Kredit Foto: Ida Umy Rasyidah
Nama Bakrie Group kembali menjadi perbincangan hangat di pasar modal pada awal 2026. Setelah bertahun-tahun identik dengan restrukturisasi dan tekanan utang, saham-saham emiten di bawah kelompok usaha ini justru mencatatkan reli tajam, dengan kenaikan harga ratusan persen dalam kurun satu tahun terakhir.
Penguatan paling mencolok terlihat pada saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), hingga PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Lonjakan tersebut menandai perubahan persepsi investor terhadap grup yang pernah menjadi simbol krisis korporasi nasional pasca-2008.
Dari Dagang Hasil Bumi ke Konglomerasi
Sejarah Bakrie Group bermula pada 1942, ketika Achmad Bakrie mendirikan CV Bakrie & Brothers General Merchant and Commission Agent di Lampung. Berawal dari perdagangan hasil bumi seperti karet, lada, dan kopi, usaha ini berkembang menjadi konglomerasi lintas sektor manufaktur, energi, pertambangan, properti, infrastruktur, kendaraan listrik hingga media.
Puncaknya, PT Bakrie & Brothers Tbk melantai di bursa pada 1989, menandai transformasi dari usaha keluarga menjadi konglomerasi publik. Ekspansi agresif berlanjut pada era 1990-an hingga awal 2000-an, terutama di sektor energi dan sumber daya alam.
Namun krisis keuangan global 2008 menjadi titik balik. Tekanan utang memaksa grup melakukan divestasi aset dan restrukturisasi besar-besaran. Sejak itu, Bakrie Group memasuki fase panjang konsolidasi.
Saham Bakrie Terbang: Siapa Paling Gila?
Memasuki 2025 hingga awal 2026, saham-saham Bakrie kembali menarik minat investor. Data perdagangan menunjukkan:
•VKTR terbang 925% dari 122 ke 1.200 per saham.
•BNBR melonjak 505,26% dalam satu tahun, dari 26 ke 260 per saham.
•ENRG melesat 523,98%, dari 246 ke 1.535 per saham.
•DEWA naik 593,69%, dari 111 ke 770 per saham.
•VIVA mencatat kenaikan 842,86%, dari 8 ke 66 per saham.
•MDIA melesat 816,67%, dari 13 ke 110 per saham sebelum disuspensi.
•BUMI menguat 247,9%, dari 119 ke 414 per saham.
•BRMS naik 227,5%, dari 400 ke 1.310 per saham.
•UNSP melonjak 390,2%, dari 102 ke 500 per saham.
•ELTY menguat 464,29%, dari 14 ke 79 per saham.
•ALII naik 174,46%, dari 370 ke 1.010 per saham.
Kinerja tersebut terjadi di tengah meningkatnya minat investor terhadap sektor energi, mineral, dan komoditas, sekaligus diiringi aksi korporasi dan restrukturisasi yang lebih disiplin.
BUMI dan Masuknya Modal Strategis
Sorotan utama tertuju pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Masuknya Grup Salim melalui Mach Energy Hongkong Limited sebagai pemegang saham strategis menjadi katalis penting. Berdasarkan data KSEI per akhir Desember 2025, Mach Energy menguasai 45,78% saham BUMI, belum termasuk kepemilikan afiliasi lain.
Perubahan struktur pemegang saham tersebut diperkuat oleh kehadiran investor institusional global seperti China Investment Corporation, UBS, Vanguard, dan Dimensional Fund Advisors. Kombinasi modal domestik dan asing ini mendorong narasi transformasi BUMI dari sekadar emiten batu bara menjadi pemain energi regional yang lebih terdiversifikasi.
Pada perdagangan awal 2026, investor asing mencatatkan beli bersih sekitar Rp1,06 triliun, dengan BUMI menjadi salah satu saham tujuan utama.
Peta Kerajaan Bakrie di Bursa
Di luar BUMI dan BRMS, Bakrie Group masih memiliki jajaran emiten aktif di BEI, antara lain:
•VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR): Kendaraan listrik & manufaktur EV
•Bakrie & Brothers (BNBR) – holding lintas sektor.
•Energi Mega Persada (ENRG) – migas hulu di Indonesia dan Mozambik.
•Darma Henwa (DEWA) – kontraktor pertambangan.
•Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) – agribisnis sawit dan karet.
•Bakrieland Development (ELTY) – properti dan superblok.
•Visi Media Asia (VIVA) dan Intermedia Capital (MDIA) – media penyiaran.
•Graha Andrasentra Propertindo (JGLE) – taman hiburan dan properti rekreasi.
•Ancara Logistic Indonesia (ALII) – jasa logistik dan transhipment.
Sebagian saham masih menghadapi tantangan likuiditas dan suspensi, seperti BTEL dan MDIA, mencerminkan bahwa pemulihan Bakrie Group tidak berlangsung seragam.
Anindya Bakrie Sang Penerus
Di balik fase baru ini, peran generasi penerus menjadi krusial. Anindya Novyan Bakrie kini memimpin Bakrie & Brothers sebagai CEO, sekaligus mengarahkan grup ke sektor berorientasi masa depan seperti kendaraan listrik, energi terbarukan, baterai, dan investasi digital.
Dengan 10 perusahaan tercatat di BEI dan kapitalisasi pasar gabungan dilaporkan melampaui US$15 miliar, Bakrie Group kembali menjadi entitas yang relevan dalam lanskap korporasi nasional. Namun pasar kini menuntut lebih dari sekadar reli harga saham—keberlanjutan kinerja operasional dan disiplin keuangan menjadi ujian berikutnya.
Reli saham ratusan persen menandai kebangkitan persepsi. Tantangan selanjutnya adalah membuktikan bahwa lonjakan tersebut bukan sekadar euforia siklus, melainkan cerminan transformasi bisnis yang benar-benar mengakar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: