pada cadangan batubara kalori rendah perseroan yang melimpah.

“Di mana di dalam prosesnya nanti kami tentunya dibutuhkan untuk melakukan utilisasi batubara sebesar 6,9 juta ton batubara yang kalorinya kami asumsikan kalori rendah dengan kapasitasnya nanti yang kita hasilkan 1,4 juta ton DME,” ungkap Arsal dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, dikutip Minggu, (5/4/2026).

Arsal memerinci, perseroan telah menetapkan roadmap yang terukur untuk mengeksekusi proyek ini. Fase penjajakan mitra teknologi dan investor potensial akan diintensifkan pada tahun 2026. Selanjutnya, emiten pertambangan anggota grup MIND ID ini menargetkan kepastian eksekusi fisik atau awal pembangunan dapat dimulai pada 2027.

“Tahun 2026 sedang penjajakan (mitra), 2027 paling tidak sudah ada kepastian untuk memulai proyek ini,” tegas Arsal merujuk pada lini masa pengembangan usaha perseroan.

Dalam struktur  proyek, PTBA bakal bertindak sebagai penyokong pasokan batubara sekaligus operator pabrik. Sementara itu, untuk memastikan kepastian penyerapan hasil produksi atau offtake, perseroan bersinergi dengan PT Pertamina (Persero).

“Dalam skema ini nantinya PTBA tentunya sebagai operator pabrik sekaligus coal supply dan nantinya bekerja sama dengan Pertamina yang akan menjadi offtaker dari DME yang kami hasilkan,” jelasnya.

Baca Juga: PTBA Minta Tambang Ilegal Diberantas dan Evaluasi Kebijakan DMO

Baca Juga: Laba PTBA Ambles 43% di 2025 Imbas Pelemahan Harga Batu Bara

Kendati memiliki fundamental cadangan batu bara yang kuat, Arsal menggarisbawahi bahwa keberhasilan hilirisasi batubara menjadi DME sangat bergantung pada dukungan regulasi dan insentif dari pemerintah. Hal ini krusial untuk memastikan nilai keekonomian proyek tetap kompetitif dibandingkan dengan harga LPG impor.

Perseroan secara spesifik mengharapkan dukungan legislatif dalam mendorong kebijakan insentif fiskal, keringanan pajak (tax holiday/allowance), kemudahan perizinan, hingga prioritas akses infrastruktur pendukung dan fasilitas pembiayaan investasi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement