Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Siam Cement Group (SCG) Indonesia memproyeksikan penguatan volume produksi semen pada 2026 dengan mengandalkan penetrasi produk semen rendah karbon (low carbon cement). Strategi ini ditempuh untuk memangkas emisi karbon sekaligus menjadi katalis peningkatan produksi di tengah transisi industri menuju praktik berkelanjutan.
President Director PT Siam Cement Group (SCG) Pattaraphon Charttongkum mengatakan perusahaan tetap menjaga level produksi semen sembari mempercepat peralihan ke produk ramah lingkungan. Menurutnya, pengembangan semen rendah karbon menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang perusahaan.
“Kami tetap menjaga level produksi untuk bisnis semen, dan kami juga terus mengembangkan semen rendah karbon (low carbon cement). Produk ini merupakan salah satu produk unggulan (flagship) kami untuk mendukung ketersediaan produk ramah lingkungan di Indonesia,” ujar Pattaraphon dalam SCG New Year Appreciation Lunch di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Baca Juga: SCG Perkuat Cengkeraman di RI Lewat Semen Rendah Karbon
Terkait proyeksi pertumbuhan produksi, Pattaraphon menyatakan optimisme seiring bertambahnya kemitraan strategis di berbagai proyek pembangunan. Ia menilai peluang kerja sama tersebut dapat mendorong peningkatan volume produksi pada 2026.
“Untuk persentasenya saya tidak ingat angka pastinya, tapi saya rasa setidaknya tetap terjaga. Jika kami berhasil mengambil lebih banyak peluang melalui kerja sama di beberapa proyek, kami tentu bisa meningkatkan volume produksi semen kami,” tambahnya.
Saat ini, SCG menguasai pangsa pasar semen nasional sekitar 5%. Meski secara nasional terlihat moderat, perusahaan memiliki posisi yang kuat di wilayah Jawa Barat. Dominasi tersebut ditopang oleh keberadaan pabrik PT Semen Jawa yang berlokasi di Sukabumi.
“Tergantung produknya. Tapi untuk semen, kurang lebih sekitar 5% untuk keseluruhan Indonesia. Namun, jika hanya untuk Jawa Barat, angkanya jauh lebih besar dari itu. Karena Indonesia sangat luas, maka pangsa pasar secara nasional mungkin terlihat kecil,” jelas Pattaraphon.
SCG menegaskan fokus perusahaan saat ini adalah memenuhi permintaan domestik yang dinilai masih sangat besar. Oleh karena itu, perusahaan belum merencanakan ekspor dari fasilitas produksi di Indonesia.
Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Beri Pinjaman Rp2 Miliar ke Anak Usaha
Strategi pengembangan semen rendah karbon turut ditopang oleh optimalisasi penggunaan energi hijau. Berdasarkan data internal perusahaan, PT Semen Jawa telah meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif (alternative fuel) hingga 30% pada 2023. Persentase tersebut ditargetkan meningkat menjadi 50% pada 2028 melalui pemanfaatan Refuse Derived Fuel(RDF) dan biomassa, seperti sekam padi dan serpihan kayu.
Penguatan strategi tersebut didukung oleh kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam pembangunan Cimenteng RDF Sorting Plant. Fasilitas ini diproyeksikan mampu mengolah 200 ton sampah rumah tangga per hari menjadi 100 ton RDF sebagai bahan bakar pengganti batu bara.
“Sebenarnya pada prosesnya kami mencoba mengurangi emisi. Kita tahu proses produksi semen menghasilkan banyak karbon, jadi kami berupaya memperbaiki proses produksi agar polusi berkurang. Setiap pengurangan emisi sesuai dengan kondisi dunia saat ini yang menuju tren hijau atau ESG,” pungkas Pattaraphon.
Hingga kini, SCG mencatat telah mereduksi emisi karbon sebesar 200.000 ton CO₂ dalam empat tahun terakhir, setara dengan penanaman 400.000 pohon. Upaya transisi energi ini sejalan dengan target perusahaan untuk menurunkan emisi sebesar 25% pada 2030 dan mencapai Net Zero pada 2050.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: