Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pertamina EP Sukowati Tepis Keraguan terhadap Pertanian Organik

        Pertamina EP Sukowati Tepis Keraguan terhadap Pertanian Organik Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Pertamina EP Sukowati Field di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mengembangkan program inovasi sosial Prabu Kresna, yang merupakan akronim dari Petani Rahayu Bersatu Kreatif Sehat dan Sejahtera. Program ini awalnya ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, yang kemudian dikembangkan menjadi upaya budidaya pertanian organik.

        Prabu Kresna dimulai pada 2021, saat ada 980 keluarga yang kesulitan air bersih. Kekeringan bukan barang baru di desa itu. Mayoritas petani masih menggunakan sistem tadah hujan sebelum adanya program irigasi. Tak hanya mengalami kekeringan, petani Rahayu kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi bagi petani setelah pemerintah pusat memangkas alokasi anggaran subsidi pupuk. Ketergantungan terhadap pupuk kimia membuat ongkos operasional meningkat, karena petani harus menebusnya dengan harga mahal di pasaran.

        Kegagalan panen terjadi pada 2022-2023. Diperkirakan 60 persen petani di desa itu mengalami gagal panen. Sekalipun ada yang berhasil panen, terjadi penurunan kuantitas hingga 250 - 300 kiligram per hektare setiap tahun. Situasi diperparah oleh rendahnya pemahaman petani terhadap kualitas lahan dan pengendalian hama. Akibatnya 130 buruh tani di Desa Rahayu rentan miskin karena kegagalan panen itu.

        PEP Sukowati membangun tiga sumur bor dan berhasil menjadi solusi bagi akses air bersih. Keberhasilan tersebut dilanjutkan dengan pemetaan solusi untuk persoalan pertanian itu. Amarullah, Officer Comm. Relations & CID Zona 11 mengatakan pertanian organik menjadi solusi yang bisa diintegrasikan dengan program air bersih.

        Menjadikan pertanian organik sebagai solusi bukannya tanpa alasan. Berdasarkan kajian tim PEP Sukowati Field, Desa Rahayu memiliki sejumlah potensi untuk mendukung program tersebut. Selain memiliki lahan pertanian seluas 102 hektare, ada 50 ton limbah kotoran ternak yang tak termanfaatkan setiap bulan.

        Selain itu bahan organik seperti jerami dan hijauan mudah ditemui. Sementara volume air tanah yang menjadi cadangan irigasi pertanian di Rahayu mencapai 764.692.702,48 meter kubik. Instalasi air bersih juga sudah tersedia.

        PEP Sukowati bekerja keras dalam program pertanian organik ini. "Mengubah mindset petani tak gampang. Apalagi petani di Desa Rahayu mayoritas lanjut usia. Sulit memberi pemahaman baru mengenai budaya pertanian," kata Amarullah.

        Perusahaan kemudian menempatkan sejumlah pendamping pertanian di tengah-tengah warga. Mereka tinggal di Desa Rahayu selama satu tahun ini, berbaur dengan warga desa. 

        PEP Sukowati membentuk tiga kelompol kerja berbasis kewilayahan dengan nama Antasena, akronim dari Anggota Tani Sehat dan Sejahtera, yang bertugas menyiapkan pupuk organik dan mikroorganisme lokal (MOL) untuk penanaman padi metode SRI.

        PEP Sukowati mendirikan tiga rumah kompos untuk tiga kelompok kerja itu. Rumah Kompos ini tidak terbatas untuk produksi dan transaksi tapi juga sebagai wadah belajar bersama, pusat kegiatan kelompok Antasena. Tiap Rumah Kompos dikelola bersama oleh anggota kelompok dengan penanggung jawab di tiap kegiatan produksi, transaksi, dan administrasi. Setiap anggota kelompok bisa mendapatkan pupuk organik siap pakai dengan menukarkan limbah organilk yang menjadi bahan baku pembuatan kompos.

        PEP Sukowati juga membuat demplot dan menerapkan sistem pengendalian hama berbasis metode biologis, memanfaatkan limbah dan mengendalikan hama keong untuk diubah menjadi bahan nutrisi pertanian. Sekolah lapang menjadi tempat belajar bagi petani.

        Semula hanya 30 orang petani yang tertarik mengikuti pelatihan. "Yang ikut latihan tidak sampai setengahnya. Mulanya kami diledek, karena mayoritas petani di sini tidak percaya metode pertanian organik akan berhasil," kata Amarullah.

        Namun petani mulai berminat setelah model pertanian organik tersebut menghasilkan padi lebih banyak daripada dengan pola konvensional, yakni 6 - 9 ton per hektare berbanding 3 ton per hektare. Biaya produksinya juga lebih murah, yakni Rp 7,5 juta per musim tanam berbanding Rp 8,5 juta per musim tanam.

        Lebih ringannya biaya operasional tak lepas dari pemenuhan komponen pupuk. Petani membutuhkan 0,6 - 1 ton pupuk kimia per musim tanam yang harus dibeli di kios dengan harga ratusan ribu. Sementara untuk pertanian organik dibutuhkan 5-6 ton pupuk kompos yang dproduksi sendiri.   

        Jumlah petani yang ikut pun bertambah besar. Jumlah lahan pertanian tiga Antasena pun sudah mencapai 3.3 hektare. "Saat ini Rumah Kompos masih difokuskan untuk anggota kelompok Antasena. Namun ke depan saat anggota kelompok sudah mandiri dalam produksi pupuk organik, jangkauan Rumah Kompos mencakup para petani masyarakat di luar kelompok," kata Amarullah. Sebelum itu, PEP Sukowati akan memfasilitasi petani untuk mengurus izin edar pupuk organik tersebut.

        Keberhasilan di sektor pertanian diikuti dengan dampak yang tak terduga, yakni membaiknya hubungan dan kohesivitas sosial di desa itu. Sebelumnya, hubungan antarpetani dan kelompok tani di Rahayu agak kurang harmonis karena masalah pengaturan air irigasi. "Kami biasa dibuat kalah-kalahan. Sekarang sudah tidak lagi," kata Sutikno.

        Kini PEP Sukowati membidik misi baru, yakni regenerasi petani. "Kami  membuat program hidroponik pertanian melon dalam rumah hijau (green house) untuk mengembangkan minat bertani anak-anak muda di desa tersebut. Targetnya, program ini mulai beroperasi pada Desember 2023," kata Amarullah. 

        Sutikno, Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Rahayu, bersyukur dengan keberhasilan itu. "Sebetulnya pertanian organik hanya berat pada awalnya saja, yakni untuk membawa kotoran hewan dari rumah ke sawah, butuh biaya dan tenaga sangat besar. Tapi musim selanjutnya tak seberat sebelumnya," kata Sutikno. Pupuk organik yang dibutuhkan masing-masing musim berikutnya terus berkurang dan biaya angkut pun main ringan. Apalagi kehadiran rumah kompos membuat pemenuhan pupuk organik lebih praktis.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: